Label

Tampilkan postingan dengan label NIKAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NIKAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

HUKUM TERKAIT YANG BOLEH FASAKH NIKAH

KESIMPULAN TEAM DHF
HUKUM TERKAIT YANG BOLEH FASAKH NIKAH
_______________________

*FASAKH NIKAH*

📔وإذا غاب الزوج عن المرأة وترك شرط المعاشرة فرفعت المرأةإلى الحاكم فى المضرات فإذا صرح الشاهدان لذلك جاز النسخبين المرأة وزوجها

Apabila suami meninggalkan istrinya dengan tidak memenuhi segala kewajibannya dan isteri mengajukan rasa keberatan pada hakim, dan jika  ada dua orang saksi yang mengetahuinya, maka boleh difasakhkan perkawinan tersebut antara isteri dan suaminya. (Bughyatul Musytarsyidin :)

📓واختار جمع كثيرون من محققى المتأخرين فى غائب تعذرتحصيل النفقة منه الفسخ, وقواه ابن الصلاح
Kebanyakan golongan muhaqqiq mutaakhirin berpendapat dalam hal suami yang gaib/mafqud yang susah menghasilkan nafkah dari padanya, maka boleh difasakh perkawinan tersebut, pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Sholah. I’anatut Thalibin IV :


📓يجوز لزوجة مكلفة فسخ نكاح من أعسر بأقل نفقة
Isteri yang mukallaf boleh ia memfasakh perkawinannya dengan suaminya yang miskin dengan harta karena kurang nafkahnya. (I’anatut Thalibin IV : 86)


📓ولا فسخ باعسار نفقة ونحوها أو بمهر قبل ثبوت اعساره اىالزوج باقرارهأو بـينة تذكر اعساره الآن ولا تكفى بـينة ذكرت انهغاب معسرا ويجوز للبـينة الاعتماد فى الشهادة علىالاستصحاب حاله غاب عليها
Tidak boleh memfasakh nikah karena kemelaratan suami memberi nafkah atau seumpamanya, atau dengan maskawinnya sebelum ditetapkan kesulitan suami dengan pengakuannya atau dengan saksi yang menyebutkan kemelaratan suami tersebut, dan tidak cukup saksi yang menyaksikan bahwa suami itu telah gaib padahal melarat, dan diharuskan kepada saksi-saksi berpegang kepada penyaksiannya berdasarkan keadaan sebelum dia gaib. (I’anatut Thalibin IV : 90)

📓لو عجزت المرأة عن بـينة الاعسار جاز لها الاستقلال بالفسخ
Jika perempuan tidak sanggup mengadakan saksi mengenai mu’sir suaminya, maka boleh baginya memfasakh nikah tersebut. (I’anatut Thalibin IV : 90)



📓وقال الشيخ عطية المكى فى فتويه : إذا تعذر القاضى أو تعذرالاثبات عنده لفقد الشهود أو غيبتهم فلها أن تشهد بالفسخوتفسخ بنفسها
Menurut pendapat Syeh AL Maky dalam fatwanya bahwa : apabila hakim berhalangan atau sukar menetapkan tenang mu’sirnya suami karena saksi-saksi gaib atau memang tidak ada, maka bagi perempuan boleh memfasakh dirinya sendiri. (I’anatut Thalibin IV : 92)


📓ورد الرجل أيضا (بالبناء للمجهول) اى يثبت للمرأة فسخ نكاحهامنه بخمسة عيوب اى بواحدة منها يقول له (بالجنون والجذام)كما مر وأشار الى ثلاثة منها بقوله بالجنون والجذام والبرص الخ
Ditolak seorang laki-laki yakni ditetakan bagi perempuan untuk memfasakh nikahnya dari seorang laki-laki dengan lima catatan atau salah satu diantaranya yaitu dengan perkataan gila, rematik dan lain-lainnya. (Bujairimi Iqna’ III : 336)


📓وإنما تفسخ بعجزه عن نفقة المعسر لأن الضرر إنما يتحقق حينئذ
Perempuan itu boleh difasakhkan nikahnya oleh karena tidk mempunyai kesanggupan bagi suami untuk memenuhi nafkahnya karena suami tersebut seorang mu’sir, sebab kemudaratan itu nampak pada waktu itu. (Tuhfah V : 339)


📓أو وجدته عنينا أو مجنونا ثبت الخيار فى فسخ النكاح
Jika istri mendapati suaminya impoten atau gila, maka tetaplah si perempuan itu memiliki hak fasakh. (Sirajul Wahhaj : 382)


📓إذا ثبت اعسار الغائبعد حاكم بلد الزوجة فى ثلاثة ايام جاز لهاالفسخ
Jika ditetapkan mengenai mu’sirnya suami yang gaib oleh hakim negeri tempat berdomisilinya si isteri, maka bolehlah fasakh itu dilaksanakan. (Fathul Mu’in IV : 92)


📓لو تعذر تحصيل النفقة من الزوج فى ثلاثة ايام جاز لها الفسخ
Apabila berhalangan (tidak sanggup) si suami memberikan nafkah dalam tempo tiga hari, maka si isteri berhak memfasakh, baik si suami itu ada ataupun dia gaib. (Bughyatul Musytarsyidin : 286)


📓فإن انقطع خبره ولا مال له حضر جاز لها الفسخ لأنه تعذرواجبها بانقطاع خبره لتعذره بالاعسار
Apabila kabar tentang suami telah erputus dan tidak mempunyai harta benda yang ada, maka isteri boleh difasakh karena sukarnya untuk mendapatkan nafkah, ditetapkan oleh terputusnya kabar mengenai suami tersebut, hal ini keadaannya sama dengan suami yang mu’sir. (I’anatut Thalibin IV : 90)



📓وإذا ثبتت اى اقامت بـينةعند حاكم بلدها باعسار غائب فسخت
Jika istri dapat membuktikan dengan mengemukakan saksi didepan hakim di negerinya bahwa suami yang gaib itu termasuk orang yang melarat, maka istri tersebut berhak difasakh.(Isnal Matholib III : 438)


📓وتقبل دعوة الجهل بأصل ثبوت الخيار
Dan diterima pengakuan si istri bahwa dia tidak tahu tentang hal-hal yang menjadi pokok mengenai khiyar atau tidak tahu tentang keharusan segera melaporkan penyakit gila si suami. (I’anatut Thalibin III : 372)


📓العيوب المثبـتةللخيار فى فسخ النكاح سبعة : جنون ولو منقطعا
Adapun aib-aib yang membolehkan fasakh nikah ada 7 macam: diantaranya penyakit gila sekalipun datangnya penyakitnya tidak permanen. (Syarqawi II : 252)



📓إذا وجد أحد الزوجين بالآخر جنونا – الى قوله- ولو منقطعاثبت للخيار فى فسخ النكاح
Apabila terdapat salah seorang suami/istri berpenyakit gila, sekalipun penyakit itu terputus-putus (temporer), maka isteri/suami boleh memfasakh nikahnya. (Tuhfah III : 179)


📓فإذا توافرت شروط الفسخ – الى قوله – يفسخ هو اى القاضى
Apabila syarat-syarat fasakh telah cukup, maka hakim memfasakh pernikahan itu. (I’anatut Thalibin IV : 91)


📓ولا يصح عقد النكاح لإمهال فى فسخ نكاح الغائب
Tidak diberi tempo karena gaib atau miskin. (I’anatut Thalibin IV : 110)


📓فإذا توافرت شروط الفسخ من ملازمتها المسكن الذى غاب عنهاوهى فيه وعدم صدور نشوز منها … الخ
Apabila syarat-syarat fasakh sudah lengkap yaitu pihak istri tinggal di tempat yang ditentukan suami dan ia tidak bersikap nusyuz.


📓فلا فسخ – على المعتمد – بامتناع غيره موسرا أو متوسطا منالانفاق حضر أو غاب إلا لمن ينقطع خبره ولا مال له حاضر جازلها الفسخ لأنه تعذر واجبها بانقطاع خبره لتعذره بالإعسار
Tidak boleh difasakh karena menolak nafkah orang yang kaya atau orang yang cukup, baik ia ada atau gaib, kecuali orang yang putus beritanya. Apabila putus beritanya sedang ia tidak mempunyai harta tunai, isteri boleh menuntut fasakh sebab suami tidak dapat melaksanakan kewajiban, karena putus berita tersebut sama dengan alasan tidak mampu. (I;anatut Thalibin IV : 90)



📓للزوجة المكلفة فسخ نكاح من أعسر بأقل نفقة أو كسوة
Boleh si isteri merusak pernikahan dari suaminya, baik suami itu hadir maupun gaib dengan sembilan syarat : diantaranya tidak mampu suami memberi nafkah seminimal mungkin, kiswah dan maskan dan seterusnya. (Bughyatul Musytarsyidin : 221)


📓إذا أعسر الزوج بنفقة المعسر فلها أن تفسخ النكاح لما روى أبوهريرة أن النبي صلعم قال فى الرجل لا يجد ما ينفق على امرأتهقال يفرق بينهما
Bila si suami tidak mampu memberikan nafkah yang cukup, boleh bagi si isteri fasakh dari nikahnya. Diriwayatkan oleh Abi Hurairah : sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah bersabda : bahwasannya sang suami yang tidak mampu memberi nafkah kepada isterinya, maka difasakh nikahnya diantara kedua suami isteri itu. (Al Muhadzab II : 134)


📓يجوز لزوجة مكلفة اى بالغة عاقلة لا لولى غير مكلفة فسخ نكاحمن اى زوج اعسر مالا وكسبا لائقا به حلالا بأقل نفقة تجب
Diperbolehkan kepada seorang isteri yang mukallaf yakni aqil baligh selain kepada walinya istri yang tidak mukallaf, melakukan tuntutan fasakh nikah dari suaminya yang tidak memenuhi kewajibannya, baik dari nafkah maupun kiswah dikarenakan kemiskinan atau kecil mata pencahariannya. (I’anatut Thalibin IV : 86)


📓فإن انقطع خبره ولا مال له حاضر فلها الفسخ
Maka jika seorang laki-laki telah putus kabarnya dan tidak mempunyai harta tunai maka isterinya daat difasakh. Fathul Wahhab IV : 118)


📓وإن وجدت المرأة زوجها مجنونا أو مجذوما أو عنينا ثبتت لهاالخيار
Jika seorang istri sudah nyata baginya bahwa suaminya menderita sakit gila/ingatan, lepra, belang atau impoten atau lemah syahwat, maka isteri boleh memilih antara merusak perkawinannya atau meneruskannya. (Al Muhadzab II : 48)


📓فلكل من الزوجين الخيار فورا من فسخ النكاح بما وجد منالعيوب المذكورة
SeTiap penyakit dari salah seorang suami istri, dapat memilih untuk segera pernikahannya, sebab dari penyakit/cacat yang dideritanya itu sudah terdapat. (I’anatut Thalibin IV : 35)


📓وقضى رسول الله صلعم فى الرجل لا يجد على امرأته نفقة بأنيفرق بينهما
Rasulullah memberikan keputusan kepada suami yang tidak dapat memberikan nafkah kepada istrinya itu agar dipisahkan dari istrinya. Apabila suami itu telah putus kabarnya serta tidak ada harta baginya, maka isterinya itu ada hak untuk meminta difasakh nikahnya. (Subulus Salam III : 309)


📓وعن ابن عباس أن جارية بكرا أتت النبي صلعم أن أباها زوجهاوهي كارهة فتخيرها رسول الله صلعم
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : bahwasannya seorang budak wanita menghadap kepada Nabi saw dan ia menerangkan bahwa sesungguhnya ia telah dinikahkan oleh bapaknya, akan tetapi dia tidak senang, maka Nabi menjawab : Boleh engkau pilih dua perkara, meneruskan atau tidak meneruskan perkawinan tersebut. (Subulus Salam III : 134)



📓أما إذا غاب الزوج معسرا بما ير فلها الفسخ اتفاقا بأن ترفع إلىالقاضى, فإذا أثبت اعسار الزوج ببـينة تشهد أنه معسرا الآن إلىأن قال : فسخ أو إذن بامهال
Apabila suami pergi padahal ia miskin seperti apa yang diterangkan yang lalu maka dapat difasakhkan dengan ketentuan mengajukan perkara tersebut kepada hakim, kalau hakim telah menentukan kemiskinan suami yang pergi serta dikuatkan oleh saksi-saksi yang menyaksikan bahwa ia miskin pada waktu sekarang, maka hakim memfasakh nikahnya atau memberi izin kepada isteri itu untuk fasakh sendiri dengan memakai tempo atau tidak memakai tempo. Fathul Wahab II : 124)


📓قوله : مالم تشهد باعساره الآن … الخ فلو شهدت بذلك بناء علىالاستصحاب جاز لها … وجاز الفسخ حينئذ
Maka apabila saksi telah menyaksikan ketidak mampuannya, atas kaidah istishab (pengetahuan dari saksi semenjak dulu), maka bolehlah bagi isteri memilih, dan tatkala dia tidak mengenal hilangnya ketidakmampuan suami, maka boleh ketika itu juga fasakh nikah tersebut.


📓إذا قضى الفسخ بتعذر النفقة بالغيبة والامتناع شافعى لترجيحهعنده لكونه من أهله لأن تضرر المرأة نفذ ظاهرا وكذا باطنا فلايجوز نقضه
Apabila diputuskan fasakh karena tidak dapat memberi nafkah sebab gaib dan atau menolak memberi nafkah, oleh hakim yang beraliran Syafriyah, hal itu tidak boleh dibatalkan sebab mengakibatkan siksaan pihak wanita lahir dan batin.

📓لا تفسخ بمضى إذا سلمها نفقة اليوم الرابع لأن ما مضى منالنفقة صر دينا عليه ولا فسخ بالإعسار بالدين
Tidak boleh diputuskan fasakh hari-hari yang telah lampau dengan syarat suami memenuhi nafkahnya (isterinya) pada hari keempat, oleh karena nafakah pada hari yang lampau itu menjadi hutang bagi si suami yang tidak boleh diputuskan fasakh tersebut dengan adanya hutang pada masa lampau.


📓إذا ثبتت اعسار الغائب عند حاكم بلد الزوجة جاز الفسخ إذاصورته أن تشهد البـينة عنده باعساره فى الحال
Tatkala sudah tetap tidak mempunyai suami didepan hakim negeri isterinya, maka boleh fasakh apabila dalam gambaran keadaan tersebut disaksikan oleh saksi dimuka hakim tentang ketidakmampuan suami pada waktu itu. (Fatawa Kubra IV : 209)


📓وإذا ثبتت أو أقامت بـينة عند حاكم بلدها باعسار غائب فسختولو قبل اعلامه
Jika isteri sudah mengajukan saksi-saksi didepan hakim tentang ketidakmampuan suaminya yang pergi, maka si isteri boleh memfasakh nikahnya. (I’anatut Thalibin III : 485)

📓إذا أعسر الزوج مالا وكسبا لائقا بأقل نفقة أو كسوة أو معسرواجب قبل وطء ولم تصبر فلها الفسخ
Apabila suami miskin uang/harta dan pekerjaan yang layak untuk memberikan nafkah yang minim, pakaian dan maskawin yang wajib sebelum wathi’ dan si isteri tidak sabar lagi, maka ia berhak fasakh. (I’anatut Thalibin IV : 84)


📓فلها فسخ نكاح إذا لم تصبر … الخ
Apabila si isteri tidak sabar lagi menanti terhadap suaminya, maka bagi si isteri itu dibolehkan fasakh. (Al Bajuri II : 159)


📓ولو ثبت اعسر الغائب عند حاكم بلدها جاز لها الفسخ
Apabila telah nyata ketidakmampuan suami yang gaib menurut hakim negeri daerahnya isteri tersebut, boleh bagi si isteri itu menuntut fasakh nikahnya. (Al Anwar II : 229)


📓ولو غاب الزوج وجهل يساره واعساره لانقطاع خبره ولم يكن لهمال بمرحلتين فلها الفسخ أيضا بشرطه
Jika si suami pergi serta tidak diketahui kemampuan atau kemiskinannya disebabkan karena putus hubungan dan tidak ada harta peninggalannya, maka boleh bagi si isteri memfasakh nikahnya dengan syarat-syarat fasakh. Bughyatul Musytarsyidin : 243)


📓يثبت للمرأة فسخ نكاحها منه بالجنون
Tetaplah bagi si isteri difasakhkan nikahnya disebabkan suaminya telah gila. Iqna’ II : 133)


📓وإن اشتد عدم رغبة الزوجة لزوجها طلق عليه القاضى طلقة
Diwaktu isteri telah memuncak kebenciannya terhadap suaminya, disitulah hakim diperkenankan menjatuhkan talaknya laki-laki dengan talak satu.


📓قوله : لو اعسر الزوج ولو صغيرا أو مجنونا الخ
Jika keadaan suami tidak mampu, maka boleh bagi isterinya merusak nikahnya. Yang dimaksud suami tidak mampu itu meskipun si suami tersebut masih kecil atau sakit berubah ingatan. (Minhaj IV : 505)


📓ولا يمنع اعساره عقار أو عرض لا يتيسر بيعهما فى مدة قريبة
Peninggalan suami yang berupa harta atau barang-barang yang sukar dijual dalam waktu yang dekat tidak menghalangi mu’sirnya suami yakni suami tetap dapat dianggap sebagai orang yang tidak mampu. (Bujairimi Wahhab III : 116)


📓ولا اعتبار بعرض أو عقار لا يتيسر بيعه كالمال الغائب فوقمسافة القصر
Tidak terhitung mempunyai harta benda atau tanah yang tidak mudah dijualnya seperti keadaannya harta benda yang gaib lebih jauh dari perjalanan yang boleh meringkas sembahyang. (Syarwani VII : 327)


📓قوله ثبتت اى بالبينة على مشاهدتها فى غير العنة
Kata Shahibus Syarikh, tatkala tetap cacatnya, yakni ditetapkan dengan saksi atau orang yang melihat aib itu selain impoten. (Iqna’ : III : 339)


📓وشرع اى الفسخ وقوله دفعا لضرر المأة اى تضررها بعدم النفقةأو الكسوة والمهر
Berlakunya fasakh itu untuk menjaga penderitaan isteri akan nafkah atau kiswah atau mahar. (I’anatut Thalibin IV : 86)


📓وفى وقت الفسخ قولان أحدهما أن الفسخ فى الحال
Tentang kapan fasakh itu dapat ditetapkan, terdapat dua pendapat, salah satunya mengatakan bahwa fasakh itu dapat ditetapkan pada waktu itu juga. (Muhadzab II : 175)


📓فلا فسخ باعساره الخ ….
Tidak boleh memfasakh nikah karena ketidakmampuan suami memberikan nafkah atau semisalnya, atau tidak mampu melunasi maskawinnya, sebelum ditetapkan ketidakmampuan suami dengan pengakuannya atau dengan saksi yang menyebutkan ketidakmampuan suami tersebut. Dan tidak cukup saksi yang menyaksikan bahwa suami itu telah gaib dalam keadaan tidak mampu. Saksi-saksi boleh berpegang kepada keadaan sebelm dia gaib. (Tsyrihul Mustafidin : 320)



📓ولو امتنع مع القدرة أو غاب مع اليسار أو قدرت على ماله فلاخيار ويبعث القاضى الى حاكم الغائب ليطالبه على النفقة إنعلم موضعه : إلى أن قال أو جهل موضعه أو المدة تصل فىالبعث ورأى الفسخ أصوب فسخ
Jika suami tidak memberikan nafkah padahal mampu atau gaib dalam keadaan kaya, atau kuasa bagi isteri mengambil hartanya, maka tidak ada pilihan bagi isteri. Dan hakim mengutus hakim di tempat tinggal suami yang gaib itu untuk memintakan nafkah, jika diketahui tempatnya, atau tidak diketahui tempat suami atau lama masanya dalam kirim mengirim surat dan memandang lebih baik fasakh, maka hakim tersebut memfasakh nikah itu. (Al Anwar II : 230)


📓وإنما تفسخ بعجزه عن نفقة المعسر لأن الضرر يتحقق حينئذ
Fasakh dapat dilakukan karena tidak mampu memberi nafkah sebab hal itu menimbulkan bahaya pada waktu itu. (Qawaninus Syar’iyah : 112)

📓وافتىبه عن عجيل وابن كثير وابن صباغ والرويانى أنه لو تعذرتحصيل النفقة من الزوج فى ثلاثة أيام جاز لها الفسخ حضرالزوج أم غاب وقواه ابن صلاح
Menurut fatwa Ajil ibn Katsir, Ibn Shabagh, Ruyani dan dikuatkan oleh Ibn Shalah, mereka berpendapat bahwa : Apabila suami tidak memberikan nafkah selama tiga hari, isteri boleh menuntut fasakh, baik suami tersebut hadir atau gaib. (Bughyatul Musytarsyidin : 243)


📓,إن تزوج امرأة ووطئها ثم عنّ منها لم تضرب المدة لأن القدرةيقين فلا تترك بالإجتهاد
Apabila seseorang menikahi seorang wanita yang telah disetubuhi kemudian suami mengalami impoten tanpa memperhitungkan waktu karena kemampuannya yang tidak pasti itu, tidak bisa dihilangkan dengan ijtihad. (Al Muhadzab II : 49)


📓أيما رجل تزوج امرأة وبه جنون أو ضرر فإنها تخير فإن شاءتقرت وإن شاءت فارقت
Bagi seorang isteri yang suaminya menderita penyakit gila atau cacat, diberi hak memilih untuk tetap sebagai isterinya atau berpisah. (Al Muwatho’ III : 145)


📓فإذا جن احد الزوجين كان للاخر المق فى طلب فسخ النكاح
Apabila salah satu pihak dari suami isteri berubah gila, maka pihak lain berhak mengajukan gugatan cerai (fasakh). (Minhajut Thalibin : 138 jo Al Fiqh Ala Madzahib al Arba’ah IV : 193)


📓ولا فرق أيضا بين أن يكون جنونا مطيقا أو متقطعا
Dianggap sama keadaannya baik penyakit gila itu tetap atau temporer. (Al Fiqh Ala Madzahib al Arba’ah IV : 193)


📓والمراد بالجنون ما يشمل فقد الشعور القلب
Yang dimaksud dengan gila ialah hilangnya perasaan atau pikiran. (Al Fiqh Ala Madzahib al Arba’ah IV : 193)

📓وإن أعسر بنفقتها فلها فسخ النكاح, ويثبت اعسار الزوج باقرارهأو بينة
Jika suami tidak mampu memberi nafkah, isteri berhak memfasakh nikahnya. Dan ditetapkan ketidakmampuan suami dengan ikrarnya atau dengan bukti. (Al Bajuri II : 193-194)

📓الخامس كون النفقة مستقبلة
Syarat kelima nafkah telah ada untuk hari yang akan datang. (Fathul Mu’in IV : 86)

📓الحديث الصحيح : لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاثة أيام

Hadits Shahih : Tidak halal seorang muslim memboikot (tidak menegur atau meninggalkan tempat tidur isteri) lebih dari tiga hari. (Bughyatul Musytarsyidin : 375)

📓ومن عيوب النكاح : رتـق وقرن فيها وجبّ وعنّة فيه, فلمل منالزوجين الخيار فورا فى فسخ النكاح بما وجدت من عيوبالمذكورة فى الآخر بشرط أن يكون بحصور الحاكم
Dan sebagian dari aib nikah itu ialah : tersumbatnya kelamin perempuan oleh daging atau tulang dan terpotong/lemahnya kelamin laki-laki, maka bagi tiap-tiap suami/isteri berhak memilih segera fasakh nikah mereka dengan sebab aib tersebut dengan syarat hadirnya hakim. (I’anatut Thalibin II : 335-336)

📓يستحق الزوجة المؤن ويباح لها الفسخ بالإعسار إذا لم تخرجعن الطاعة

Pihak isteri berhak mendapat nafkah. Apabila suami dalam kesukaran pihak isteri boleh menggugat fasakh selama dia tetap taat pada suami. (Bughyatul Musytarsyidin : 239)

📓ولا يجوز الفسخ إلا بشرط ملازمتها للمكن وعدم صدور نشوزمنها

Tidak boleh fasakh kecuali apabila si isteri tinggal di tempat dan tidak nusyuz. (I’anatut Thalibin IV : 94)

والله اعلم
Diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Kamis, 22 Februari 2018

HUKUM MNIKAH TAPI ZAKARNYA GAK HIDUP

KESIMPULAN DHF
HUKUM MNIKAH TAPI ZAKARNYA GAK HIDUP
__________________________________________________

PERTANYAAN:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

numpang tanya tadz gmna hukumnya bila ada laki2 menikah tp anunya gk hidup (ngaceng?  sblm manikah dia dh tau bhwa anunya itu gk hidup

JAWAB:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
👉Hukum nikah nya tetap sah.
Namun inpotens termasuk bagian dr aib nikah sehingga bagi si istri  ada dua pilihan boleh tetap bertahan dgn pernikahan nya, boleh juga faskhun nikah (gugat cerai)

Jika istri memilih beetahan, maka wali tidak boleh memaksa utk faskhun_nikah.

Atau bilamana isteri mendapati suaminya impoten atau gila, maka tetaplah si perempuan itu memiliki hak fasakh. (Sirajul Wahhaj : 382)

📚REFENISI:

👉Al_muhadzdzab 2 hal 449 maktabah syamilah

📔باب الخيار في النكاح والرد بالعيب
إذا وجد الرجل امرأته مجنونة أو مجذومة أو برصاء أو رتقاء وهي التي انسد فرجها أو قرناء وهي التي في فرجها لحم يمنع الجماع ثبت له الخيار وإن وجدت المرأة زوجها مجنونا أو مجذوما أو أبرص أو مجبوبا أو عنينا ثبت لها الخيار لما روى زيد بن كعب بن عجرة قال: تزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم امرأة من بني غفار فرأى بكشحها بياضا فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم: "البسي ثيابك والحقي بأهلك" فثبت الرد بالبرص بالخبر وثبت في سائر ما ذكرناه بالقياس على البرص لأنها في معناه منع الاستمتاع إن وجد أحدهما الآخر وله فرج الرجال وفرج النساء ففيه قولان: أحدهما يثبت له الخيار لأن النفس تعاف عن مباشرته فهو كالأبرص والثاني لا خيار له لأنه يمكنه الاستمتاع به

📔الموسوعة الفقهية " ( 31 / 16 ) :
العُنَّة : عيب يجعل للزوجة الخيار في طلب الفرقة عن زوجها ، بعد إمهال الزوج سنَة ، عند جمهور الفقهاء .
واختار جماعة من الحنابلة ، منهم أبو بكر ، والمجد – أي : جد ابن تيمية - أن لها الفسخ في الحال .
واستدل الجمهور بما روي أن عمر رضي الله عنه أجل العنِّين سنَة ؛ ولأن مقصود الزوجة أن تستعف بالزواج ، وتحصل به صفة الإحصان لنفسها ، وفوات المقصود بالعقد أصلا يثبت للعاقد حق رفع العقد ، وقد أجمعوا على ثبوت الخيار في البيع بالعيوب لفوات مالية يسيرة ، ففوات مقصود النكاح أولى . انتهى.

📔قال الشيخ إبراهيم بن محمد بن سالم بن ضويان الحنبلي – رحمه الله - :
ويباح - أي : الزواج - لمن لا شهوة له ، كالعنِّين ، والكبير ؛ لعدم منع الشرع منه .
" منار السبيل " ( 2 / 91 )

📔قوله : " ولو قالت في وقت : رضيت به عنيناً : سقط خيارها أبداً " ، كامرأة رضيت بزوجها عنيناً ، ثم أصابها ما يصيب النساء من شهوة النكاح، فأرادت أن تفسخ : نقول : لا خيار لكِ ، فإن قالت : ذاك الوقت أنا معجبة به وراضية ، لكن طالت المدة ، وأنا الآن لا أريده ، فنقول: لا خيار لك؛ لأن التفريط منك.
" الشرح الممتع " ( 12 / 211 )

📔التنبيه فى الفقه الامام الشافعى ١ ص ١٦٢ مكتبة الشاملة

باب الخيار في النكاح والرد بالعيب
إذا وجد أحد الزوجين بالآخر جنونا أو جذاما أو برصا١ ثبت له الخيار وإن وجد أحدهما الآخر خنثي ففيه قولان وإن وجد الزوج بالمرأة رتقا وقرنا٢ ثبت له الخيار وإن وجدت المرأة زوجها عنينا أو مجبوبا٣ ثبت لها الخيار وإن وجدته خصيا أو مسلولا ففيه قولان: أصحهما أنه لا خيار لها وإن حدث العيب بالزوج كان لها أن تفسخ وإن حدث بالزوجة ففيه قولان: أصحهما أن له الفسخ وإن وجد أحدهما بالآخر عيبا من هذه العيوب وبه مثله فقد قيل يفسخ وقيل لا يفسخ ولا يصح الفسخ, بهذه العيوب إلا على الفور ولا يجوز إلا بالحاكم ومتى وقع الفسخ فإن كان قبل الدخول سقط المهر وإن كان بعد الدخول نظر فإن كان بعيب حدث بعد الوطء وجب المسمى وإن كان بعيب قبل الوطء سقط المسمى ووجب مهرالمثل وهل يرجع به على من غره٤ ففيه قولان وليس لولي الحرة ولا لسيد الأمة ولا لولي الطفل تزويج المولى عليه ممن به هذه العيوب فإن أرادت الحرة أن تتزوج بمجنون كان للولي منعها وإن أرادت أن تتزوج بمجبوب أو عنين لم يكن له منعها وإن أرادت أن تتزوج بمجذوم أو أبرص فقد قيل له منعها

👉TAMBAHAN IBAROD PENDUKUNG
________________________

📔التهذيب فى الفقه الشافعى جز ٥ ص ٤٥٨ مكتبة الشاملة
وإن وجد مجبوبا أو عنينا فرضيت به فلا فسخ لأوليائها؛ لأن فقد الاستمتاع ضرر يعود إليها، لا عار على أوليائها منه

📔الأم جز ١ ص ٢٧٦ مكتبة الشاملة
ومثل الخيار إلى المرأة إذا كان زوجها عنينا أو خصيا مجبوبا وما خيرناها فيه مما يلزمه فيه الفرقة وإن كره فإنما ذلك كله فسخ للعقدة لا إيقاع طلاق بعدها.

[ والله اعلم بالصواب ]

Diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Senin, 04 Desember 2017

DEFINISI NIKAH

KESIMPULAN TEAM DHF

assalamualaikum
ust mau nanya bagaimanakah hukum nya jika ad seseorg yg tidak menikah seumur hdup nya?ap itu d perbolehkan?

Kesimpulan:

Terlebih dahulu kami paparkan MAKNA NIKAH

NIKAH SECRA BAHASA adalah

Berkumpul/mengumpulkan/mengombinasikan.

NIKAH SECARA SYARI'AT

adalah Akad yg menyatukan dua insan dgn lafadz NIKAH/TAZWIJ atau terjemahnya.
kemudian di halalkan nya bersetubuh/jima'

HUKUM NIKAH SEBELUM IJMA' ULAMA adalh nash ayat

فانكحوا ما طاب لكم من النساء
Menikah lah kalian dengan wanita yang baik2 di antara kalian.

Dan nash Hadist

تناكحو تكثروا

Menikah lah kalian dan perbanyak lah keturunan kalian.

HIKMAH NIKAH/TUJUAN NYA

_mengikuti SUNNAH RASUL.
-memperbanyak KETURUNAN.
_LADANG PAHALA (stiap langkah dan ibadah nya dilipat gandakan).
_menjaga pandangan dari yg di haramakan.
_meminimalisir dr perbuatan zina.
_mendapat ketenangan dan kedamaian serta. ketentaraman hidup.
_tidur dan kerjanya bahkan diamnya menjadi ladang pahala.
_ibadah lebih tenang.
_ada teman hidup.
_dll

HUKUM NIKAH SECARA RINCI SEBAGAI BERIKUT.

Hukum menikah sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya, hukumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Hukum nikah ada 5 (lilamA)

Sebagaimana di jelaskan oleh
Syaikh Al-'Allaamah Al-Judaari menerangkan hukum menikah dengan beberapa bait syair yang terdapat dalam Kitab Qurratul 'Uyuun

1.WAJIB :
Bagi orang yang telah mampu sedang dan bila ia tidak segera menikah amat di khawatirkan akan berbuat zina.

SUNNAH:
Bagi orang
yang menginginkan sekali punya anak, tetapi ia masih mampu mengendalikan diri dari perbuatan zina, baik ia sudah berminat menikah atau belum walaupun jika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan sedikit terlantar.

3.MAKRUH :
Bagi orang yang belum berminat punya anak, juga belum pernah menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina padahal bila ia menikah amalan ibadah sunnahnya akan terlantar.

4.MUBAH :
Bagi orang yang mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina, sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar.

5.HARAM :
Bagi orang yang apabila ia menikah justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu memberi nafkah lahir dan bathin atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di haramkan Allah SWT walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan mampu menahan gejolak nafsunya dari berbagai zina. Hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan, bahwa bagi wanita hukum menikah wajib apabila ia tidak mampu menafkahi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi nafkah tersebut adalah menikah.

Refrensi:

وواجب علي الذي يخشي الزنا • تزوج بكل حال امكنا
وزيد في النساء فقد المال • وليس منفق سوي الرجال
وفي ضياع واجب والنفقة • من الخبيث حرمة متفقة
لراغب اوراجي نليندب • وان به يضيع مالا يجب
ويكره ان به يضيع النفل • وليس فيه رغبة اونسل
وان انتفي ما يقتضي حكما مضي • جاز النكاح بالسوي المرتضي

👇👇👇👇👇👇👇👇

Fiqhul minhaji 17_19 juz 4 maktabah syamilah

Iabroh divinisi nikah dan hukum nikah

حُكم النِكَاحِ شَرْعُا

للنكاح أحكام متعددة، وليس حكماً واحداً، وذلك تبعاً للحالة التي يكون عليها الشخص، وإليك بيان ذلك:
١ـ مستحب:
وذلك إذا كان الشخص محتاجاً إلى الزواج: بمعنى أن نفسه تتوق إليه، وترغب فيه، وكان يملك مؤنته ونفقته، من مهر، ونفقة معيشة له ولزوجته، وهو في نفس الوقت لا يخشى على نفسه الوقوع في الفاحشة إن لم يتزوج.
ففي هذه الحالة يكون النكاح مستحبّاً، لما فيه من بقاء النَسْل وحفظ النسب، والاستعانة على قضاء المصالح.
ويستدل لذلك بحديث البخاري ومسلم: عن عبدالله بن مسعود - رضي الله عنه - قال: كنا مع النبي - صلى الله عليه وسلم - شباباً لا نجد شيئاً، فقال لنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: " يا معشر الشباب مَن استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغضّ للبصر وأحصن لفرج، ومَن لم يستطع فعليه بالصوم، فإنه له وِجاء " (١).
والزواج في هذه الحالة أفضل من التفرغ للعبادة، والانقطاع لها.
وعلى هذا يحمل توجيه الرسول - صلى الله عليه وسلم - لأولئك النفر من أصحابه الذين تعاهدوا على الانقطاع للعبادة، وترك الزواج.
روى مسلم (في النكاح، باب: استحباب لمن تاقت نفسه إليه ... ، رقم ١٤٠١) وغيره عن أنس - رضي الله عنه -: أن نفراً من أصحاب النبي - صلى الله عليه وسلم - سألوا أزواج النبي - صلى الله عليه وسلم - عن عمله في السرّ، فقال بعضهم: لا أتزوج النساء، وقال بعضهم: لا آكل اللحم، وقال بعضهم: لا أنام على فراش، فحمد الله وأثنى عليه، فقال: " ما بالُ أقوامٍ قالوا: كذا وكذا،

لكني أصلي وأنام، وأصوم وأفطر، وأتزوج النساءَ فم رغب عن سُنّتي فليسَ منّي ".
ومعنى " فمن رغب عن سُنتي فليس مني " أي من تركها إعراضاً عنها، غير معتقد لها على ما هي عليه.
والمرأة في هذا الحكم مثل الرجل، فإذا كانت محتاجة للزواج لصيانة نفسها، وحفظ دينها، وتحصيل نفقتها، استحبّ لها الزواج أيضاً.
٢ـ مستحب تركه (أي مكروه وفعله خلاف الأولى):
وذلك إذا كان محتاجاً للزواج، لكنه لا يملك أُهبة النكاح ونفقاته.
وعليه في هذه الحالة أن يعفّ ويستعين على ذلك بالعبادة والصوم، لأن الانشغال بالعبادة والصوم، يشغله عن التفكير في الزواج، واستشارة الرغبة فيه، ريثما يغنيه الله من فضله.
ودليل ذلك قوله تعالى: {وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِه ِ} (النور: ٣٣).
ويُفهم هذا الحكم أيضاً من مفهوم قول النبي - صلى الله عليه وسلم -: " مَن استطاع منكم الباءة فليتزوج " فإنه إذا لم يملك الباءة كان ترك الزواج مستحّباً له.
٣ـ مكروه:
وذلك إذا كان غير محتاج إلى الزواج: كأن لا يجد الرغبة فيه، أما فطرة، أو لمرض، أو علّة، ولا يجد أُهبه له، وذلك لما فيه من التزام مالا يقدر على القيام به، لأن النكاح يترتب عليه المهر، والنفقة، وهو لا يقدر على ذلك، فيُكره النكاح له.
٤ـ الأفضل تركه:
وذلك إذا كان يجد الأُهبة، ولكنه ليس محتاجاً إلى النكاح، لأن نفسه لا تتوق إليه، وكان منشغلاً بالعبادة، أو منقطعاً لطلب العلم، فإن
التفرغ للعبادة وطلب العلم أفضل من النكاح في هذه الحالة، لأن النكاح ربما يشغله عن ذلك.
٥ـ الأفضل فعله:
فإذا كان ليس منشغلاً بالعبادة، ولا متفرغاً لطلب العلم، وهو يجد الأُهبة للنكاح، لكنه غير محتاج إليه، فالنكاح في هذه الحالة أفضل، حتى لا تقضي به البطالة والفراغ إلى الفواحش، وبالزواج يحصل له الاستعانة على قضاء المصالح، وإنجاب الذرية، وزيادة النسل.

👇👇👇👇👇👇👇👇

Ibaroh rincian hukum nikah dalam kitab al iqna' hal 399_ 400 juz 2 maktabah syamilah

كتاب النِّكَاح = هُوَ لُغَة الضَّم وَالْجمع وَمِنْه تناكحت الْأَشْجَار إِذا تمايلت لِأَن المُرَاد العقد وَالْوَطْء مُسْتَفَاد من خبر الصَّحِيحَيْنِ حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَته وَيَذُوق عُسَيْلَتك وَعقد النِّكَاح لَازم من جِهَة الزَّوْجَة وَكَذَلِكَ من جِهَة الزَّوْج على الْأَصَح وَهل كل من الزَّوْجَيْنِ مَعْقُود عَلَيْهِ أَو الزَّوْجَة فَقَط وَجْهَان أوجههمَا الثَّانِي
وَهل هُوَ ملك أَو إِبَاحَة وَجْهَان أوجههمَا الثَّانِي أَيْضا
وَالْأَصْل فِي حلّه الْكتاب وَالسّنة وَإِجْمَاع الْأمة فَمن الْكتاب قَوْله تَعَالَى {وَأنْكحُوا الْأَيَامَى مِنْكُم} من السّنة قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من أحب فِطْرَتِي فَليَسْتَنَّ بِسنتي وَمن سنتي النِّكَاح
وَزَاد المُصَنّف فِي التَّرْجَمَة (وَمَا يتَعَلَّق بِهِ من) بعض (الْأَحْكَام) كصحة وَفَسَاد (و) من (القضايا) الْآتِي ذكر بَعْضهَا فِي الْفُصُول الْآتِيَة
القَوْل فِي حكم النِّكَاح (وَالنِّكَاح) بِمَعْنى التَّزْوِيج (مُسْتَحبّ) لتائق لَهُ بتوقانه للْوَطْء إِن وجد أهبته من مهر وَكِسْوَة فصل التَّمْكِين وَنَفَقَة يَوْمه تحصينا
لدينِهِ سَوَاء أَكَانَ مشتغلا بِالْعبَادَة أم لَا فَإِن فقد أهبته فَتَركه أولى وَكسر إرشادا توقانه بِصَوْم لخَبر يَا معشر الشَّبَاب من اسْتَطَاعَ مِنْكُم الْبَاءَة فليتزوج فَإِنَّهُ أَغضّ لِلْبَصَرِ وَأحْصن لِلْفَرجِ وَمن لم يسْتَطع فَعَلَيهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وَجَاء أَي قَاطع لتوقانه والباءة بِالْمدِّ مُؤَن النِّكَاح فَإِن لم تنكسر بِالصَّوْمِ فَلَا يكسرهُ بالكافور وَنَحْوه بل يتَزَوَّج وَكره النِّكَاح لغير التائق لَهُ لعِلَّة أَو غَيرهَا إِن فقد أهبته أَو وجدهَا وَكَانَ بِهِ عِلّة كهرم وتعنين لانْتِفَاء حَاجته مَعَ الْتِزَام فَاقِد الأهبة مَا لَا يقدر عَلَيْهِ وخطر الْقيام بواجبه فِيمَا عداهُ وَإِن وجدهَا وَلَا عِلّة بِهِ فتخل لعبادة أفضل من النِّكَاح إِن كَانَ متعبدا اهتماما بهَا فَإِن لم يتعبد فَالنِّكَاح أفضل من تَركه لِئَلَّا تُفْضِي بِهِ البطالة إِلَى الْفَوَاحِش
وَيسْتَثْنى من إِطْلَاق المُصَنّف مَا لَو كَانَ فِي دَار الْحَرْب فَإِنَّهُ لَا يسْتَحبّ لَهُ النِّكَاح وَإِن اجْتمعت فِيهِ الشُّرُوط كَمَا نَص عَلَيْهِ الشَّافِعِي وَعلله بالخوف على وَلَده من الْكفْر والاسترقاق
تَنْبِيه نَص فِي الْأُم وَغَيرهَا على أَن الْمَرْأَة التائقة يسن لَهَا النِّكَاح وَفِي مَعْنَاهَا المحتاجة إِلَى النَّفَقَة والخائفة من اقتحام الفجرة
وَيُوَافِقهُ مَا فِي التَّنْبِيه من أَن من جَازَ لَهَا النِّكَاح إِن كَانَت محتاجة إِلَيْهِ اسْتحبَّ لَهَا النِّكَاح وَإِلَّا كره فَمَا قيل إِنَّه يسْتَحبّ لَهَا ذَلِك مُطلقًا مَرْدُود

👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇

Ghoyatul bayan 1 hal 246

كتاب النِّكَاح) =
هُوَ لُغَة الضَّم وَشرعا عقد يتَضَمَّن إِبَاحَة وَطْء بِلَفْظ إنكاح أَو تَزْوِيج أَو بترجمته وَهُوَ حَقِيقَة فِي العقد مجَاز فِي الْوَطْء وَالْأَصْل فِيهِ قبل الْإِجْمَاع آيَات كَقَوْلِه تَعَالَى {فانكحوا مَا طَابَ لكم من النِّسَاء} وأخبار كَخَبَر تناكحوا تكثروا وَخبر من أحب فِطْرَتِي فليستسن بِسنتي وَمن سنتي النِّكَاح رَوَاهُمَا الشَّافِعِي بلاغا وَالنِّكَاح لَازم وَلَو من جِهَة الزَّوْج (سنّ لمحتاج) أَي النِّكَاح بِأَن تتوق نَفسه إِلَى الْوَطْء وَلَو خَصيا (مطيق للأهب) بِأَن يجد مُؤنَة من مهر وَكِسْوَة فصل التَّمْكِين وَنَفَقَته يَوْم النِّكَاح وَسَوَاء أَكَانَ مشتغلا بِالْعبَادَة أم لَا تحصينا للدّين فَإِن فقد مُؤنَة سنّ لَهُ تَركه وَيكسر شَهْوَته بِالصَّوْمِ إرشادا فَإِن لم تنكسر بِهِ لم يكسرها بالكافور وَنَحْوه بل ينْكح وَأما غير الْمُحْتَاج إِلَيْهِ فَإِن فقد أهبته كره لَهُ وَسَوَاء أَكَانَ بِهِ عِلّة أم لَا وَكَذَا إِن وجدهَا وَبِه عِلّة كهرم أَو مرض دَائِم أَو تعنين وَإِن لم يكن بِهِ عِلّة لم يكره لَكِن تخليته لِلْعِبَادَةِ أفضل مِنْهُ وَإِن كَانَ متعبدا وَإِلَّا فَالنِّكَاح أفضل لَهُ من تَركه كي لَا تفضى إِلَيْهِ بِهِ البطالة إِلَى الْفَوَاحِش وَنَصّ فِي الْأُم وَغَيرهَا على أَن الْمَرْأَة التائقة ينْدب لَهَا النِّكَاح وَفِي مَعْنَاهَا المحتاجة إِلَى النَّفَقَة والخائفة من اقتحام الفجرة

Adapun HUKUM MEMBUJANG
sebagai mana pertanyaan sail

Rincian Nya sebagai berikut:

Bismillah. Hukumnya tergantung pada sebab atau alasan mereka tidak menikah. Jika sebab/alasannya karena memang mereka sudah berjuang sekuat tenaga mencari jodoh kesana-kemari, dan dengan minta bantuan banyak orang untuk mencarikan dan menghubungkannya dengan calon pendamping hidup, namun belum juga mendapatkannya hingga ajal menjemput mereka, maka mereka tidak berdosa, dan bahkan mendapatkan pahala seperti orang yang menikah dengan niat mereka yang jujur dan sungguh-sungguh ingin mengamalkan sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak mendapatkan jodoh karena memang takdir Allah telah menetapkan demikian.

Demikian pula, mereka yang tidak sempat menikah hingga meninggal dunia dikarenakan tidak punya waktu untuk menikah, seperti sebagian ulama hadits yang hari-harinya habis untuk melakukan rihlah (perjalanan) dalam mencari hadits dan mengkaji ilmu, mereka berpindah-pindah dari 1 negeri ke negeri yang lain, sementara sarana transportasi pada zaman mereka tidak secanggih transportasi di zaman kita ini, maka orang-orang seperti mereka ini tidaklah berdosa karena tidak menikah hingga akhir hayat.
Demikian pula, tidak berdosa orang-orang yang tidak menikah hingga akhir hayat dikarenakan penyakit atau cacat permanen yang menimpa mereka, seperti tidak punya syahwat, atau tidak punya kelamin yang normal yang dengannya mampu melakukan jima’, seperti terkena penyakit impoten atau alat kelaminnya terputus akibat kecelakaan atau bawaan dari lahir, dsb.

Adapun orang-orang yang tidak menikah dengan alasan ingin bertaqorrub kepada Allah dengan perbuatannya membujang hingga akhir hayat padahal mereka punya kemampuan nafkah lahir dan nafkah batin, maka mereka berdosa, karena telah menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَرِيرَتِهِ فِي الْبَيْتِ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا آكُلُ اللَّحْمَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لا أَنَامُ عَلَى فِرَاشِي ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : أَصُومُ وَلا أُفْطِرُ . قَالَ أَبُو دَاوُدَ : فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَامَ خَطِيبًا وَقَالَ : فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ : أَمَّا بَعْدُ ” مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا ، لَكِنِّي أَصُومُ ، وَأُفْطِرُ ، وَأَنَامُ ، وَأُصَلِّي ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي ” (اللَّفْظُ لأَبِي دَاوُدَ)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata: “Ada beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menanyakan kepada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam perihal ibadah beliau di rumah. Lalu sebagian mereka berkata; saya tidak akan menikah, sebagian lagi berkata; saya tidak akan makan daging, sebagian yang lain berkata; saya tidak akan tidur di atas kasur (tempat tidurku), dan sebagian yang lain berkata; saya akan terus berpuasa dan tidak berbuka.
Abu Daud (perowi dan pentakhrij hadits) berkata; Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam, hingga (Beliau Shallallahu alaihi wasallam) berdiri untuk berkhutbah seraya bersabda setelah memanjatkan puja-puji syukur kepada Allah: “Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikian dan demikian? Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnah (tuntunan) ku maka ia tidak termasuk golonganku.”

Dan disebutkan di dalam riwayat lain:

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَت : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُهُمْ بِمَا يُطِيقُونَ ، فَيَقُولُونَ : إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ ، قَدْ غَفَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ، فَيَغْضَبُ حَتَّى يُرَى ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ ، قَالَ : ثُمَّ يَقُولُ : ” وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا “

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memerintahkan mereka dengan apa yang mereka mampui.” Sehingga mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak seperti engkau. Sebab Allah ‘Azza WaJalla telah mengampuni dosa-dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam marah hingga terlihat dari raut wajahnya. Dia berkata; Kemudian beliau bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling bertakwa di antara kalian.” (HR. Imam Al-Bukhari no.5063 kitab an-Nikaah, Muslim no.1401 kitab an-Nikaah, an-Nasa-i no.3217 kitab an-Nikaah, n Ahmad no.23763).

Dan diriwayatkan dari Samuroh radhiyallahu anhu, ia berkata: (anna an-Nabiyya shallallahu alaihi wasallam naha ‘an at-tabattul) artinya: “Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang dari membujang (dengan niat ibadah kepada Allah, pent).”

Jadi kesimpulannya, Laki-laki dan wanita yang tidak menikah hingga meninggal dunia, dianggap telah berbuat dosa atau tidak tergantung pada niat dan sebab (alasan)nya sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas.

NB.

Hukum tidak menikah ada kalanya di anjurkan bahkan mustahab (hukum sunnah(

Bagi org yg menginginkan menikah tetapi ia tdk mampu utk mahar dan nafkah.

Maka dalam keadaan tersebut tdk di anjurkan menikah bahkan disunnahkan utk tdk menikah.

Akan tetapi org tersebut hendak nya berpuasa utk mencegah nafsu nya.

Menjaga dan menundukan pandangan nya dr perbuatan maksiat.
Dan memperbanyak ibadah

Wallahu a'lam bish showab

MEMAKAI CELAK SAAT PUASA

KESIMPULAN TEAM DHF HUKUM MEMAKAI CELAK MATA SAAT BERPUASA ----------------------------- 📝 PERTANYAAN: assalamu'alaikum ...