Label

Tampilkan postingan dengan label LAIN-LAIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAIN-LAIN. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Desember 2017

HUKUM MENYENTUH ANGGOTA BADAN YANG TERPISAH ATAU HANCUR AKIBAT TABRAKAN

KESIMPULAN TEAM DHF

HUKUM MENYENTUH ANGGOTA BADAN YANG TERPISAH ATAU HANCUR AKIBAT TABRAKAN
----------------------------------

Pertanyaan:

di suatu tempat ada tabrak antara speda motor yg d kemudi oleh seorang perempuan dan mobil. diakibatkan laju motor telalu kecang dan rem blong sehingga si pengemudi menghantam mobil yg berjalan dri arah berlawan .
akibatnya si pengemudi tidak dapt menghindari tabrakan tersebut.
di karenakan tabrakan tersebu badan siwanita hancur karena sempat di jempit oleh trek yg melaju dari arah belakang. dan para warga pun mengerumuni tempat ke jadian.
salah seorang laki" dari mereka mengumpulkan daging yg tlah hancur tersebut dalam satu wadah dan menaruhnya dalam satu tempat bersama kepingan badan lain.a sebelum menyerahkan.a kpd dokter

yg jd pertanyaan sya bagaimana hukum wudu, laki laki tersebut apkh batal atau tidak......
mohon penjelasan.a para mujahid.....

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum wudhu orang yang menyentuh potongan anggota badan akibat tabrakan ada dua pendapat ulama yaitu:

✍PENDAPAT PERTAMA:

Hukum wudhu nya batal,karena di samakan dengan menyentuh saat masih utuh (sebelum terpisah dari anggota badan)

✍PENDAPAT KEDUA:

✔Pendapat yang paling shohih:
Hukum wudhu nya tidak batal, karena anggota yang terpotong tersebut tidak di anggap wanita dan tidak syahwati, serta tidak ada kenikmatan saat menyentuh nya:

Pendapat ini merupakan pendapat ulama iraq dan baghdad:

✔Imam Qodli Husain juga menuqil dari nash Imam Syafii:

Bahwa hukum wudhu nya tidak batal,menyentuh anggota badan yang terpotong atau terlepas

✔Menurut yang dinukil Imam Qodli Husain juga:

Jika potongan tersebut bagian kemaluan nya,maka hukum wudhu nya batal

✔Adapun hukum menyentuh mayat yang bukan mahram nya adalah batal,bagi yang menyentuh sedangkan wudhu nya yang di sentuh tidak batal wudhu nya

✔Kemutlakan penjabaran Mushannif (pengarang kitab-tentang batalnya menyentuh alat kelamin) mencakup pada dzakar (alat kelamin jantan) yang terputus (juga dihukumi membatalkan wudhu) bila masih layak disebut dzakar, sehingga dapat disimpulkan apabila ada dzakar terputus dan tercacah hingga tidak layak untuk disebut dzakar maka tidak membatalkan wudhu begitu juga dengan farji (alat kelamin wanita).

✔Didalam kitab al-asybah wan-nadlo,ir di jelaskan pada
KAIDAH YANG KE 18 : HAL YANG LANGKA APA DI SAMAKAN DENGAN JENIS ASLINYA ?

Di dalamnya terdapat beberapa pengecualian yang pendapat ulama yang paling di unggulkan pun berbeda-beda dalam berbagai masalah bagian agama diantaranya :

~ Terdapat dua pendapat dalam masalah memegang dzakar yang terputus pendapat yang paling shahih membatalkan wudhu karena meskipun terputus masih dinamakan dzakar

~ Terdapat dua pendapat dalam masalah menyentuh anggauta tubuh wanita ajnabiyah (bukan mahram) yang terputus pendapat yang paling shahih tidak membatalkan wudhu karena batasan 'menyentuh' yang membatalkan bila yang di sentuh seorang wanita (sedang anggauta yang terputus bukan dinamakan wanita)

~ Terdapat dua pendapat dalam masalah melihat anggauta badan wanita ajnabiyah (bukan mahram) yang terputus pendapat yang paling shahih menghukumi haram sedang pendapat tandingannya adalah tidak haram karena tidak mungkin lagi terjadi fitnah.

✔Di dalam kitab tuhfatul mukhtaj terdapat keterangan:
"Semestinya hukum menyentuh anggauta yang terputus tidak membatalkan wudhu baik yang menyentuh ataupun yang di sentuh meskipun jelas dan terbuka (tanpa penghalang) keculi bila yang di sentuh adalah farji (kelamin wanita) yang terputus dan masih layak disebut farji".

✔Di dalam kitab raudhotut Tholibin juga di jelaskan:

Menurut pendapat yang lebih shahih perkara yang tidak diperbolehkan melihatnya saat masih gandeng tidak boleh pula melihatnya saat terpisah seperti dzakar, kepala wanita, rambutnya, bulu kemaluan laki-laki dsb. Menurut pendapat lain tidak masalah. Menurut pendapat Imam 'bila anggauta terputus tersebut tidak dapat lagi terbedakan bentuknya antara anggauta pria dan wanita tidak haram bila masih dapat di bedakan haram.

📖 REFERENSI:

البيان ١ ص ١٨٢ مكتبة الشاملة

[فرع: لمس الميتة]
] : وإن لمس امرأة ميتة، فقد اختلف أصحابنا فيه:
فمنهم من قال: تنتقض طهارته بذلك؛ لأن اللمس إذا نقض الوضوء استوى فيه الحي والميت، كما لو مس فرج ميت.

Shohifah 183
وإن لمس يدا مقطوعة من امرأة، لم ينتقض وضوؤه عند البغداديين من أصحابنا؛ لأنها بالانفصال زال عنها اسم النساء.
وقال الخراسانيون: فيه وجهان:
أحدهما: هذا.
والثاني: ينتقض، كما لو كانت متصلة.

بحر المذهب للرويانى ١ ص ١٤٩-١٤٨ مكتبة الشاملة
فرع
لو لمس امرأة ميتة، أو لمست المرأة رجلا ميتا ينتقض الوضوء؛ لأن كل لمس لو كان بين حيين نقض الطهر، فكذلك إذا كان بين حي وميت كالتقاء الختانين. ومن أصحابنا من قال: ينبغي أن يجري ذلك مجري الكبائر والصغائر اللاتي لا يشتهين فلا ينتقص الوضوء
بلمسها في قول مخرج، وهذا صحيح لأن الميتة ليست محل الشهوة ولا تشتهي غالبا.
فرع آخر
إذا لمس يدا مقطوعة أو عضوا منها لم ينتقص وضوءه؛ لأنه لا يدخل في قوله تعالى: {و لامستم النساء} [النساء:٤٣] ولا يسمى لامس امرأة، وخرج عن أن سكون محلا للشهوة.
وقال بعض أصحابنا بخراسان: فيه وجهان كالوجهين فيمن مس ذكرا مقطوعا، وهذا لا يصح. والفرق أن أسم الذكر يقع على المقطوع، والنبي صلى الله عليه وسلم علق الوضوء بمس
الذكر، وههنا أسم النساء لا يقع على اليد المقطوعة وعلى هذا قالوا: هل يجوز النظر إلى الذكر المقطوع أو يد المرأة المقطوعة أو شعرها المقطوع؟ فيه وجهان.

المجموع شرح المهذب ٢ ص ٢٩-٣٠ مكتبة الشاملة

الرابع: لمس عضوا مقطوعا من امرأة كيد وأذن وغيرها أو لمست عضوا مقطوعا من رجل فطريقان أحدهما فيه وجهان أحدهما ينتقض كلمسه في حال الاتصال وأصحهما لا لأنها ليست امرأة ولا شهوة ولا لذة وهذا الطريق مشهور عند الخراسانيين: والثاني وهو المذهب لا ينتقض وبه قطع العراقيون والبغوي ونقله القاضي حسين في تعليقه عن نص الشافعي ونقل القاضي أن الشافعي نص على الانتقاض في مس الذكر المقطوع وعلى عدمه في اليد المقطوعة فمن  الاصحاب
من نقل وخرج فجعل في المسألتين خلافا ومنهم من قرر النصين وفرق بأنه مس ذكرا ولم يلمس

[ Nihaayah Al-Iqna Muhtaaj juz 1 halaman 330 ]

وشمل إطلاقه الذكر المبان لصدق الاسم وأما فرج المرأة المبان فحكمه كذلك إن بقي الاسم وإلا فلا يؤخذ من ذلك أن الذكر لو قطع ودق حتى خرج عن كونه يسمى ذكرا أنه لا ينقض وهو كذلك

[ Asybah Wa Annadhooir juz 1 halaman 330 ]

القاعدة الثامنة عشرة النادر هل يلحق بجنسه أوبنفسه ؟

فيه خلات و الترجيح مختالف في الفروع :

فمنها : مس الذكر المبان فيه و جهان أصحهما أنه ينقض ؟ لأنه يسمى ذكرا

و منها : لمس العضو المبان من المرأة فيه و جهان أصحهما عدم النقض لأنه لا يسمى امرأة و النقض منوط بلمس المرأة

و منها : النظر إلى العضو المبان من الأجنبية و فيه و جهان أصحهما : التحريم

[ Tuhfah Al-muhtaaj juz 6 halaman 310

ثُمَّ يَنْبَغِي أَنَّهُ لَا يَنْتَقِضُ وُضُوءُهُ وَوُضُوءُ غَيْرِهِ بِمَسِّهِ وَإِنْ كَانَ ظَاهِرًا مَكْشُوفًا وَلَمْ تُحِلَّهُ الْحَيَاةُ ؛ لِأَنَّ الْعُضْوَ الْمُبَانَ لَا يَنْتَقِضُ الْوُضُوءُ بِمَسِّهِ إلَّا إذَا كَانَ مِنْ الْفَرْجِ وَأَطْلَقَ عَلَيْهِ اسْمَهُ

[ Roudhotut Thoolibiin: juz 7 halaman 26 ]

فرع ما لا يجوز النظر إليه متصلا كالذكر وساعد الحرة وشعر رأسها وشعر عانة الرجل وما أشبهها يحرم النظر إليه بعد الإنفصال على الأصح

وقيل لا وقال الإمام احتمالا لنفسه إن لم يتميز المبان من المرأة بصورته وشكله عما للرجل كالقلامة والشعر والجلدة لم يحرم وإن تميز حرم

https://diskusihukumfiqh212.blogspot.com

[ والله اعلم بالصواب ]

HUKUM LAKI-LAKI OPERASI MENJADI WANITA

KESIMPULAN TEAM DHF

HUKUM LAKI-LAKI OPERASI MENJADI WANITA
----------------------------

📃 Pertanyaan:

DESKRIPSI MASAlah
Ada seorang laki laki sebut saja andi .Ia mengopresa kelamin, dada, dsb. Layaknya seorng prempuan, dg alasan andi menyukai herun temannya. Dan ingin menikah dgnya.
Herun pun tdk mau karena andi adlh sesosok laki laki.
Dan andi dan herun tdk mungkin bisa bersatu, karena mereka sama jenis.
Andi pun nekad merubah dirinya layaknya perempuan.
      
     PERTANYAAN
a.  Berstatus apakah andi tsb.?
B. Bolehkah andi menikh dg
    herun dg alasan sudh mnjadi
    Prempuan.?
C. Batalkah wudhu' herun jika
     menyetuh andi.?
#mohondijawabpentiiiing...!

📋 Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

📋 JAWABAN SUB A:

Tetap bersetaus laki laki (dan tindakan Andi adalh berdosa Krn sudh merubah bentuk asli nya/merubah ciptaan Allah)

📋 JAWABAN SUB B:

tidak boleh Krn dgn.melalukan operasi plastik tidak bisa merubah stts jenis kelamin scr haqiqoh.
Oelh karena nya
Pernikahan nya di anggap tidak sah.
Bahkan di haramkan menikah sesama jenis.

📋 JAWABAN SUB C:

Tidak batal (dalam.madzhab Syafi'i) Krn masih ada ke ikhtimal an dalam perubahan tersebut,
Jagan kan yg memang jelas-jelas laki laki, transgender (org yg mempunyai alat kelamin ganda) saja masih di anggap ikhtimal di ragukan apakah dia wanita atau laki-laki)
Sesuatu yang masih di ikhtimal kan dalam pandangan syariat maka tdk dapat membatalkan wudhu.

Sebagai mana di jelaskan di dalam kitab hasyiah Jamal dan beberapa kitab fiqih lain nya:

Bahwa jika ada laki laki mengoperasi dirinya menjadi perempuan (مسخ)
Maka hal tersebut masih di anggap ikhtimal(محتمل)
Di mungkinkan membatalkan wudu', artinya skedar ihtimal antara batal dan tdk, ,

Lebih jelasnya
Di dalam kitab hasyiah Jamal tersebut sebagai berikut:

pertanyaan: Apakah membatalkan wudlu’ jika kekasih Allah (wali) laki-laki menjelma sebagai perempuan atau orang laki-laki dirubah bentuk dan rupanya menjadi perempuan?.

Maka di jawab: Sesungguhnya dalam masalah yang pertama (seorang wali laki-laki menjelma sebagai perempuan) adalah tidak membatalkan wudlu’ secara pasti.
Sebab sesungguhnya orangnya tidak berubah. Ia hanya melepaskan (berubah) dari satu bentuk ke bentuk yang lain dengan tetapnya sifat laki-laki.

Adapun orang laki-laki yang dirubah bentuk dan rupanya menjadi perempuan, maka yang demikian itu dimungkinkan dapat membatalkan wudlu’. Karena dekatnya kemungkinan berubah orang (‘ain) nya. Juga dimungkinkan tidak membatalkan wudlu’ karena adanya kemungkinan yang berubah adalah sifat dan karakternya namun bukan orang ('ain) nya.

Tambahan keterangan:
Dalam.madzhab abu Hanifah jika disertai syahwat batal meski setts nya sama sama laki laki.

📚 REFERENSI:

📖 Hasyiyah Bujairomi Alaa Al-Khootib II/211

وَوَقَعَ السُّؤَالُ عَمَّا لَوْ تَصَوَّرَ وَلِيٌّ بِصُورَةِ امْرَأَةٍ أَوْ مُسِخَ رَجُلٌ امْرَأَةً هَلْ يَنْقُضُ أَوْ لَا ؟ فَأُجِيبَ عَنْهُ : بِأَنَّ الظَّاهِرَ فِي الْأَوَّلِ عَدَمُ النَّقْضِ لِلْقَطْعِ بِأَنَّ عَيْنَهُ لَمْ تَنْقَلِبْ ، وَإِنَّمَا انْخَلَعَ مِنْ صُورَةٍ إلَى صُورَةٍ مَعَ بَقَاءِ صِفَةِ الذُّكُورَةِ ، وَأَمَّا الْمَسْخُ فَالنَّقْضُ بِهِ مُحْتَمَلٌ لِقُرْبِ تَبَدُّلِ الْعَيْنِ مَعَ أَنَّهُ قَدْ يُقَالُ فِيهِ بِعَدَمِ النَّقْضِ أَيْضًا لِاحْتِمَالِ تَبَدُّلِ الصِّفَةِ دُونَ الْعَيْنِ ع ش عَلَى م ر .


📖 تحفة المحتاج ١ ص ١٣٧ مكتبة الشاملة

ووقع السؤال عما لو تطور ولي بصورة امرأة أو مسخ رجل امرأة هل ينقض أم لا فأجبت بأن الظاهر في الأولى عدم النقض للقطع بأن عينه لم تنقلب، وإنما انخلع من صورة إلى صورة مع بقاء صفة الذكورة وأما المسخ فالنقض فيه محتمل لقرب تبدل العين وقد يقال فيه بعدم النقض أيضا لاحتمال تبدل الصفة دون العين اهـ وعبارة شيخنا وينتقض وضوء كل منهما مع لذة أو لا عمدا أو سهوا أو كرها ولو كان الرجل هرما أو ممسوحا أو كان أحدهما من الجن ولو كان على غير صورة الآدمي حيث تحققت المخالفة في الذكورة والأنوثة ولو تصور الرجل بصورة المرأة أو عكسه فلا نقض في الأولى وينتقض الوضوء في الثانية للقطع بأن العين لم تنقلب، وإنما انخلعت من صورة إلى صورة اهـ.

📖 حاشية شبرامليسى ١ ص ١١٦ مكتبة الشاملة

قوله: التقاء بشرتي الرجل والمرأة) قال م ر: هي شاملة للجنية، وهو كذلك إن تحقق كون الملموسة من الجن أنثى منهم، كما أنه يجوز تزوج الجنية خلافا لبعضهم، بخلاف ما لو شك في أنوثة الملموس منهم إذ لا نقض بالشك اهـ سم على منهج. ووقع السؤال عما لو تصور ولي بصورة امرأة أو مسخ رجل امرأة هل ينقض أم لا؟ فأجبت عنه بأن الظاهر في الأولى عدم النقض للقطع بأن عينه لم تنقلب، وإنما انخلع من صورة إلى صورة مع بقاء صفة الذكورة، وأما المسخ فالنقض فيه محتمل لقرب تبدل العين، مع أنه قد يقال فيه بعدم النقض أيضا لاحتمال تبدل الصفة دون العين.

📚 *REFERENSI PENDUKUNG*

📖 [ al-Majmuu’ Alaa Syarh al-Muhadzdzab II/30 ].

(الخامس): لو لمس الخنثى المشكل بشرة خنثى مشكل أو لمس رجل أو امرأة بدن المشكل أو لمس المشكل بدنهما لم ينتقض للاحتمال فلو لمس المشكل بشرة رجل وامرأة انتقض هو لانه لمس من يخالفه ولا ينتقض الرجل ولا المرأة للشك وكذا لو لمساه لم ينتقض واحد منهما للشك وفى انتقاض الخثى القولان في الملموس فلو اقتدت المرأة بهذا الرجل لم تصح صلاتها لانها ان لم تكن محدثة فأمامها محدث
[ KELIMA ] Bila KHUNTSA MUSYKIL (orang dengan dua alat kelamin, pria dan wanita) menyentuh kulit khuntsa musykil lainnya atau seorang pria
atau wanita menyentuh badan KHUNTSA MUSYKIL atau KHUNTSA MUSYKIL menyentuh badan pria atau wanita maka wudhunya tidak batal karena terdapat kemungkinan kesamaan jenis antara keduanya.
Bila KHUNTSA MUSYKIL menyentuh badan seorang pria atau wanita maka batal wudhunya karena ia menyentuh orang yang berlainan jenis dengannya dan wudhu pria atau wanitanya tidak menjadi batal karena keraguan kesamaan jenis diatas, begitu juga tidak batal wudhu seorang pria atau wanita yang menyentuh KHUNTSA MUSYKIL karena keraguan diatas sedang untuk wudhunya KHUNTSA MUSYKIL yang disentuh terdapat dua pendapat ulama namun bila seorang wanita menjadi makmum lelaki jenis ini (KHUNTSA MUSYKIL yang telah ia sentuh) maka shalatnya tidak sah sebab bila ia tidak menjadi hadats akibat bersentuhan dengannya maka imamnya menjadi hadats.

Hukum operasinya haram

📖 شرح جوامع الاخبار ٨ ص-١٥  ١٦ -١٧ مكتبة الشاملة

الحديث الثالث والستون: عن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ((لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال)) [رواه البخاري.
يقول المؤلف -رحمه الله تعالى-: وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ((لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال)) وذلك أن الله -جل وعلا- خلق الخلق من بني آدم وجعلهم صنفين، صنف ذكور وصنف إناث، وجعل لكل صنف ما يناسبه، ما يناسب تركيبه من الأعمال والحركات واللبس وغير ذلك مما يتميز به كل صنف عن الآخر، فمن تشبه بالصنف الآخر فيما هو من خصائصه دخل في هذا الوعيد الشديد، وهو اللعن، ويراد به الطرد والإبعاد عن رحمة الله تعالى، فإذا تشبه الرجل بالمرأة فيما هو من خصائصها، أو تشبهت المرأة بالرجل فيما هو من خصائصه وما يوافق طبعه وتركيبه دخل في هذا الوعيد الشديد؛ لكن هناك أمور مشتركة بين الرجال والنساء، في المآكل والمشارب والمساكن الأمر المشترك لا يدخل في هذا؛ لكن ما يختص بالنساء لا يجوز بحال للرجل أن يتشبه بالمرأة، وما يختص به الرجال لا يجوز للمرأة أن تتشبه بالرجال وهكذا، من ذلكم ما يتعلق بالمنطق والمشية والهيئة واللباس وما أشبه ذلك، وذلكم أن المرأة خلقت من ضلع، والرجل أكمل منها في كثير من الأوصاف هي بحاجة إلى أن تكمل هذا النقص في الزينة {أومن ينشأ في الحلية وهو في الخصام غير مبين} [(١٨) سورة الزخرف] هذا الأصل في المرأة؛ لكن الرجل لأن الله كمله بالخصال وبالمزايا والسجايا التي فاق بها المرأة من غير ظلم للمرأة؛ لأن الله -جل وعلا- جعل فيها من الخصائص ما يناسب فطرتها، وما يناسب ما وكل لها من أعمال، لم يجعل لها من القوة قوة البدن بحيث تزاول من الأعمال ما يزاوله الرجال، ولم يجعل في الرجل من الضعف في الخلق والخلق ما يجعله يزاول أعمال النساء، فإذا زاولت المرأة أعمال الرجال خرجت عن الفطرة التي فطرت عليها، وإذا هبط الرجل إلى المستوى الذي جبل عليه النساء فزاول أعمال النساء أيضا تشبه بالنساء، قد يقول قائل: إن تشبه النساء بالرجال من باب تحصيل الكمال، فماذا يقال عن تشبه بعض الرجال بالنساء؟

وليس عجيبا أن النساء ترجلت ... ولكن تأنيث الرجال عجيب
يعني يوجد مع الأسف الشديد بل في أوساط المسلمين من إذا رأيته لا تجد أدنى فرق بينه وبين المرأة، حتى أنه وجد في بعض المجتمعات الإسلامية من يستعمل بعض الهرمونات التي تبرز الثدي، وهو ذكر خلقه الله ذكرا، كمله وشرفه، وقد كمل من الرجال كثير لكن وجد مثل هؤلاء مع الأسف الشديد.
وعلى كل حال إذا تشبهت المرأة بما يختص به الرجال دخلت في اللعن، وإذا تشبه الرجل بما تختص به النساء دخل في هذا الوعيد، فلنكن على حذر، وإذا كان التشبه تشبه الرجل بالمرأة من المسلمين والمرأة المسلمة بالرجل من الرجال يدخل في هذا اللعن وهو حرام بل كبيرة من كبائر الذنوب فكيف بالتشبه بأعداء المسلمين؟! بأعداء الله وأعداء دينه من الكفار، ومع الأسف أننا نجد بعض المسلمين من يحاكي الكفار في جميع تصرفاته، بل يوجد في بعض المجتمعات الإسلامية بعض البلدان إذا دخلتها لا تفرق بينها وبين بلاد الكفار، وهذا من استحكام الغربة التي نعيشها، والله المستعان، ((لتتبعن سنن من كان قبلكم حذو القذة بالقذة حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه)) فلنحذر من هذا أشد الحذر، يوجد في نساء المسلمين من يتشبه بالكافرات والفاجرات، وقصور الأفراح تعج بمثل هذه الصنوف المؤذية القذرة من التشبه، نسأل الله السلامة والعافية، وكل هذا شعور بالنقص، وإلا فلو اعتز المسلم بدينه ذكرا كان أو أنثى لكان في غنية عن مثل هذه التصرفات التي تحط من قيمته في الدنيا قبل الآخرة، وأما في الآخرة فله هذا الوعيد، والله المستعان.

Wallahu a'lam bish-shoowwab.

htpp//
diskusihukumfiqh212.blogspot

Kamis, 23 November 2017

HUKUM MEMELUK SAUDARA PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI YANG SUDAH DEWASA

KESIMPULAN TEAM DHF

HUKUM MEMELUK SAUDARA PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI YANG SUDAH DEWASA
-----------------------------

pertanyaan:

assalamualaikun....
boleh nnyax ustad..????
jika saudra prempuan mmeluk saudra lki lki d karnkn saudra prempuanfrindu pda saudra lki lki ny sebab lma tdx brtemu....

apkah hal tersebut d bolehkn ustadt.???
skian pertnyaan sya... terima ksiiihh

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum berpelukan dgn saudara laki-laki adalah boleh namun makruh mengingat bbrp pertimbangan
Di antaranya

1.kebolehan bersentuhan dengan mahram hnya sebatas anggota yg aman Dr timbulnya fitnah),syahwat.

2.kesunnahan berpelukan saat bertemu saudara yg lama tdk bertemu ada pada laki-laki dan SMA laki laki nya bgtu pula sebaliknya perempuan dan perempuan.

3.berpelukan rentan timbul nya fitnah dan syahwat.

Sedangkan jika sampai timbul syahwat haram secara mutlak.

📖 REFERENSI:

التوضيح لشرح الجامع الصحيح جز ١٨ ص ٤١٨ مكتبة الشاملة
وفيه: جواز جلوسه بينهما وهما راقدن ومباشرة قدميه وبعض جسده جسم ابنته، وجواز مباشرة ذوي المحارم. وهو خلاف قول مالك، وقول من أجاز ذلك أولى لموافقة الحديث له.

اسنى المطالب ٣ ص ١١٣ مكتبة الشاملة

وقد يحرم المس دون النظر كما ذكره بقوله (ويحرم مس وجه الأجنبية بل يحرم مس ظهر أمه وابنته وغمز ساقها وغمزها إياه) منه وإن لم يحرم نظر ذلك هذا إذا مس ذلك بلا حاجة ولا شفقة وإلا جاز المس أيضا، وعليه يحمل قول النووي في شرح مسلم أنه يجوز بالإجماع مس المحارم في الرأس وغيره مما ليس بعورة، وإنما فرق بينهما فيما ذكر لما مر أن المس أبلغ في اللذة، ولأن حاجة النظر أعم فسومح فيه ما لم يسامح في المس وبذلك علم أنه لا يجوز للممسوح ونحوه المس وإن أبيح له النظر وكوجه الأجنبية كفاها وكالظهر غيره مما هو في معناه وكالأم والبنت سائر المحارم المفهومات بالأولى

الغرر البهية شرح البهحة ٤ ص ١٠٠ مكتبة الشاملة

وما في شرح مسلم للنووي في باب الغزو في البحر من أنه يجوز بالإجماع مس المحارم في الرأس وغيره مما ليس بعورة محمول على المس لحاجة أو شفقة وبما تقرر علم أنه لا يجوز للممسوح وغيره

اسنى المطالب ٣ ص ١١٤ مكتبة الشاملة

وتكره المعانقة والتقبيل) في الرأس والوجه ولو كان المقبل أو المقبل صالحا «قال رجل يا رسول الله: الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له؟ قال: لا، قال: أفيلزمه ويقبله؟ قال: لا، قال: فيأخذ بيده فيصافحه؟ قال: نعم» رواه الترمذي وحسنه (وهما لقادم) من سفر أو تباعد لقاء (سنة) للاتباع رواه الترمذي وحسنه،

بشرى الكريم ١١ ص ٢٧٨ مكتبة الشاملة

وسن تقبيل وجه صاحبه إذا قدم من سفر ونحوه  ومعانقته للحديث الصحيح فيهما، وأما المعانقة وتقبيل الوجه لغير القادم من سفر ونحوه،  فمكروهان، صرح به البغوي وغيره للحديث الصحيح في النهي عنهما، وأما المصافحة، فسنة عند التلاقي، سواء فيها لحاضر والقادم من سفر، والأحاديث الصحيحة فيها كثيرة جدا، وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر، فلا أصل لتخصيصه، لكن لا بأس به، فإنه من جملة المصافحة، وقد حث الشرع على المصافحة، وجعله الشيخ الإمام أبو محمد بن عبد السلام من البدع المباحة، ويستحب مع المصافحة البشاشة بالوجه والدعاء بالمغفرة وغيرها.

روضة الطالبين ١٠ ص ٢٣٦ مكتبة الشاملة

وأما تقبيل اليد، فإن كان لزهد صاحب اليد  وصلاحه، أو علمه أو شرفه وصيانته ونحوه من الأمور الدينية، فمستحب، وإن كان لدنياه وثروته وشوكته ووجاهته ونحو ذلك، فمكروه شديد الكراهة، وقال المتولي: لا يجوز، وظاهره التحريم، وأما تقبيله خد ولده الصغير وبنته الصغيرة وسائر أطرافه على وجه الشفقة والرحمة واللطف ومحبة القرابة، فسنة، والأحاديث الصحيحة فيه كثيرة مشهورة، وكذا قبلة ولد صديقه وغيره من الأطفال الذين لا يشتهون على هذا الوجه، وأما التقبيل بشهوة فحرام بالاتفاق، وسواء في ذلك  الوالد وغيره، بل النظر إليه بالشهوة حرام على الأجنبي والقريب بالاتفاق، ولا بأس بتقبيل وجه الميت الصالح للتبرك.
وسن تقبيل وجه صاحبه إذا قدم من سفر ونحوه،  ومعانقته للحديث الصحيح فيهما، وأما المعانقة وتقبيل الوجه لغير القادم من سفر ونحوه،  فمكروهان، صرح به البغوي وغيره للحديث الصحيح

Tuhfatul mukhtaj juz 7 hal 202 maktabah syamilah

قوله: يحل مس رأس المحرم إلخ) أي بحائل وبدونه اهـ ع ش (قوله: وغيره) أي غير الرأس (قوله: مما ليس بعورة) عبارة شرح الإرشاد يحرم مس ساق، أو بطن محرمه كأمه وتقبيلها وعكسه بلا حاجة ولا شفقة وإلا جاز وعليه يحمل قول شرح مسلم يجوز بالإجماع مس المحارم في الرأس وغيره مما ليس بعورة اهـ وحيث جاز تقبيل المحرم هل يشمل تقبيل الفم اهـ سم أقول قضيته إطلاقهم الشمول (قوله: سواء أمس لحاجة أم شفقة) يقتضي ذلك عدم جوازه عند عدم القصد مع انتفائهما ويحتمل جوازه حينئذ؛ لأنه - صلى الله عليه وسلم - قبل فاطمة وقبل الصديق الصديقة اهـ نهاية قال ع ش قوله: ويحتمل جوازه أي ومع ذلك فالمعتمد ما قدمه من الحرمة عند انتفاء الحاجة والشفقة وما وقع منه - صلى الله عليه وسلم - ومن الصديق محمول على الشفقة اهـ ويظهر رجحان ما جرى عليه المغني من الجواز عبارته والذي ينبغي عدم الحرمة عند عدم القصد وقد قبل - صلى الله عليه وسلم - فاطمة وقبل الصديق الصديقة اهـ.

https://diskusihukumfiqh212.blogspot.com

[ والله اعلم بالصواب ]

HUKUM MEMBACA ROBBIGHFIRLI/LANA SESUDAH AL-FATIHAH

KESIMPULAN TEAM DHF

HUKUM MEMBACA ROBBIGHFIRLI/LANA SESUDAH AL-FATEHAH
----------------------------------

pertanyaan:

Assalamualaikum... Mau tanya bagaimana hukumnya kalau bacaan setelah selesai membaca surat alfatihah dlm solat bacaannya robbighfirlana soalnya d kampung sya ada yg seperti itu...

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

🌹Sunnah mengucapkan Amin sesudah membaca surah Al Fatihah

Baik dalam sholat ataupun di luar sholat.
Namun dlm sholat lebih muakkad kesunnahan nya.

Dan Baik bagi org yg sholat sendirian atau berjamaah.

➡Namun rincian nya:
👉Jika ia imam di Sunnah kan menyaringkan suarah alfatihah nya (dalam sholat jariyah) agar makmum mendengarkan kemudian ikut mengucapkan amiin.

👉Dan disunnahkan diam sejenak (Tidk terlalu lama) sesudah akhir alfatihah (ولا الضالين) baru mengucapkan amiin
Sebagai wujud pemisah/ utk membedakan antara surat Al Fatihah dan amiin tersebut.

👉Adapun bagi makmum sangat di anjurkan mengucapkan amiin bersamaan dgn imam agar bertepatan dgn amiin nya malaikat.

👉Apabila Makmum tdk mendengarkan Fatihah nya imam (misal dlm.sholat siiriyah) maka tidak di sunnahkan mengucapkan amiin
Dari Al Fatihah nya imam.

👉Tetapi sesudah ia (Makmum)  mmbaca surah Al Fatihah di sunnahkan mengucapkan amiin.

➡Kemudian
Bagaimana jika sesudah me baca surah  alfatihah , stelah itu membaca ربى اغفر لي
Bahkan di tambah dgn kalimat
Waliwalidayya walijami'il muslimin (ولوالدىّ ولجميع المسلمين)
Maka hal itu juga tdk membatalkan shalat.
(Sholat nya tetap sah)
Bahkan dalam pengucapan رب اغفر لي
Kemudian baru amain adalh yg Sunnah sebagai mana di contohkan oelh Rasulullah.

👉Dan
Bagaimana mana jika.dalam ucapan amiin di tambah dgn رب العالمين (robbal-a'lamiin)
Maka penbahan kalimat tersebut  tidak merusak atau tdk membatalkan shalat justru malah di nyatakan bagus oleh sebagian ualama'.

Namun menurut pendapat yg lbh shohih adalh cukup dgn amiin tidak perlu di tambah
رب العالمين

👉Kesunnahan mengucapkan amiin sesudah membaca surah alfatihah dgn syarat dtk ada pemisah dgn lafadz lain nya misal sesudah membaca surah lain baik itu sebb dengan sengaja ataupun Krn lupa dan meskipun cuma sedikit ayat yg di baca misal baca bismillah.. (maka tdk disunnahkan mengucap kan amiin)

✔Perhatian...!!✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴✴
Dalam.konteks tidak ada pemisah di kecuali kan (tidak merusak kesunnahan mengucapkan amiin) dgn membaca ربى اغفر لي
Hal ini berdasarkan riwayat hadits bahwa Rasulullah sesudah mengucap kan akhir ayat alfatihah kemudian mengucapkan ربى اغفر لي
Baru mengucapkan amiin.

Selasa, 31 Oktober 2017

SEORANG PEMBERI NASEHAT TETAPI TIDAK MENERAPKAN NYA

KESIMPULAN TEAM DHF
SEORANG PEMBERI NASEHAT TETAPI TIDAK MENERAPKAN NYA
___________________
PETANYAAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pertanyaan dari kolom comentar

Mau tanya lg ada seorang mutifator + ustadzah perkataa ya beda dgn kehidupan sehari harinya dan sering pula berbohong pada suami ya
Tlg penjelasan ya ustad

Mohon pencerahan nya para mujawwib dhf

JAWABAN
وعليكم سلام
****--*****
Memberi nasehat itu mudah, menyuruh orang, tausiah juga mudah. Tujuan nasehat adalah mereka mau menerima dan melakukan, namun apa daya jika  orang yang memberi nasehat itu pun tak jauh beda dengan mereka, alias pemberi nasehat pun tidak menjalankan apa yang dinasehatkan kepada orang lain. Maka mengguaplah nasehat itu tiada berbekas.

************
Sebagian orang enggan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena merasa belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang hendak ia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang hendak ia larang. Dia khawatir termasuk ke dalam golongan orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan

************
apakah seorang harus sempurna dulu amalannya,  untuk bisa menasehati orang lain? Kemudian apakah setiap orang yang tidak melakukannya apa yang ia perintahkan, dan melanggar sendiri apa yang dia larang

ada dua jenis orang dalam masalah ini:

Pertama, adalah orang yang menasehati orang lain, namun dia belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang ia sampaikan, atau meninggalkan kemungkaran yang ia larang
Kedua, adalah orang yang menasehati orang lain sementara sejatinya dia mampu untuk melakukan pesan nasehat yang ia sampaikan. Akan tetapi justru mengabaikan kemampuannya dan ia terjang sendiri nasehatnya,  tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Ia merasa nyaman dan biasa-biasa saja dengan tindakan kurang terpuji tersebut.

Orang jenis pertama, dia belum bisa melakukan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, karena dia belum memiliki daya untuk melakukannya. Bisa jadi karena hawa nafsunya yang mendominasi, setelah pertarungan batin dalam jiwanya.  Sehingga, saat ia melanggar sendiri apa yang dia nasehatkan, dia merasa bersalah dan menyesal atas kekurangannya ini. Serta senantiasa memperbaharui taubatnya.

Untuk orang yang seperti ini, hendaknya ia jangan merasa enggan untuk beramar ma'ruf dan nahi mungkar. Karena tidak menutup kemungkinan, nasehat yang ia sampaikan, akan membuatnya terpacu untuk melaksanakan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang dia larang. Hal ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dalam pengalaman seorang.

Orang ke Dua, dia menerjang sendiri pesan nasehatnya, setelah adanya daya dan kemampuan untuk melakukan nasehat tersebut. Namun justru dia abaikan. Saat menerjangnya pun, dia tidak merasa menyesal dan bersalah atas tindakannya tersebut.

Intinya utk AMAL MA'RUF NAHI MUNGKAR tidak perlu menunggu dirinya sempurna dan baik, Krn memang setiap individual di wajibkan utk ber amal MA'RUF NAHI MUNGKAR tanpa harus menunggu dirinya baik. Namun alangkah baiknya jika ia terlebih dahulu menasehati diri dan mengamalkan nya terlebih dahulu sebelum ia menyuruh orang lain.

Sebagai mana di jelaskan
Oleh
Imam Nawawi;
Bahwa Para Ulama berkata: “Tidak disyaratkan orang yang melakukan Amar Makruf Nahi munkar itu harus sempurna tindakannya, Dan sudah melakukan apa yang telah diperintahkannya dan sudah menjauhi apa yang dicegah olehnya Tapi dia wajib memerintahkan kebaikan meskipun dia sendiri belum melakukan dan wajib mencegah keburukan meskipun dia sendiri masih mengerjakan. Maka yang wajib dia lakukan adalah dua perkara: Memerintahkan diri sendiri untuk melakukan kebaikan dan mencegah dirinya melakukan keburukan serta juga memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. Jika dia melanggar salah satunya, Bagaimana mungkin dia diperbolehkan melanggar yang lainnya?! (Syarah Shahih Muslim 2/23)

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ” ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ : ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﻣِﺮِ
ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﻫِﻲ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻛَﺎﻣِﻞَ ﺍﻟْﺤَﺎﻝِ ، ﻣُﻤْﺘَﺜِﻠًﺎ ﻣَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ، ﻣُﺠْﺘَﻨِﺒًﺎ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ، ﺑَﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺨِﻠًّﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﻪِ ، ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﻠَﺒِّﺴًﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻨْﻬَﻰ ﻋَﻨْﻪُ . ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﻴْﺌَﺎﻥِ : ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻣُﺮَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻫَﺎ ، ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮَ ﻏَﻴْﺮَﻩُ ﻭَﻳَﻨْﻬَﺎﻩُ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺧَﻞَّ ﺑِﺄَﺣَﺪِﻫِﻤَﺎ ، ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺒَﺎﺡُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺈِﺧْﻠَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟْﺂﺧَﺮِ؟ ! ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﺷﺮﺡ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ” ‏(2/23 )


***********
Imam Ibnu hajar di dalam kita (Fathul Bari 13/15) JUGA BERKOMENTAR

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ : ” ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﻟَﻴْﺴَﺖْ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﺻْﻤَﺔٌ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺄَﻭْﻟَﻰ ﻓَﺠَﻴِّﺪٌ ، ﻭَﺇﻟَّﺎ ﻓَﻴَﺴْﺘَﻠْﺰِﻡُ ﺳَﺪَّ ﺑَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﻏَﻴْﺮُﻩُ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ ” ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ” ‏( 13/53 ‏)

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqholani: “Adapun orang yang berkata bahwa tidak boleh melakukan amar makruf kecuali orang yang tidak punya cela. Maka jika dia menghendaki itu yang lebih utama menjadi baik, Jika tidak dia sama saja telah menutup pintu perkara amar makruf nahi munkar jika memang tidak ada lagi yang mau melakukan selain dia


**********

Al.imam Hasan Al Basri juga MEWANTI-WANTI.

ﻭَﻗِﻴﻞَ ﻟِﻠْﺤَﺴَﻦِ ﺍﻟْﺒَﺼْﺮِﻱِّ : ﺇﻥَّ ﻓُﻠَﺎﻧًﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌِﻆُ ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﺧَﺎﻑُ ﺃَﻥْ ﺃَﻗُﻮﻝَ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﺃَﻓْﻌَﻞُ.

ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦُ : ﻭَﺃَﻳُّﻨَﺎ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ؟ ﻭَﺩَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺪْ ﻇَﻔِﺮَ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺄْﻣُﺮْ ﺃَﺣَﺪٌ ﺑِﻤَﻌْﺮُﻭﻑٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻪَ ﻋَﻦْ ﻣُﻨْﻜَﺮٍ.

Ditanyakan kepada Imam Hasan Al Bashri tentang seseorang: “Sesungguhnya Fulan itu tidak mau memberi nasehat dan dia berkata bahwa dia takut masuk kategori orang yang mengatakan apa yang tidak dia kerjakan”.

Maka Imam Hasan Al Bashri menjawab: “Siapa diantara kita yang sudah melakukan apa saja yang sudah kita katakan?! Sungguh syaitan telah berbahagia dengan sebab ini tidak ada lagi yang mau melakukan Amar Makruf Dan tidak ada lagi yang berani melakukan nahi munkar”.


**********
*KESIMPULAN NYA*

di dalam kitab:
( Ghoda’ul Al albab Fisy Syarakh Mandumah Al Adab 1/125)

(Walhasil/KESIMPULAN NYA): “Wajib bagi setiap mukmin beserta syarat -syaratnya melakukan Amar makruf Nahi Munkar meskipun orang fasik dan tanpa izin pemerintah untuk melakukan nahi munkar meskipun terhadap teman duduk bersama yang melakukan maksiyat secara bersama dengannya dan terutama atas dirinya sendiri untuk mengingkarinya KARENA SEMUA MANUSIA mendapatkan perintah untuk melakukan amar makruf nahi munkar

ﻭَﺍﻟْﺤَﺎﺻِﻞُ : ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺆْﻣِﻦٍ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺸُّﺮُﻭﻁِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻘَﺪِّﻣَﺔِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﻟَﻮْ ﻓَﺎﺳِﻘًﺎ ﺃَﻭْ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺇﺫْﻥِ ﻭَﻟِﻲِّ ﺃَﻣْﺮٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺟُﻠَﺴَﺎﺋِﻪِ ﻭَﺷُﺮَﻛَﺎﺋِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼِﻴَﺔِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻓَﻴُﻨْﻜِﺮُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ، ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣُﻜَﻠَّﻔُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﺄَﻣْﺮِ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲِ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ” ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﻦ “ﻏﺬﺍﺀ ﺍﻷﻟﺒﺎﺏ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻵﺩﺍﺏ ” ‏(1/215 )

Wallahu'alam bishawab
Https;//diskusihukumfiqh212.blogspot.com

Sabtu, 14 Oktober 2017

MAKNA KATA KHOLAQA DAN KATA JA'ALA DALAM SETIAP AYAT ALLAH

KESIMPULAN TEAM DHF
MAKNA KATA KHOLAQA DAN KATA JA'ALA DALAM SETIAP AYAT ALLAH
________________________
PERTANYAAN
ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ
Pertanyaan titipan dari temen
Kenapa dalam penciptaan laki2 & perempuan, Allah memakai kata "khalaqa" (mencipta/mewujudkan sesuatu yg sebelumnya tdk ada) dan di ayat yang lain Allah memakai kata "ja'ala"? Kira2 apa rahasia didalamnya?
Ayat yg saya maksud adalah:
( ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧْﺜَﻰٰ * ﻣِﻦْ ﻧُﻄْﻔَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﺗُﻤْﻨَﻰٰ )
[Surat An-Najm 45 - 46]
Dan
( ﺛُﻢَّ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻘَﺔً ﻓَﺨَﻠَﻖَ ﻓَﺴَﻮَّﻯٰ * ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧْﺜَﻰٰ )
[Surat Al-Qiyama 38 - 39]

*JAWABAN*
وعليكم سلام

perbedaan dr dua  ayat di atas

Dari ayat-ayat tersebut, dapat dilihat bahwa kata
خَلَقَ
diartikan sebagai: membuat sesuatu dari yang belum pernah ada sebelumnya atau menciptakan sesuatu sejak semula atau menjadi sebab awal maujudnya sesuatu.

Sedangkan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) artinya: yakni membuat sesuatu dari yang sudah ada sebelumnya.

Jadi sama-sama perbuatan mencipta/menjadikan, tetapi perbuatan خَلَقَ (khalaqa, menciptakan) lebih dahulu daripada perbuatan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan). Pengurutan ini bisa kita amati dalam ayat-ayat diatas.

_______________
Wal hasil:

<□KHOLAQO□>

ketika Allah menciptakan sesuatu yg  tanpa perantara (campur tangan manusia) maka Allah dlm firman nya menggunakan lafadz خلق

Contoh simple

Nabi adam diciptakan dr tanah Allah gunakan kalimat خلق

Berati penciptaan nabi Adam Di ciptakan sebelum ada manusia (manusia pertama)

Contoh: 2

Allah ciptakan langit dan bumi

Allah gunakan
خلق السموات والارض...الخ

________

□> JA'ALA <□

KM terciptanya anak cucu  Nabi adam Allah menggunakan جعل
Sbb berproses melalui manusia.
Dgn cara dari manni,kemudian mnjdi segumpal darah,dan kemudian segumpal.daging lalu di tiupkan ruh.

Yang artinya:

Jika menciptakan sesuatu itu yg seblum nya mmng ada kemudian dr perkara itu Allah ciptkan lagi berti Allah mnciptkan sesuatu yg sudh ada seblum nya mka menggunakan kaliamt جعل.









Contoh  :1

Telur di jadikan ayam yg mana asal tlur itu kluar dr ayam.

Maka itulah yg disebut penciptaan Allah dr sesuatu yg ada sebelumnya.

Maka dlam ayat dlm firman nya Allah gunakan lafadz جعل

***---***
Contoh juga

قال الله عزَّ وجلَّ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Saat peciptaan langit dan bumi Allah gunakan kalimat خلق dalam firman nya.
(Tidak ada sebelumnya)

Kemudian saat menciptakan malam dan siang Allah gunakan kalimat وجعل
Karna adanya malam sesudah Allah ciptakan bumi dan langit.

sila meryjuk ke :Tafsirul imam syafii 2/812 maktabah syamilah.

*****---*****

●penjelasan●

Di antaranya Allah menciptakan manusia ataupun hewan berpasang2 pasangan ada laki2 ada perempuan.

Artinya dr manni itu Allah ciptakan mnjdi makhluq yg berjenis kelamin laki2 dan prempuan.

Yg mana
Akal mansuia tdk akan mmpu menmbus kesempurnaan ke kuasan Allah
Dlm.mnciptakan dr sebuah Mani mnjdi segumpal darah kmudian dijadikan segumpal daging stelah itu di tiupkan ruh dan terciptalah bntuk makhluq yg berjenis kelamin laki2 atau perempuan.

Dr ayat tersebut jenis kelamin merupakan ciptaan Allah yg awal nya mmng tdk ada.
Mk masuk pada mafhum خلق

Smntra manni yg di bentuk mnjdi makhluq sprti manusia adalh merupakan

جعل
Penciptaan Allah yg memng sblm nya di ciptakan manni kemudian di proses mnjdi manusia.

Yakni mnciptakan sswt yg memng sudh ada seblum nya yaitu berasal dr manusia pula.

Berbeda dgn Nabi Adam
Bhw ia di ciptakan dr tanah liat.
Yg mana sblm nya mmng tdk ada manusia
Kmudia Allah ciptkan nabi adam sebagai manusia

*****
Maka penciptaan Nabi Adam itu merupakan penciptaan Allah yg sblm nya tdk ada kmudoan di adakan.

Smntra anak ktrunannya masuk pd kategori ja'ala sbb mmng Allah sudh ciptakan Nabi adam seblm nya

Berti merupakan ciptaan Allah yg mmng sudh ada namun di bentuk dan di ciptakan sedemikian rupa melalui peross penanaman benih dlm rahim yaitu Manni.

***---***
{وجعلنا من الماء كل شيء حي}.

وقال: {إني خالق بشرا من طين} وقال: {ومن آياته أن خلقكم من تراب


*****-----*****

*REFRENSI*

*FIRMAN ALLAH*

وَقَالَ جلّ ثَنَاؤُهُ {قل أئنكم لتكفرون بِالَّذِي خلق الأَرْض فِي يَوْمَيْنِ وتجعلون لَهُ أندادا ذَلِك رب الْعَالمين وَجعل فِيهَا رواسي من فَوْقهَا وَبَارك فِيهَا وَقدر فِيهَا أقواتها فِي أَرْبَعَة أَيَّام سَوَاء للسائلين ثمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِي دُخان فَقَالَ لَهَا وللأرض ائتيا طَوْعًا أَو كرها قَالَتَا أَتَيْنَا طائعين فقضاهن سبع سماوات فِي يَوْمَيْنِ وَأوحى فِي كل سَمَاء أمرهَا وزينا السَّمَاء الدُّنْيَا بمصابيح وحفظا ذَلِك تَقْدِير الْعَزِيز الْعَلِيم}

تفسير الخازن 4/214_215 مكتبة الشاملة

وقيل:
أمات الكافر بالنكرة وأحيا المؤمن بالمعرفة وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثى أي من كل حيوان وهو أيضا من جملة المتضادات التي تتوارد على النطفة فيخلق بعضها ذكرا وبعضها أنثى وهذا شيء لا يصل إليه فهم العقلاء ولا يعلمونه وإنما هو بقدرة الله تعالى
وخلقه لا بفعل الطبيعة مِنْ نُطْفَةٍ إِذا تُمْنى أي تصب في الرحم. وقيل:
تقدر. وفي هذا تنبيه على كمال قدرته، لأن النطفة شيء واحد خلق الله منها أعضاء مختلفة وطباعا متباينة وخلق منها الذكر والأنثى وهذا من عجيب صنعته وكمال قدرته ولهذا لم يؤكده بقوله وأنه هو خلق لأنه لم يدع أحد إيجاد نفسه ولا خلقها ولا خلق غيره كما لم يقدر أحد أن يدعي خلق السموات والأرض وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ
الْأُخْرى أي الخلق الثاني بعد الموت للبعث يوم القيامة.

*-**-*-**-*
التفسير المنير للزحيلى 28 ص 123

٨- وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ: الذَّكَرَ وَالْأُنْثى، مِنْ نُطْفَةٍ إِذا تُمْنى أي والله هو الذي خلق الصنفين: الذكر والأنثى من كل إنسان أو حيوان، من مني أو ماء قليل يصب في الرحم، ويتدفق فيه، ثم ينفخ الله الروح في النطفة، فتصير بنية إنسانية، أو حيوانية، وهذا من جملة المتضادات التي ترد على النطفة، فبعضها يخلق ذكرا، وبعضها يخلق أنثى.
٩- وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرى أي إعادة الأرواح إلى الأجساد عند البعث، فكما خلق الله الإنسان من البداءة، هو قادر على الإعادة، وهي النشأة الآخرة يوم القيامة. فهذا إشارة إلى الحشر.


**-***-**
Tafsir al qyrtubiy 19 hal 117

ثُمَّ كانَ عَلَقَةً) أَيْ دَمًا بَعْدَ النُّطْفَةِ، أَيْ قَدْ رَتَّبَهُ تَعَالَى بِهَذَا كُلِّهِ عَلَى خِسَّةِ قَدْرِهِ. ثُمَّ قَالَ: (فَخَلَقَ) أَيْ فَقَدَّرَ (فَسَوَّى) أَيْ فَسَوَّاهُ تَسْوِيَةً، وَعَدَّلَهُ تَعْدِيلًا، بِجَعْلِ الرُّوحِ فِيهِ (فَجَعَلَ مِنْهُ) أَيْ مِنَ الْإِنْسَانِ. وَقِيلَ: مِنَ الْمَنِيِّ. (الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثى) أَيِ الرَّجُلَ وَالْمَرْأَةَ. وَقَدِ احْتَجَّ بِهَذَا مَنْ رَأَى إِسْقَاطَ الْخُنْثَى. وَقَدْ مَضَى فِي سُورَةِ" الشُّورَى" «٢» أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ وَقَرِينَتَهَا إِنَّمَا خَرَجَتَا مَخْرَجَ الْغَالِبِ. وَقَدْ مَضَى فِي أَوَّلِ سُورَةِ" النِّسَاءِ" «٣» أَيْضًا الْقَوْلُ فِيهِ، وَذَكَرْنَا فِي آيَةِ الْمَوَارِيثِ حُكْمَهُ، فَلَا مَعْنَى لِإِعَادَتِهِ (أَلَيْسَ ذلِكَ بِقادِرٍ) أَيْ أَلَيْسَ الَّذِي قَدَرَ عَلَى خَلْقِ هَذِهِ النَّسَمَةِ «٤» مِنْ قَطْرَةٍ مِنْ مَاءٍ (بِقادِرٍ عَلى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتى) أَيْ عَلَى أَنْ يُعِيدَ هَذِهِ الْأَجْسَامَ كَهَيْئَتِهَا لِلْبَعْثِ بَعْدَ الْبِلَى

*-**-*-**
Mukhtashor ibnu katsir 2 hal 579

ولهذا قال تعالى مستدلاً على الإعادة بالبداءة {أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى} أَيْ أَمَا كَانَ الْإِنْسَانُ نُطْفَةً ضَعِيفَةً مِنْ مَاءٍ مهين {يمنى} أي يُرَاقُ مِنَ الْأَصْلَابِ فِي الْأَرْحَامِ {ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى} أَيْ فَصَارَ عَلَقَةً ثُمَّ مُضْغَةً ثُمَّ شُكِّلَ وَنُفِخَ فِيهِ الرُّوحُ فَصَارَ خَلْقًا آخَرَ سَوِيًّا، سَلِيمَ الْأَعْضَاءِ ذَكَرًا أَوْ أُنثى بإذن الله وتقديره: ولهذا قال تعالى: {فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى}، ثُمَّ قَالَ تعالى: {أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِي الْمَوْتَى}؟ أَيْ أَمَا هَذَا الَّذِي أَنْشَأَ هَذَا الْخَلْقَ السَّوِيَّ مِنْ هَذِهِ النُّطْفَةِ الضَّعِيفَةِ، بِقَادِرٍ عَلَى أَن يعيده كما بدأه؟ كقوله تَعَالَى: {وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عليه}،


*PENJELASAN SECARA ILMIAH*
wa Allahu a'lam Ayat 45-46 surat An-Najm membahas tentang sex determination (penentuan jenis kelamin). Sedangkan ayat 38-39 surat Al-Qiyamah membahas tentang perkembangan embryo Kita tahu bahwa sperma & ovum tidak berjenis kelamin. Yang berjenis kelamin adalah bayi yang akan lahir. Dengan kata lain: pada awalnya, pria/wanita tdk ada. Kemudian Allah menciptakan (khalaqa) pria & wanita. Dari mana penentuan kelamin ini? Seperti firman Allah tersebut: ( ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧْﺜَﻰٰ * ﻣِﻦْ ﻧُﻄْﻔَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﺗُﻤْﻨَﻰٰ ) [Surat An-Najm 45 - 46] "dan sesungguhnya Dialah yang men-ciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, dari mani, apabila dipancarkan". Dari mani/nuthfah/sperma. Sains ternyata sesuai dengan ayat ini. Pelajaran biologi kelas 3 Aliyah dulu menjelaskan bahwa sperma membawa gonosom x atau gonosom y. Sedangkan ovum hanya x. Jika sperma yang membawa gonosom x membuahi ovum (x), maka bayi perempuan (xx). Jika sperma yang membawa gonosom y membuahi ovum (x), maka bayi laki-laki (xy). Ok. Selesai. Ganti ayat 38 surat al-qiyamah. Pertumbuhan janin didalam rahim Tahap I: Morula Setelah fertilisasi (pembuahan ovum oleh sperma), zigot membelah menjadi 2 sel, kemudian terjadi tingkat 3 sel, kemudian tingkat 4 sel, diteruskan tingkat 5 sel, 6 sel, 7 sel, 8 sel, dan terus menerus hingga terbentuk balstomer yang terdiri dari 60-70 sel, berupa gumpalan massif yang disebut morula. Tahap II: Blastula Setelah sel-sel morula mengalami pembelahan terus-menerus maka akan terbentuk rongga di tengah. Rongga ini makin lama makin besar dan berisi cairan. Embrio yang memiliki rongga disebut blastula, rongganya disebut blastocoel, proses pembentukan blastula disebut blastulasi. Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduk. Prosesnya berlangsung selama 5 hari. Tahap III: Nidasi Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam uterus (rahim). Setelah memasuki uterus, mula-mula blastosis terapung-apung di dalam lumen uterus (cairan dalam rahim). Kemudian (hari keenam-ketujuh) setelah fertilisasi, embryo akan mengadakan pertautan dengan dinding uterus (rahim) untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya. Peristiwa embryo menempel pada endometrium uterus (dinding rahim) disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada 12 hari setelah fertilisasi. Ini adalah ta'wil dari ayat 38 surat al-qiyamah ﺛﻢ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻘﺔ "Kemudian jadi sesuatu yang menggantung [allaqa artinya menggantung]". Tahap IV: Gastrulasi Dalam proses gastrulasi disamping terus menerus terjadi pembelahan dan perbanyakan sel, terjadi pula berbagai macam gerakan sel di dalam usaha mengatur dan menyusun sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu dari spesies yang bersangkutan. Pada tahap ini, terjadi perpindahan sel, perubahan bentuk sel dan pengorganisasian embryo dalam suatu sistem sumbu. Kumpulan sel yang semula terletak berjauhan, sekarang terletak cukup dekat untuk melakukan interaksi yang bersifat merangsang dalam pembentukan sistem organ-organ tubuh. Gastrulasi ini menghasilkan 3 lapisan lembaga yaitu lapisan endoderm di sebelah dalam, mesoderm di sebelah tengah dan ectoderm di sebelah luar. Tahap V: Tabulasi Tubulasi adalah pertumbuhan yang mengiringi pembentukan gastrula atau disebut juga dengan pembumbungan. Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyusun diri sehingga berupa bumbung, berongga. Tahap VI: Organogenesis Pembentukan organ & ciri2 spesifik dalam suatu spesies. Organogenesis atau morfogenesis adalah embryo bentuk primitive yang berubah menjadi bentuk yang lebih definitive dan memiliki bentuk dan rupa yang spesifik dalam suatu spesies. Organogensisi dimulai akhir minggu ke 3 dan berakhir pada akhir minggu ke 8. Mungkin, tahap IV, V dan VI adalah ta'wil dari ayat bagian: ﻓﺨﻠﻖ ﻓﺴﻮﻯ "Maka (lalu) Allah mencipta (bagian2 tubuh janin yang belum ada sebelumnya sehingga ia jadi embryo definitif) lalu menyempurnakan (menserasikan serta memberi ruh padanya)" Dengan berakhirnya organogenesis maka ciri-ciri eksternal dan system organ utama sudah terbentuk yang selanjutnya embryo disebut fetus. Nah, sekarang masuk pembahasanan kita. ﻓﺠﻌﻞ ﻣﻨﻩ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻷﻧﺜﻰ "Maka (lalu) Allah menjadikan darinya dua (jenis kelamin) pasangan, yakni laki2 dan perempuan". Ternyata urutan munculnya kelamin memang setelah organogenesis selesai. Minggu ke-9 Bila jenis kelaminnya laki-laki, di usia ini sudah bisa jelas dipastikan. Sementara perempuan masih sesekali meragukan. Sebentuk kuku pada setiap jari tangan dan kakinya muncul di minggu ini. Dalam minggu ini pula pembentukan kulit dan fungsinya berkembang menuju penyempurnaan. Minggu ke-10 Jenis kelamin perempuan bisa diidentifikasikan secara jelas di minggu ini.

***-----***
ayat di surat An-Najm cocoknya memakai "khalaqa" (mewujudkan sesuatu yang belum ada) karena hasil ciptaan tidak bisa disebut dengan bahan baku pembuatan. Kita benar ketika menunjuk kursi kayu sambil mengatakan, "Ini kayu". Karena bisa disebut dengan bahan bakunya, maka proses pembuatannya bisa disebut dengan "ja'ala". Sedangkan bayi laki2/perempuan tdk bisa disebut dengan sperma yang membawa gonosom x atau y. Maka dari itu kata yang digunakan adalah "khalaqa". Sedangkan untuk masalah ayat surat al-qiyamah, mengapa penciptaan kelamin menggunakan kata "ja'ala"? ayat di surat Al-qiyamah cocoknya memakai "ja'ala" (mejadikan sesuatu dari sesuat) karena hasil ciptaan bisa disebut dengan bahan baku pembuatan. Kemaluan laki2 bisa disebut daging. Sedangkan kemaluan perempuan bisa disebut rongga pelvis, kan? Penis dan klitoris awalnya pertumbuhannya sama yaitu berupa invagina ectoderm. Klitoris sebenarnya merupakan sebuh penis yang tidak berkembang secara sempurna. Pada laki-laki evagina ectoderm berkembang bersama terbawanya sinus urogenitalis dari cloaca.

Wallahu'alam bish shawab

Http;//diskusihukumfiqh212.blogspot.com

MEMAKAI CELAK SAAT PUASA

KESIMPULAN TEAM DHF HUKUM MEMAKAI CELAK MATA SAAT BERPUASA ----------------------------- &#128221; PERTANYAAN: assalamu'alaikum ...