Label

Tampilkan postingan dengan label SUAMI ISTRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUAMI ISTRI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2018

HUKUM SUMPAH SUAMI KPADA ISTRI

KESIMPULAN TEAM MUSYAWWIRIN DHF
HUKUM SUMPAH SUAMI KPADA ISTRI
====================
PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Izin bertanya
Deskripsi Masalah
Seorang suami pernah berjanji/bersumpah kepada istrinya bahwa akan jujur dalam hal keuangan bahkan tidak sepeser pun dari penghasilannya yang tidak dilaporkan kepada sang istri (disetorkan).
Ternyata dalam perjalanan keluarga ternyata sang suami beberapa kali menyembunyikan sebagian uang untuk keperluannya sendiri. Seperti organisasi atau memberi orang tuanya, yang dikenal dengan "duit lanang"
Sedangkan keperluan dapur sudah terpenuhi.
Pertanyaan :
Adakah kewajiban bagi suami untuk melaporkan keuangan pada istri?
Bolehkah sang suami melanggar sumpah dengan menyimpan uang tanpa sepengetahuan istri?
Adakah konsep pengelolaan keuangan keluarga yang ideal menurut pandangan Islam?

JAWAB:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

👉Sub A:

Tidak wajib bagi suami mlaporkan keuwangan nya kepada istri

Karna wajib nya suami adalah mnafkahi istri dan itu sudah terpenuhi,

Namun jujur dlm segala hal itu sangat di anjurkan, terlebih dalam urusan rumah tangga.
Demi menjaga keharmonisan rumah tangga itu sendiri.

👉Sub B:

Tidak boleh mlanggar sumpa kecuali untuk ketentuan ketentuan yang d perbolekan nya.
“Para ulama sepakat bahwa penyebab pelanggaran sumpah adalah menyalahi ikatan sumpah. Praktiknya bisa jadi seseorang melakukan tindakan yang harus dihindari dalam sumpahnya. Atau sebaliknya, ia tidak melakukan tindakan yang justru dituntut dalam sumpahnya sendiri.”

Dlm kasus di atas, uang suami adalah haq nya sendiri sehingga ia berhak mentasarrufkan uang (harta) nya utk apa saja tanpa hrus izin kepada istri, selama oentasarrufan tersebut di jalan yg benar (bukan utk maksiat).

👉Sub C:

tidak ada konsep hukum pengelolaan keuwangan smua d kembali kan kepada yang bersangkutan /
Adat/kebiasaan itu bisa dijadikan standart hukum,

Dan istri tidak berhak menunutut suami utk menyetorkan semua gajinya, atau utk memberi tahu semua penghasilan nya.

Akan tetapi tetap konsep dalam rumah tangga jujur ,saling terbuka dan saling menghargai adalah konsep yg sangat ideal.

📚REFERENSI:

👉Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz 2, Halaman 378, Darul Kutub al-Ilmiyah, Beirut).

📔 عَلَى أَنَّ مُوجِبَ الحِنْثِ هُوَ المُخَالَفَةُ لِمَا انْعَقَدَتْ عَلَيْهِ اليَمِيْنُ وَذَلِكَ إِمَّا فِعْلُ مَا عَلَى حَلْفِ أَلَّا يَفْعَلَهُ وَإِمَّا تَرْكُ مَا حَلَفَ عَلَى فِعْلِه

📔فائدة : قال (ق ل) : الحقوق الواجبة للزوج على زوجته أربعة : طاعته ، ومعاشرته بالمعروف ، وتسليمها نفسها إليه ، وملازمة المسكن ، والواجبة لها عليه أربعة أيضاً : معاشرتها بالمعروف ، ومؤنها ، والمهر ، والقسم. اهـ . بغية المسترشدين -- (ص ٤٤٩ )المكتبة الشاملة

📔(فَإِنْ حَلَفَ عَلَى) ارْتِكَابِ (مَعْصِيَةٍ) كَتَرْكِ وَاجِبٍ عَيْنِيٍّ وَلَوْ عَرَضًا وَفِعْلِ حَرَامٍ (عَصَى) بِحَلِفِهِ (وَلَزِمَهُ حِنْثٌ وَكَفَّارَةٌ) لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ «مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ» وَإِنَّمَا يَلْزَمُهُ الْحِنْثُ إذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ طَرِيقٌ سِوَاهُ وَإِلَّا فَلَا كَمَا لَوْ حَلَفَ لَا يُنْفِقُ عَلَى زَوْجَتِهِ فَإِنَّ لَهُ طَرِيقًا بِأَنْ يُعْطِيَهَا مِنْ صَدَاقِهَا أَوْ يُقْرِضَهَا ثُمَّ يُبَرِّئَهَا لِأَنَّ الْغَرَضَ حَاصِلٌ مَعَ بَقَاءِ التَّعْظِيمِ

📔(أَوْ) عَلَى تَرْكِ أَوْ فِعْلِ (مُبَاحٍ) كَدُخُولِ دَارٍ وَأَكْلِ طَعَامٍ وَلُبْسِ ثَوْبٍ (سُنَّ تَرْكُ حِنْثِهِ) لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ اسْمِ اللَّهِ تَعَالَى نَعَمْ إنْ تَعَلَّقَ بِتَرْكِهِ أَوْ فِعْلِهِ غَرَضٌ دِينِيٌّ كَأَنْ حَلَفَ أَنْ لَا يَأْكُلَ طَيِّبًا أَوْ لَا يَلْبَسُ نَاعِمًا فَقِيلَ يَمِينٌ مَكْرُوهَةٌ وَقِيلَ يَمِينُ طَاعَةٍ اتِّبَاعًا لِلسَّلَفِ فِي خُشُونَةِ الْعَيْشِ وَقِيلَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِ النَّاسِ وَقُصُودِهِمْ وَفَرَاغِهِمْ لِلْعِبَادَاتِ قَالَ الشَّيْخَانِ وَهُوَ الْأَصْوَبُ

[ والله اعلم بالصواب ]

Diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Kamis, 29 Maret 2018

HUKUM ISTRI MEMINTA TOLONG KEPADA SUAMI

KESIMPULAN TEAM DHF
HUKUM ISTRI MEMINTA TOLONG KEPADA SUAMI
===================

⏩ PERTANYAAN
Assalamualaikum
Mohon dijawab apakah berdosa jikalau istri meminta suami untuk memijatnya...
Terimakasih

⏩ JAWABAN

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

👉Kalau hanya minta tolong pada suami hukumnya boleh, tapi bila banyak nyuruh-nyuruh suami hingga menyakiti hati suami maka tidak boleh, apalagi bila berakibat suami sampai marah. Sebaiknya jangan menyuruh suami, tapi dengan cara minta tolong dengan kata-kata yang sopan.

👉Imam Abu Tsaur mengatakan, Suami harus melayani istrinya dalam segala sesuatu.

✒Keterangan, Dari Aswad, ia berkata, Aku bertanya kepada Sayyidah Aisayh, apa yang dilakukan oleh Rasulullah dirumah?
Beliau menjawab, Rasulullah (dirumah) melayani kebutuhan keluarganya, dan ketika masuk waktu shalat, berliau berwudlu' dan pergi mengerjakan shalat. Dst...

👉Dalam sebuah hadits terdapat keterangan  anjuran tawadlu', meninggalkan sifat takabbur, dan melayani istri

📚 REFERENSI

📓تعليق المجموع شرح المهذب : (427/16)

وقال أبو ثور: على الزوجة أن تخدم الزوج في كل شئ

📓تفسير الخازن : (324/4)

عن الأسود قال «سألت عائشة ما كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يفعل في بيته؟ قالت: كان يكون في مهنة أهله فإذا حضرت الصلاة يتوضأ ويخرج إلى الصلاة» المهنة الخدمة عن عبد الله بن الحارث بن جزء

📓فتح الباري : (163/2)

وَفِيهِ التَّرْغِيبُ فِي التَّوَاضُعِ وَتَرْكِ التَّكَبُّرِ وَخِدْمَةُ الرَّجُلِ أَهْلَهُ

📓الموسوعة الفقهية الكويتية :

يجب على المرأة معاشرة الزوج بالمعروف من كف الأذى وغيره، كما عليه معاشرتها بالمعروف، لقوله عليه الصلاة والسلام: «لا تؤذي امرأة زوجها في الدنيا إلا قالت زوجته من الحور العين: لا تؤذيه، قاتلكِ الله، فإنما هو عندكِ دخيل، يوشك أن يفارقك إلينا» (٣) وقال صلّى الله عليه وسلم: «ما تركت بعدي فتنة هي أضر على الرجال من النساء» (٤).

والله أعلم بالصواب
http://Diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Jumat, 23 Maret 2018

DOSAKAH ISTRI YANG TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA

KESIMPULAN TEAM DHF
DOSAKAH ISTRI YANG TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA
_____________________________

Assalamualaikum ustadz mau tanya jika mengurus rumah tangga sperti memasak nyuci piring d ngasuh anak adalh tugas suami tp biasanya itu semua d ktakn tanggung jawab istri,seandainya ad istri yg tdk mau melakukan y dosakah dia apa masih termasuk istri yg taat? Terima kasih.

##########
JAWABAN
وعليكم سلام

KESIMPULAN:

✅Pekerjaan rumah tangga spt menyapu, memasak dan mencuci menurut mayoritas ulama' (Syafi'iyah,Hanabilah dan sebagian Malikiyah) bukan kewajiban istri.

✅sdgkan menurut Hanafiyah pekerjaan2 spt di atas adalah kewajiban seorang istri,

✅sedangkan menurut mayoritas Malikiyah pekerjaan dalam rumah spt menyapu, memasak dan mencuci dll adalah kewajiban istri sdgkan pekerjaan diluar rumah adalah kewajiban suami. :

*TAMBAHAN PENJELASAN*
**********
Sebagaimana penjelasan di hasyiah jamal.

Wajibkah
Seorag suami mmberi tau bhw pekejaan rumah yg pd umum ny di kerjakan olh seorg istri, sperti masak, nyapu, nyuci dll bhw hal itu hakekatnya adalh kewajiban suami.

Dalm hal ini scr dhohir  wajib bagi suami mmberi tau bhw pekrjaan itu bukan keajiban istri, krn jk tdk di beri tau istri akan mengira bhw hal itu adlh kewajiban nya sehingga ia akan berpikir apabila tdk mngeejakan itu tdk wajib di nafkahi.

Sehingga ia pun melakukan nya dgn kterpaksaan. Krn adanya anggapan ia wajib di nafkahi lantarab ia mlkukan pkerjaan rumh tersbut.

👉Hal2 tersbut trjdi akibat jarangnya di bahas dan di tanyakn.

***********
Dlm almausu'atul fiqhiyah

✍Ulama tdk ada peebedaan tentang kebolahan tolong menolong, bantu membantu slm suami istri bahkan hal itu sangat di anjurkan.

✅Kmudian apakah wanita wajib mmbantu pekejaan suami sprti masak nyuci dan lain2....???

⚫Mnrut jumhur madzhab syafiiyah,hambali dan sebagian ulama madzhab malikiyah tdk wajib bagi istri mmbantu pekerjaan suami ttapi membantu suami lebih utama sbagaimana adanya adat kebiasan masyarakat umum nya.

🔴Adapun madzhab hanafiyah menghukumi wajib bagi istri mmbantu pkerjaan2 suami tersebut.
Olh karena itu tdk bolh bagi istri mminta upah de pkerjaan masak,nyuci nyapu dll.

🔵Kemudian menurt jumhur ulama.madzhab malikiyah , dan imam abu tsauri, imam Abu Bakar bin Abi syiibah, dan imam Abu Ishaq al_jarjaniy
juga berpendapat bhw bagi istri wajib mmbantu pekerjaan suami yg bersifat batiniyah sbagaimana adnya adat umum nya.

Hal ini berdasarkan hadist yg meng qisahkan tentang saidina Ali dan siti fatimah putri Rasulallah yg mna Rasulallah memutuskan kpeda putri nya utk berkhidmah dlm pekrjaan rumah dan di.luar rumah.

*********
Jadi secara garis besar ada dua kubu pndapat tentang wajib nya istri membantu pkerjaan suami.

✅Yg pertama tdk wajib bahkan jika se andainya meminta gaji pada suami atas pekerjaan rumah itu maka suami wajib mmberi gaji pd istri.

👉Dan seandainya istri tdk.melakukan pekrjaan rumah tersebut tdk tergolong nusyuz yg dapat mnggugurkan nafkah.
Sehingga bagi suami tdk boleh marah2, tdk boleh memaksa istri tdk boleh membenci istri krn hal tersebut.
Krn itu sudh mnjdi resiko suami dan merupakan tanggung jawab sepenuh nya bagi suami.

✍Hal ini se imbang dengan kewajiban ketaatan istri terhadap suami.
Yang mana istri wajib taat dan patuh atas segala printah2 suami selama bukan perkara maksiat.

👉Istri tdk boleh bermuka masam.
👉Tdk boleh menolak ajakan suami.
👉Tdk boleh bernada nyaring
Dll

✒Sehingga kendati hukum asal pkerjaan rumah bukan lah kewajiban istri akan tetapi jika suami menyuruh nya maka menjdi hukum wajib bagi istri utk taat terhadap perintah suami tersebut (bukn sbb kewajiban dasar dr mengerjakan pkerjaan rumah tersebut, ttp.bedasar wajib nya melakukan  ketaatan terhadap suami).

⚫Hikmah nya:
Suami tdk boleh semena2 memaksakan kehendak sehingga seakan2 menumpuhkan semua pekejaan rumah pada istri yg seakan2 itu adlh kewajiban istri.

✍Suami tidk berhak marah apalagi mmbenci istri sbb tdk melakukan pkerjaan rumah.

👉Namun sebalik nya  istri haruslah faham dan nngerti serta sigap utk mmbantu beban suami.
Jangan mntang2 itu bukan lah kewajibannya kmudian mnjdi lalai dan bermalas2an.
Krn suami istri sll di tuntut utk saling mmbantu.

**********
✅Adapun pendapt kedua:
Menghukumi wajib bagi istri mmbntu pekrjaan suami
Sebagaimana yg telah di contohkan olh siti aisyah terhadap syaidina Ali.

✍Secara garis besar dr dua pendapt tersebut adalh sama hanya sj pendapat pertama lbh menjaga agar suami tdk lepas tanggung jwab begitu saja.
👉Sehingga dapat memaklumi dan mesti faham manakala istri sibuk atau dlm keadaan sakit.

👉Krn seandainya di hukumi wajib mka istri kan sll berdosa saat tdk memasak nyapu atu nyuci dll saat sibuk dgn suatu pkerjaan lain.

👉Sebagaimana berdosa istri menolak saat di ajak berhubungan intim.

👉Krn dlm sesibuk apapapun sprti sbb berkerja dll, (wajib menghentikan pekrjaan nya)  kcuali yg mmng dilegalkn syara' istri berdosa menolak nya.

📚REFRENSI:
📗حاشية الجمل ٤/٤٨٩
.فرع : وقع السؤال في الدرس هل يجب على الرجل إعلام زوجته بأنها لا تجب عليها خدمة مما جرت به العادة من الطبخ والكنس ونحوهما مما جرت عادتهن أم لا ؟ وأجبنا بأن الظاهر الأول لأنها إذا لم تعلم بعدم وجوب ذلك ظنت أنه واجب وأنها لا تستحق نفقة ولا كسوة إن لم تفعله فصارت كأنها مكرهة على الفعل و مع ذلك لو فعلته ولم يعلمها فيحتمل أنه لا يجب لها أجرة على الفعل لتقصيرها بعدم البحث والسؤال عن ذلك. ع ش على م ر .

📗الموسوعة الفقهية ٢٩/٤٥

خدمة الزوجة لزوجها و عكسه : لا خلاف بين الفقهاء في أن الزوجة يجوز لها أن تخدم زوجها في البيت سواء أكانت ممن تخدم نفسها أو ممن لا تخدم نفسها إلا أنهم اختلفوا في وجوب هذه الخدمة فذهب الجمهور الشافعية والحنابلة و بعض المالكية إلى أن خدمة الزوج لا تجب عليها لكن الأولى لها فعل ما جرت العادة به، و ذهب الحنفية إلى وجوب خدمة المرأة لزوجها ديانة لا قضاء___ولهذا فلا يجوز للزوجة عندهم أن تأخذ من زوجها أجرا من أجل خدمتها له، وذهب جمهور المالكية وأبو ثور و أبو بكر بن أبي شيبة وأبو إسحاق الجرجاني إلى أن على المرأة خدمة زوجها في الأعمال الباطنة التي جرت العادة بقيام الزوجة بمثلها لقصة على وفاطمة رضي الله عنها حيث إن النبي صلى الله عليه وسلم قضى على ابنته فاطمة بخدمة البيت .و على علي بما كان خارج البيت من الأعمال.

*************

wallahu'alam bishawab
Https://diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Senin, 04 Desember 2017

HUKUM BERSETUBUH DENGAN MENGGUNAKAN KONDOM (PASANGAN SUAMI ISTRI)

KESIMPULAN TEAM DHF

HUKUM BERSETUBUH DENGAN MENGGUNAKAN KONDOM (PASANGAN SUAMI ISTRI)
-----------------------------

📄 Pertanyaan:

Assalmualaikum ane mau tanya
Selama menikah suami istri selalu mengunakan kondom ketika berjimak kemudia istrinya hamil dan melahirkan anak
Bagaimana status perwaliyan bayi ini

📋Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pemakaian kondom tidak menjamin untuk tidak bisa hamil

Bisa jadi kondom yang di pakai bocor,hingga sperma masuk ke rahim dan terjadi lah pembuahan

Mengenai masalah nasab anak yang lahir dari persetubuhan dengan menggunakan kondom maupun ‘azl maka dalam hal ini ada baiknya kita baca hadits Nabi:

عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنَّ لِي جَارِيَةً، هِيَ خَادِمُنَا وَسَانِيَتُنَا، وَأَنَا أَطُوفُ عَلَيْهَا، وَأَنَا أَكْرَهُ أَنْ تَحْمِلَ، فَقَالَ: اعْزِلْ عَنْهَا إِنْ شِئْتَ، فَإِنَّهُ سَيَأْتِيهَا مَا قُدِّرَ لَهَا ، فَلَبِثَ الرَّجُلُ، ثُمَّ أَتَاهُ، فَقَالَ: إِنَّ الْجَارِيَةَ قَدْ حَبِلَتْ، فَقَالَ: قَدْ أَخْبَرْتُكَ أَنَّهُ سَيَأْتِيهَا مَا قُدِّرَ لَهَا

Dari Jabir: Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Saya memiliki seorang budak perempuan yang bekerja melayani dan menyirami tanaman kami, saya sering menidurinya, akan tetapi saya tidak ingin jika dia hamil”. Lantas beliau bersabda: "Jika kamu mau, lakukanlah ‘azl, namun begitu, Allah akan mendatangkan apa yang telah ditakdirkan”. Tidak lama kemudian, laki-laki itu datang kepada Nabi lalu berkata: “Budak perempuan itu telah hamil”. Lantas beliau bersabda: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa Allah akan mendatangkan apa yang telah ditakdirkan”. (Shahih Muslim juz 2 hal. 1064 no. 1439).


🖊Jadi Apabila seorang suami memiliki istri atau budak wanita maka ia (istri) menjadi alasnya, lalu melahirkan anak sesuai masa imkan (anak lahir di atas enam bulan setelah persetubuhan yang sah) maka anak dinasabkan kepada suami, jadilah ia seorang anak yang berlaku hukum waris diantara keduanya (suami istri) dan lainnya dari hukum-hukum sebab kelahiran, baik si anak cocok dengan suami dalam hal kemiripan ataupun berbeda".

🖋Persetubuhan dengan menggunakan kondom di dalam ilmu fiqih termasuk kategori hukum ‘azl atau persetubuhan dengan mengeluarkan sperma di luar liang senggama (vagina). Penggunaan kondom dapat dikategorikan ke dalam hukum ‘azl sebab kondom dapat mencegah sperma tertumpah ke dalam rahim. Dalam hal ini Imam Nawawi juga memberikan penjelasan:
Bahwa nasab anak tersebut di ilhaqkan, (dihubungkan nasab nya) kepada org tua nya, degan demikian tetap berhak hak waris dan perwalian nya.

Kecuali Yaqin  bahwa suami tdk menjima' istrinya, atau menjima' tapi di anus (dzubur) nya sehingga sangat tdk.memungkinkan sperma masuk ke dlm rahim maka hal itu jelas anak tersebut  tdk di ilhaqkan (nasab nya tdk disandarkan) kepada org tua nya.

📚 REFERENSI:

📖 Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 10 hal. 37

إذا كان للرجل زوجة أو مملوكة صارت فراشا له فأتت بولد لمدة الإمكان منه لحقه الولد وصار ولدا يجري بينهما التوارث وغيره من أحكام الولادة سواء كان موافقا له في الشبه أم مخالفا

📖 Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 10 hal. 10

قوله صلى الله عليه وسلم (لا عليكم ألا تفعلوا ما كتب الله خلق نسمة هي كائنة إلى يوم القيامة إلا ستكون) معناه ما عليكم ضرر في ترك العزل لأن كل نفس قدر الله تعالى خلقها لابد أن يخلقها سواء عزلتم أم لا وما لم بقدر خلقها لا يقع سواء سواء عزلتم أم لا فلا فائدة في عزلكم فإنه إن كان الله تعالى قدر خلقها سبقكم الماء فلا ينفع حرصكم في منع الخلق

📖 Syarh an Nawawiy 'ala Muslim juz 10 hal. 13

قوله صلى الله عليه وسلم للذي أخبره بأن له جارية يعزل عنها (إن شئت ثم أخبره أنها حبلت) إلى آخره فيه دلالة على إلحاق النسب مع العزل لأن الماء قد سبق وفيه أنه إذا اعترف بوطء أمته صارت فراشا له وتلحقه أولادها إلا أن يدعي الاستبراء وهو مذهبنا ومذهب مالك

📖 Tuhfatul Muhtaj juz 8 hal. 215

ولو وطئ وعزل حرم) النفي (على الصحيح) ؛ لأن الماء قد يسبقه ولا يشعر به ولو كان يطأ فيما دون الفرج بحيث لا يمكن وصول الماء إليه لم يلحقه أو في الدبر تناقض فيه كلامهما والأرجح أنه لا يلحقه أيضا وليس من الظن علمه من نفسه أنه عقيم على الأوجه

📖 Al Fiqh 'ala Madzahib al Arba'ah juz 5 hal. 188

فإن تيقن أنه ليس منه، بأن لم يكن وطئها الزوج، أو وطئها لكنها أتت به لأقل من ستة أشهر من وقت الوطء، أو لأكثر من أربع سنين يجب عليه القذف، ونفي الولد باللعان، لأنه ممنوع من استلحاق نسب الغير، كما هو ممنوع من نفي نسبه، كما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (أيما امرأة أدخلت على قوم من ليس منهم فليست من الله، ولن يدخلها الله حنته،) فما حرم على المرأة أن تدخل على قوم من ليس منهم كان الرجل أيضاً كذلك. أما إن احتمل أن يكون منه بأن أتت به لأكثر من ستة أشهر من وقت الوطء، ولدون أربع سنين، نظر، إن لم يكن قد استبرأها بحيضة، أو استبرأها وأتت به لدون ستة أشهر، من وقت الاستبراء، لا يحل له القذف والنفي، وإن اتهمها بالزنا

https://diskusihukumfiqh212.blogspot.com

[ والله اعلم بالصواب ]

Jumat, 20 Oktober 2017

DOSAKAN ISTRI YANG TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA

KESIMPULAN TEAM DHF
DOSAKAH ISTRI YANG TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA
_____________________________

Assalamualaikum ustadz mau tanya jika mengurus rumah tangga sperti memasak nyuci piring d ngasuh anak adalh tugas suami tp biasanya itu semua d ktakn tanggung jawab istri,seandainya ad istri yg tdk mau melakukan y dosakah dia apa masih termasuk istri yg taat? Terima kasih.

##########
JAWABAN
وعليكم سلام

Pekerjaan rumah tangga spt menyapu, memasak dan mencuci menurut mayoritas ulama' (Syafi'iyah,Hanabilah dan sebagian Malikiyah) bukan kewajiban istri, sdgkan menurut Hanafiyah pekerjaan2 spt di atas adalah kewajiban seorang istri, sedangkan menurut mayoritas Malikiyah pekerjaan dalam rumah spt menyapu, memasak dan mencuci dll adalah kewajiban istri sdgkan pekerjaan diluar rumah adalah kewajiban suami. :

.فرع : وقع السؤال في الدرس هل يجب على الرجل إعلام زوجته بأنها لا تجب عليها خدمة مما جرت به العادة من الطبخ والكنس ونحوهما مما جرت عادتهن أم لا ؟ وأجبنا بأن الظاهر الأول لأنها إذا لم تعلم بعدم وجوب ذلك ظنت أنه واجب وأنها لا تستحق نفقة ولا كسوة إن لم تفعله فصارت كأنها مكرهة على الفعل و مع ذلك لو فعلته ولم يعلمها فيحتمل أنه لا يجب لها أجرة على الفعل لتقصيرها بعدم البحث والسؤال عن ذلك. ع ش على م ر . حاشية الجمل ٤/٤٨٩
خدمة الزوجة لزوجها و عكسه : لا خلاف بين الفقهاء في أن الزوجة يجوز لها أن تخدم زوجها في البيت سواء أكانت ممن تخدم نفسها أو ممن لا تخدم نفسها إلا أنهم اختلفوا في وجوب هذه الخدمة فذهب الجمهور الشافعية والحنابلة و بعض المالكية إلى أن خدمة الزوج لا تجب عليها لكن الأولى لها فعل ما جرت العادة به، و ذهب الحنفية إلى وجوب خدمة المرأة لزوجها ديانة لا قضاء___ولهذا فلا يجوز للزوجة عندهم أن تأخذ من زوجها أجرا من أجل خدمتها له، وذهب جمهور المالكية وأبو ثور و أبو بكر بن أبي شيبة وأبو إسحاق الجرجاني إلى أن على المرأة خدمة زوجها في الأعمال الباطنة التي جرت العادة بقيام الزوجة بمثلها لقصة على وفاطمة رضي الله عنها حيث إن النبي صلى الله عليه وسلم قضى على ابنته فاطمة بخدمة البيت .و على علي بما كان خارج البيت من الأعمال. الموسوعة الفقهية ٢٩/٤٥


*************
Seandainya istri tdk mau melakukanya dst....

Perlu di garis bawahi walaupun pekerjaanya itu bukan kewajibanya seorang istri tidaklah boleh sang istri semena-mena dengan suaminya Karna kewajiban seorang istri untuk mentaati suaminya sangat tegas dinyatakan dalam agama Islam. Hal ini tertuang dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud

***********
Seorang istri yang suka membantu pekerjaan suaminya di dalam rumah tangganya seperti mencuci sangatlah banyak pahalanya
Di ceritakan dari ibnu mas ud ,Rosulillah bersabda :
عن ابن مسعود عن النبي عليه السلام قال : إذا غسلت المرأة ثياب زوجها كتب الله لها ألفي حسنة وغفر لها ألف سيئة واستغفر لها كل شيء طلعت عليه الشمس ورفع لها ألفي درجة
seorang istri yang mencuci pakaian suaminya alloh mencatat baginya dua ribu kebajikan dan di ampuni seribu kejelekan nya(dosanya kepada alloh )dan masih di bacakan istigfar oleh semua yang terkena sinar matahari,dan masih di angkat dua ribu derajat di sisi alloh.
Wallahu'alam

***********
Apakah dgn adanya hadis di atas, gugurlah kewajiban suami?

Tetap tidak gugur.. Namun apa yang kita bahas di atas hanyalah bilakalau kita bicara tentang hak dan kewajiban antara suami isteri secara hitam dan putih. Tanpa melihat sisi-sisi lain seperti pertimbangan moral, etika dan hubungan sosial. Akan tetapi hubungan suami isteri tidak mungkin selamanya hanya didasarkan pada hubungan hukum hitam putih yang kaku. Tentu ada sisi-sisi lain sepeti aspek rasa cinta, saling memiliki, saling tolong, saling merelakan hak dan saling punya keinginan untuk membahagiakan pasangannya. Sehingga seorang isteri yang pada dasarnya tidak punya kewajiban atas semua hal itu, dengan rela dan ikhlas melayani suaminya, belanja untuk suami, masak untuk suami, menghidangkan makan di meja makan untuk suami, bahkan menyuapi makan untuk suami kalau perlu. Semua dilakukannnyasemata-mata karena cinta dan sayangnya kepada suami. Dengan semua hal itu, tentunya isteriakan menerima pahala yang besar dari apa yang dikerjakannya. Karena dengan bantuannya itu, suami akan menjadi senang dan ridha kepadanya.

*TAMBAHAN PENJELASAN*
**********
Pertama yg di hasyiah jamal.

Wajibkah
Seorag suami mmberi tau bhw pekejaan rumah yg pd umum ny di kerjakan olh seorg istri, sperti masak, nyapu, nyuci dll bhw hal itu hakekatnya adalh kewajiban suami.

Dalm hal ini scr dhohir  wajib bagi suami, suami mmberi tau bhw pekrjaan itu bukan keajiban istri, krn jk tdk di beri tau istri akan mengira bhw hal itu adlh kewajiban nya sehingga ia akan berpikir apabila tdk mngeejakan itu tdk wajib di nafkahi. Sehingga ia pun melakukan nya dgn kterpaksaan. Krn adanya anggapan ia wajib di nafkahi lantarab ia mlkukan pkerjaan rumh tersbut.

Hal2 tersbut trjdi akibat jarangnya di bahas dan di tanyakn.

***********
Dlm almausu'ah

Ulama tdk ada peebedaan tentang kebolahan tolong menolong, bantu membantu slm suami istri bahkan hal itu sangat di anjurkan.

Kmudian apakah wanita wajib mmbantu pekejaan suami sprti masak nyuci dan lain2.

Mnrut jumhur madzhab syafiiyah,hambali dan sebagian ulama madzhab malikiyah tdk wajib bagi istri mmbantu pekerjaan suami ttapi membantu suami lebih utama sbagaimana adanya adat kebiasan masyarakat umum nya.

Adapun madzhab hanafiyah menghukumi wajib bagi istri mmbantu pkerjaan2 suami tersebut.
Olh karena itu tdk bolh bagi istri mminta upah de pkerjaan masak,nyuci nyapu dll.

Kemudian menurt jumhur ulama.madzhab malikiyah , dan imam abu tsauri, imam Abu Bakar bin Abi syiibah, dan imam Abu Ishaq al_jarjaniy
juga berpendapat bhw bagi istri wajib mmbantu pekerjaan suami yg bersifat batiniyah sbagaimana adnya adat umum nya.
Hal ini berdasarkan hadist yg meng qisahkan tentang saidina Ali dan siti fatimah putri Rasulallah yg mna Rasulallah memutuskan kpeda putri nya utk berkhidmah dlm pekrjaan rumah dan di.luar rumah.

*********
Jadi ada dua kubu pndapat tentang wajib nya istri membantu pkerjaan suami.

Yg pertama tdk wajib bahkan jika se andainya meminta gaji pada suami atas pekerjaan rumah itu maka suami wajib mmberi gaji pd istri.

Dan seandainya istri tdk.melakukan pekrjaan rumah tersebut tdk tergolong nusyuz yg dapat mnggugurkan nafkah.
Sehingga bagi suami tdk boleh marah2, tdk boleh memaksa istri tdk boleh membenci istri krn hal tersebut.
Krn itu sudh mnjdi resiko suami dan merupakan tanggung jawab sepenuh nya bagi suami.

Hal ini se imbang dengan kewajiban ketaatan istri terhadap suami.
Yang mana istri wajib taat dan patuh atas segala printah2 suami selama bukan perkara maksiat.

Istri tdk boleh bermuka masam.
Tdk boleh menolak ajakan suami.
Tdk boleh bernada nyaring
Dll

Sehingga kendati hukum asal pkerjaan rumah bukan lah kewajiban istri akan tetapi jika suami menyuruh nya maka menjdi hukum wajib bagi istri utk taat terhadap perintah suami tersebut (bukn sbb kewajiban dasar dr mengerjakan pkerjaan rumah tersebut, ttp.bedasar wajib nya melakukan  ketaatan terhadap suami).

Hikmah nya:
Suami tdk boleh semena2 memaksakan kehendak sehingga seakan2 menumpuhkan semua pekejaan rumah pada istri yg seakan2 itu adlh kewajiban istri.

Suami tidk berhak marah apalagi mmbenci istri sbb tdk melakukan pkerjaan rumah.

Namun sebalik nya  istri haruslah faham dan nngerti serta sigap utk mmbantu beban suami.
Jangan mntang2 itu bukan lah kewajibannya kmudian mnjdi lalai dan bermalas2an.
Krn suami istri sll di tuntut utk saling mmbantu.


**********
Adapun pendapt kedua:
Menghukumi wajib bagi istri mmbntu pekrjaan suami
Sebagaimana yg telah di contohkan olh siti aisyah terhadap syaidina Ali.

Secara garis besar dr dua pendapt tersebut adalh sama hnya sj pendapat peetama lbh menjaga agar suami tdk lepas tanggung jwab begitu saja.
Sehingga dapat memaklumi dan mesti faham manakala istri sibuk atau dlm keadaan sakit.

Krn seandainya di hukumi wajib mka istri kan sll berdosa saat tdk memasak nyapu atu nyuci dll saat sibuk dgn suatu pkerjaan lain.

Sebagaimana berdosa istri menolak saat di ajak berhubungan intim.

Krn dlm sesibuk apapapun sprti sbb berkerja dll, (wajib menghentikan pekrjaan nya)  kcuali yg mmng dilegalkn syara' istri berdosa menolak nya.

wallahu'alam bishawab
Https://diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Minggu, 15 Oktober 2017

HUKUM SUAMI MENJIMAK ISTRI DAN SAAT ISTRI BOLEH MENOLAK DIJIMAK SUAMI

KESIMPULAN TEAM MUSYAWWIRIN DHF
==================================
HUKUM SUAMI MEMAKSA MENJIMAK ISTRI/DAN SAAT SAAT ISTRI BOLEH MENOLAK DIJIMAK SUAMI

Boleh suami memaksa istri untuk di jimak saat istri mnolak

له وطؤها جبرا إذا امتنعت بلا مانع شرعي

Boleh bagi suami menyetubuhi istrinya dengan paksa saat istrinya menolak tanpa adanya alasan yang dilegalkan syar’i. [ Hasyiyah Ibn ‘Aabidiin al-Hanaafy III/4 ].

Dalam hadist juga di jelaskan

istri tidak diperkenankan menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (Shahih  Bukhari, no.3237, 5193 dan Shahih Muslim, no.1436).

Syekh Al-Munawi menjelaskan; “Hadits ini memberikan tuntunan bagi seorang istri untuk membantu dan mencari ridho suaminya. Sebab seorang lelaki lebih sulit menahan syahwat untuk berhubungan intim daripada wanita, dan lagi salah satu perkara yang paling mengganggu pikiran seorang lelaki adalah hasrat untuk berhubungan intim, karena itulah seorang wanita didorong untuk membantu suaminya dalam menuntaskan syahwatnya agar sang suami dapat berkonsentrasi dalam beribadah”.

#KEADAAN ISTRI BOLEH MENOLAK DI JIMAK OLEH SUAMI

beberapa keadaan yang membolehkan seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan intim, Berikut ini uraiannya:

1.  Haid
     Semua ulama’ telah sepakat mengenai keharaman menggauli wanita yang sedang haid, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi. Diantara dalilnya adalah firman Allah:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” (QS. Al-Baqoroh : 222).

Imam Syafi’i mengatakan; “Orang yang melakukannya (menggauli wanita haidh) bebarti telah melakukan dosa besar”.

2.  Nifas
     Imam Ibnu Jarir menukil ijma’ (kesepakan ulama’) mengenai keharaman menggauli wanita yang sdang mengeluarkan darah nifas. Imam Syairozi menjelaskan bahwa darah haidh diberikan hukum sama (dalam banyak hal) dengan darah haid, sebab darah nifas merupakan darah haid yang baru keluar saat melahirkan setelah sebelumnya tertahan karena seorang wanita sedang dalam masa kehamilan.

3. I’tikaf
     Allah ta’ala berfirman dalam al-qur’an:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

     Berdasarkan hadits diatas para ulama’ sepakat (ijma’) bahwa orang yang sedang dalam keadaan i’tikaf diharamkan melakukan hubungan intim.

4. Puasa wajib
     Para ulama’ telah sepakat bahwa orang yang sedang berpuasa wajib diharamkan melakukan hubungan intim, dan orang yang melakukannya puasanya batal dan diwajibkan membayar kafaroh (tebusan). Diantara dalilnya adalah hadits:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ عِقَالٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا يَحْرُمُ عَلَيَّ مِنِ امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ؟ قَالَتْ: فَرْجُهَا

“Dari Hakim bin Iqol, bahwasanya ia berkata; “Aku pernah bertanya pada Aisyah ummul mukminin mengenai perkara yang diharamkan bagiku atas istriku ketika aku berpuasa, beliau menjawab; ‘alat kelaminnya’ (menggaulinya)” (Sunan Baihaqi, no.1509)

5. Ihrom
    Imam Ibnul Mundzir menuturkan dalam kitab Al-Ijma’  bahwa ulama’ telah sepakat mengenai keharaman berhubungan intim bagi orang yang sedang melakukan ihrom. Syekh Ilkiya Al-Harrosi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “Rofats” pada ayat:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“ (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji tidak boleh mengerjakan rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (QS. Al-Baqoroh : 197)

adalah “berhubungan intim” sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.

6. Dhihar
     Tidak diperselisihkan lagi dikalangan ulama’ bahwa seorang suami yang men-dhihar istrinya, maka sang suami diharamkan berhubungan intim dengannya. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang mendhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 3)

7.  Sakit yang membahayakan.
     Ketika istri dalam keadaan sakit, ia boleh menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim. Sakit yang dimaksud disini adalah sakit yang pada umumnya atau menurut keterangan dokter apabila ia berhubungan intim sakitnya akan bertambah parah atau tidak kunjung sembuh.

8. Alat kelamin suaminya terlalu besar
     Jika alat kelamin suami terlalu besar sehingga menyebabkan seorang istri tak sanggup melakukan hubungan intim dengan sang suami, maka seorang istri diperbolehkan menolak berhubungan intim dengan suaminya. Hanya saja ketidak mampuan istri untuk berhubungan intim dengan suaminya dengan alas an alat kel;amin suami yang terlalu besar harus dibuktikan dengan 4 saksi atau dengan penelitian dari seorang dokter ahli.
     kebolehan istri menolak ajakan hubungan intim dalam 2 keadaan diatas berdasarkan keumuman firman Allah:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Gaulilah para wanita kalian dengan cara yang baik” (QS. An-Nisa’ : 19)
     Dan sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak diperbolehkan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain” (Sunan Ibnu Majah, no.2340)

9.  Suami mengajak berhunungan intim di hadapan istri yang lain.
Para ulama’ telah menetapkan bahwa ketika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan intim bersama dengan istri lainnya, maka sang istri diperbolehkan untuk menolaknya. Penolakan istri tersebut tidak dikategorikan sebagai suatu pembangkangan, sebab para ulama’ juga tidak menyukai (makruh) cara seperti itu, bahkan sebagian diantaranya menyatakan bahwa berhubungan intim bersama dengan beberapa istri sekaligus hukumnya haram. Imam Al-Hasan pernah ditanya mengenai  seorang lelaki yang memiliki dua istri yang menghuni satu tempat tinggal, berkata :

كَانُوا يَكْرَهُونَ الْوَجْسَ، وَهُوَ أَنْ يَطَأَ إِحْدَاهُمَا وَالْأُخْرَى تَنْظُرُ أَوْ تَسْمَعُ

"Mereka (yakni para sahabat Nabi, atau pembesar tabi'in) tidak sukamengerjakan "al- wajs". Yaitu berhubungan intim dengan salah satu isteri, sedangkan isteri yang lain melihat atau  mendengarnya". (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.17549)

10.  Alat kelamin suami dalam keadaan najis.
     Seorang istri diperbolehkan untuk menolak berhubungan sengan suaminya apabila alat kelamin suaminya sedang dalam keadaan najis, sebab para ulama’ telah menetapkan keharoman berhubungan intim pada saat alat alat kelamin seorang lelaki dalam kedaaan najis.
     hanya saja

keharaman ini tidak berlaku bagi lelaki yang menderita beser (air kencingnya keluar terus menerus) dan apabila seorang lelaki memiliki kebiasaan apabila alat kelaminnya dicuci dengan air sebelum berhubungan intim, syahwatnya malah akan melemah.

Referensi:

1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Jilid: 44  Hal: 44-22

موانع الوطء المشروع
موانع الوطء المشروع تسعة، اتفق الفقهاء على ستة منها: وهي الحيض والنفاس والاعتكاف والصوم والإحرام والظهار قبل التكفير، واختلفوا في ثلاثة منها: وهي الاستحاضة، وعدم الاغتسال بعد الطهر من الحيض، والإقامة في دار الحرب، وبيان ذلك فيما يلي
أولا: الحيض: اتفق أهل العلم على حرمة وطء الحائض في الفرج، لقوله تعالى: {فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن} . وما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في شأن الاستمتاع بالحيض: اصنعوا كل شيء إلا النكاح
ثانيا: النفاس: اتفق الفقهاء على حرمة وطء النفساء في الفرج، وأن حكم دم النفاس في حظر الوطء وفي اقتضاء الغسل بعده ووجوب الكفارة - حكم الحيض اتفاقا واختلافا
رابعا: الاعتكاف: اتفق الفقهاء على أن الوطء في الاعتكاف حرام، وأنه مفسد له ليلا كان أو نهارا إذا كان عامدا لقوله تعالى: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد
خامسا: الصوم: اتفق الفقهاء على حرمة الوطء عمدا على الصائم في رمضان، وأنه مفسد للصوم، وموجب للكفارة، أنزل أو لم ينزل
سادسا: الإحرام: اتفق الفقهاء على حرمة الوطء على المحرم بنسك حج أو عمرة، لقوله تعالى: {فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج} . حيث جاء في تفسير الرفث: أنه ما قيل عند النساء من ذكر الجماع وقول الفحش، وبناء على ذلك تكون الآية دليلا على تحريم الجماع على المحرم بطريق دلالة النص، أي من باب أولى. كما فسر الرفث أيضا بالجماع نفسه، فتكون الآية نصا فيه
سابعا: الظهار: لا خلاف بين الفقهاء في حرمة وطء الزوجة المظاهر منها قبل التكفير، وذلك لقوله تعالى: {والذين يظاهرون من نسائهم ثم يعودون لما قالوا فتحرير رقبة من قبل أن يتماسا

2. Faidhul Qodir Syarah Jami’us Shoghir, Jilid: 1  Hal: 344

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه) ليطأها (فأبت) امتنعت بلا عذر وليس حقيقة الإباء هنا بمرادة إذ هو أشد الامتناع والشدة غير شرط كما تفيده أخبار أخر (فبات) أي فبسبب ذلك بات وهو (غضبان عليها) فقد ارتكبت جرما فظيعا ومن ثم (لعنتها الملائكة حتى تصبح) يعني ترجع كما في رواية أخرى قال ابن أبي حمزة: وظاهره اختصاص اللعن بما إذا وقع ذلك ليلا وسره تأكيد ذلك الشأن ليلا وقوة الباعث إليه فيه ولا يلزم منه حل امتناعها نهارا وإنما خص الليل لكونه المظنة وفيه إرشاد إلى مساعدة الزوج وطلب رضاه وأن يصبر الرجل على ترك الجماع أضعف من صبر المرأة وأن أقوى المشوشات على الرجل داعية النكاح ولذلك حث المرأة على مساعدته على كسر شهوته ليفرغ فكره للعبادة

3. Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab,  Jilid: 2  Hal: 358-359

قال المصنف رحمه الله: ويحرم الوطئ في الفرج لقوله تعالى (ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله)
......................
الشرح: أجمع المسلمون علي تحريم وطئ الحائض للآية الكريمة والأحاديث الصحيحة قال المحاملي في المجموع قال الشافعي رحمه الله من فعل ذلك فقد أتى كبيرة

4. Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab,  Jilid: 2  Hal: 518-519

قال المصنف رحمه الله: دم النفاس يحرم ما يحرمه الحيض ويسقط ما يسقطه الحيض لأنه حيض مجتمع احتبس لأجل الحمل فكان حكمه حكم الحيض
............................
الشرح: ................ وهذا الذي ذكرناه من أن النفساء لها حكم الحائض لا خلاف فيه ونقل ابن جرير إجماع المسلمين عليه

5. Al Fiqh al Islamiy wa Adillatuh,  Jilid: 3  Hal: 1776 - 1777

مبطلات الاعتكاف: .............. 2-الجماع، ولو كان عند الجمهور ناسيا أو مكرها ليلا أو نهارا؛ لأن الوطء في الاعتكاف حرام بالإجماع، لقوله تعالى: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد، تلك حدود الله فلا تقربوها} [البقرة:187/ 2] فإن وطئ في الفرج عمدا أفسد اعتكافه بالإجماع

6. Sunan Kubro Lil-Baihaqi, Jilid: 1  Hal: 469

وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب، ثنا بحر بن نصر، قال: قرئ على شعيب بن الليث أخبرك أبوك، عن بكير، عن أبي مرة مولى عقيل بن أبي طالب عن حكيم بن عقال، أنه قال: سألت عائشة أم المؤمنين ما يحرم علي من امرأتي وأنا صائم؟ قالت: فرجها

7. Al-Ijhma’ Li Ibnul Mundzir, Hal: 52

وأجمعوا على أن المحرم ممنوع من: الجماع

8. Tafsir Ayat Ahkam Li Ilkiya Al-Harrosi Asy-Syafi’i, Jilid: 1  Ha; 113

الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج
......................
قوله: (فلا رفث ولا فسوق) قال ابن عمر: الرفث الجماع. وعن ابن عباس مثل ذلك. وروي عنه أنه التعريض بالنساء. والأصل في الرفث الإفحاش في القول، وبالفرج الجماع، وباليد الغمز للجماع، هذا أصل اللغة. فدلت الآية، على النهي عن الرفث في هذه الوجوه كلها، ومن أجله حرم العلماء ما دون الجماع في الإحرام

9. Ahkamul Qur’an Lil Imam Asy-Syafi’i,  Jilid: 1  Hal: 234

قال الشافعي: والذي حفظت  مما سمعت في: (يعودون لما قالوا) .-: أن المتظاهر حرم مس امرأته بالظهار

10. Mughnil Muhtaj, Jilid: 5  Hal: 169

وعبالة زوج، أو مرض يضر معه الوطء عذر
......................................
وعبالة زوج) وهي بفتح العين كبر آلته بحيث لا تحتملها الزوجة (أو مرض) بها (يضر) ها (معه الوطء عذر) في منعها من وطئه فتستحق النفقة مع منع الوطء لعذرها إذا كانت عنده لحصول التسليم الممكن، ويمكن التمتع بها من بعض الوجوه، وتثبت عبالته بأربع نسوة؛ لأنها شهادة يسقط بها حق الزوج ولهن نظر ذكره في حال الجماع للشهادة بذلك

11. Tuhfatul Muhtaj, Jilid: 7  Hal: 443

قوله ويكره إلخ) ظاهره كراهة التنزيه وبه صرح المصنف في تعليقه على التنبيه اهـ مغني وظاهر التعليل الآتي أن هذا الحكم لا يختص بالزوجات بل يجري في زوجة وسرية وفي سريات فليراجع (قوله مع علم الأخرى إلخ) بل يحرم إن قصد إيذاء الأخرى أو لزم منه رؤية محرمة للعورة م ر اهـ سم عبارة الرشيدي قوله مع علم الأخرى عبارة غيره بحضرة الأخرى اهـ ومن الغير المغني (قوله ولا تلزمها الإجابة) ولا تصير ناشزة بالامتناع اهـ

12. Mughnil Muhtaj, Juz : 4  Hal : 416-417

قال الشيخان: كره أن يطأ إحداهما بحضرة الأخرى؛ لأنه بعيد عن المروءة، وظاهره كراهة التنزيه، وبه صرح المصنف في تعليقه على التنبيه، وقضية كلام جماعة تحريم ذلك، وصرح به القاضي أبو الطيب، وصوبه الأذرعي، وقال إنه مقتضى نصه في الأم لما في ذلك من سوء العشرة وطرح الحياء اهـ. ويمكن الجمع بينهما بأن يكون محل التحريم إذا كانت إحداهما ترى عورة الأخرى

13. Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 4  Hal : 37

حدثنا أبو بكر قال: نا عباد بن العوام، عن غالب، قال: سألت الحسن، أو سئل، عن رجل تكون له امرأتان في بيت قال: كانوا يكرهون الوجس، وهو أن يطأ إحداهما والأخرى تنظر أو تسمع

14. Busyrol Karim, Jilid: 1  Hal: 136

ويحرم جماع من تنجس ذكره إلا سلساً، ومن يعلم من عادته أن الماء يفتر ذكره

https://diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Wallohua'lam bishowwab.

MEMAKAI CELAK SAAT PUASA

KESIMPULAN TEAM DHF HUKUM MEMAKAI CELAK MATA SAAT BERPUASA ----------------------------- 📝 PERTANYAAN: assalamu'alaikum ...