Label

Sabtu, 26 Agustus 2017

HUKUM MENGGERAKAN TANGAN SAAT PERNIKAHAN

KESIMPULAN TEAM DHF
HUKUM MENGGERAKAN TANGAN SAAT PERNIKAHAN
-------------------------------------
PERTANYAAN
Aslmkum. . .wb? Apa ada hukumnya ktka gerakan tangan penghulu terus penerima mempelai laki2 jga menggerakan tangannya untk Qabiltu (saya terma nikahnya sifulan) ada slah 1 penghulu tdak mengesahkan sipenerma menggerakan tangnnya jga. Kyax nya penghulu bodoh
JAWABAN PARA MUJAWWIB DHF
وعليكم السلام ورحمةالله وبركاته
Menggerakkan tangan bukan termasuk rukun nikah, sah nikahnya wlwpun tidak mnggerakkan tangannya. Krena rukun nikah cuma 5 . pengantin pria, pngantin wanita, wali, dua saksi, ijab qabul
(أَرْكَانه)
أَي النِّكَاح خَمْسَة
(زَوْجَة وَزوج وَولي وشاهدان)
عدهما ركنا وَاحِدًا لعدم اخْتِصَاص أَحدهمَا بِشَرْط دون الآخر بِخِلَاف الزَّوْجَيْنِ فَإِنَّهُ يعْتَبر فِي كل مِنْهُمَا مَا لَا يعْتَبر فِي الآخر
(وَصِيغَة وَشرط فِيهَا)
أَي الصِّيغَة
(إِيجَاب كزوجتك أَو أنكحتك)
موليتي فُلَانَة مثلا
نهاية الزين ج١ ص٣٠٠
Sy rasa itu hanya skedar tradisi, jd sah2 sj di lakukan, bahkan jika skiranya di tinggalkan, akan timbul gejolak di masyarakat maka lbih baik jgn di tinggalkan, spanjang tradisi tsb tdk haram, sdangkan menggoyang tangan saat ijab qobul itu tdk ada larangan dlm agama ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﻘِﻴﻞٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔُﻨُﻮﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝُ ﻣِﻦْ ﻋَﺎﺩَﺍﺕِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ‏( ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺣِﺪْﺛَﺎﻥُ ﻗَﻮْﻣِﻚِ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔَ ‏) ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﻋُﻤَﺮُ ﺯَﺍﺩَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﻜَﺘَﺒْﺖُ ﺁﻳَﺔَ ﺍﻟﺮَّﺟْﻢِ . ﻭَﺗَﺮَﻙَ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻤَﻐْﺮِﺏِ ﻟِﺈِﻧْﻜَﺎﺭِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟَﻬَﺎ، ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔُﺼُﻮﻝِ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻤَﻐْﺮِﺏِ ﻭَﻓَﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﺇﻣَﺎﻣُﻨَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺛُﻢَّ ﺗَﺮَﻛَﻪُ ﺑِﺄَﻥْ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺃَﻳْﺖ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻮﻧَﻪُ، ﻭَﻛَﺮِﻩَ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻗَﻀَﺎﺀَ ﺍﻟْﻔَﻮَﺍﺋِﺖِ ﻓِﻲ ﻣُﺼَﻠَّﻰ ﺍﻟْﻌِﻴﺪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﺃَﺧَﺎﻑُ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺘَﺪِﻱَ ﺑِﻪِ ﺑَﻌْﺾُ ﻣَﻦْ ﻳَﺮَﺍﻩُ . ‏( ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﺑﻦ ﻣﻔﻠﺢ ﺍﻟﺤﻨﺒﻠﻲ، ﺍﻵﺩﺍﺏ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ، ٢ /٤٧ ) “Imam Ibnu ‘Aqil berkata dalam kitab al-Funun, “Tidak baik keluar dari tradisi masyarakat, kecuali tradisi yang haram, karena Rasulullah SAW telah membiarkan Ka’bah dan berkata, “Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa-masa Jahiliyah…” Sayyidina Umar berkata: “Seandainya orang-orang tidak akan berkata, Umar menambah al-Qur’an, aku akan menulis ayat rajam di dalamnya.” Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan dua raka’at sebelum maghrib karena masyarakat mengingkarinya. Dalam kitab al-Fushul disebutkan tentang dua raka’at sebelum Maghrib bahwa Imam kami Ahmad bin Hanbal pada awalnya melakukannya, namun kemudian meninggalkannya, dan beliau berkata, “Aku melihat orang-orang tidak mengetahuinya.” Ahmad bin Hanbal juga memakruhkan melakukan qadha’ shalat di mushalla pada waktu dilaksanakan shalat id (hari raya). Beliau berkata, “Saya khawatir orang-orang yang melihatnya akan ikut-ikutan melakukannya.” (Al-Imam Ibn Muflih al-Hanbali, al-Adab al-Syar’iyyah, juz 2, hal. 47).
Jarak antara ijab qobul tdk hrs bersambung dgn serta merta jadi Dalam aqad nikah jarak antara IJAB DAN QOBUL adalah dikembalikan pada 'urf [kebiasaan], dan menurut Imam Qoffal jarak antara IJAB dan QOBUL dikatakan berpisah secara lama / THOUL bila jawaban / qobul dari mempelai putra sudah dianggap bukan jawaban dari ijab tersebut. ]. . ﻭﺿﺒﻂ ﺍﻟﻘﻔﺎﻝ ﺍﻟﻄﻮﻝ ﺑﺄﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺯﻣﻨﻪ ﻟﻮ ﺳﻜﺘﺎ ﻓﻴﻪ ﻟﺨﺮﺝ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻦ ﻛﻮﻧﻪ ﺟﻮﺍﺑﺎ ﻭﻷﻭﻟﻰ ﺿﺒﻄﻪ ﺑﺎﻟﻌﺮﻑ . ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ٣ /٢٧٧ Sebetulnya syarat ittishol ijab-qobul di semua akad adalah sama, lihat Fiqih manhajii bab nikah : ﺍﺗﺼﺎﻝ ﺍﻹﻳﺠﺎﺏ ﺑﺎﻟﻘﺒﻮﻝ : ﻭﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺼﻴﻐﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﺼﻞ ﺍﻹﻳﺠﺎﺏ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺑﺎﻟﻘﺒﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻭﺝ ، ﻓﻠﻮ ﻗﺎﻝ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ : ﺯﻭّﺟﺘﻚ ﺍﺑﻨﺘﻲ ، ﻓﺴﻜﺖ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻣﺪﺓ ﻃﻮﻳﻠﺔ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻗﺒﻠﺖ ﺯﻭﺍﺟﻬﺎ ، ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻌﻘﺪ ، ﻟﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﻔﺎﺻﻞ ﺍﻟﻄﻮﻳﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻹﻳﺠﺎﺏ ﻭﺍﻟﻘﺒﻮﻝ ، ﻣﻤﺎ ﻳﺠﻌﻞ ﺃﻣﺮ ﺭﺟﻮﻉ ﺍﻟﻮﻟﻲّ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺪﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻭﺍﺝ ﺃﻣﺮﺍً ﻣﺤﺘﻤﻼً ، ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺴﻜﻮﺕ ﺍﻟﻴﺴﻴﺮ : ﻛﺘﻨﻔﺲ ، ﻭﻋﻄﺎﺱ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻀﺮّ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻌﻘﺪ . Sebagai bandingan akad jual beli, lihat Fiqih manhajiy bab bai' : ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻲ ﺻﻴﻐﺔ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻣﺎ ﻳﻠﻲ : -1 ﺃﻥ ﻻ ﻳﻄﻮﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻹﻳﺠﺎﺏ ﻭﺍﻟﻘﺒﻮﻝ ﺑﻤﺎ ﻳُﺸﻌﺮ ﻋﺮﻓﺎً ﺑﺎﻹﻋﺮﺍﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺒﻮﻝ ، ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﻳﺴﻤﻰ ﺑﺎﺗﺤﺎﺩ ﻣﺠﻠﺲ ﺍﻟﻌﻘﺪ ، ﻓﻠﻮ ﺃﻭﺟﺐ ﺍﻟﺒﺎﺋﻊ ﺍﻟﺒﻴﻊ ، ﺛﻢ ﺣﺼﻞ ﺳﻜﻮﺕ ﻃﻮﻳﻞ ، ﺃﻭ ﻛﻼﻡ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻭﻻ ﺻﻠﺔ ﻟﻪ ﺑﻪ ، ﻭﻟﻮ ﻗﺼﺮ ﺍﻟﺰﻣﻦ ، ﺛﻢ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﺸﺘﺮﻱ ، ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻌﻘﺪ . ﻓﻠﻮ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﺩﺍﺭ ﺣﻮﻟﻪ ، ﺛﻢ ﻗﺒﻞ ﺑﻌﺪ ، ﺻﺢّ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻭﺇﻥ ﻃﺎﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ

HUKUM TOK OTOK (TRADISI MADURA)

KESIMPULAN TEAM DHF
HUKUM TOK OTOK (TRADISI MADURA)
===================================================================================
ASSALAMUALAIKUM WR.WB
Tanya tentang hukum...
Istilah di madura ada (to'otok) bila ada acara mantenan orang yg di undang ada yg bawa beras ada jg yg bawa uang. terus bila punya acara orng2 yg undang biasanya ngundang jg untuk mengembalikan beras dn uang itu.. yg saya tanyakan... apakah ttp punya hutang seandainya beras dn uang itu tidak di kembalikan karna sebrlumnya tidak aqad hutang piutang..??? Makasih
JAWAB:
WAALAIKUM SALAM WR WB.
SECRA GARIS BESAR PRIHAL ADAT TERSEBUT ADA TIGA PENDAPAT ULAMA'
1-mayoritas ulama berpendapat adat yg terjadi sperti pubuen dan tok,otok mutlak hutNG PIUTang yg wajib di bayar.
mka baru menjadi hutang yg wajib di kembalikan oleh shohibul hajah.
2-SEBAGIAN ULAMA MENGHUKUMI pemberian tersebut adalh hibbah bukan hutang yg wajib di kembalikan
.Sbab adanya adad masyarakat tersebut tdk berpengaruh scr hukum syari'at kecuali memng ada kalimat ambilah dan di niati memberi hutangan kepada shohibul hajah.
pendapat ini merupakan qaul aujah/fatwa yg di unggulkan.
3-sebagian ulama' berpendapat tergantung adad yg berlaku di daerah masing2 jika memng dalm adat daerah tersebut di kembalikan maka menjdi hutang yang wajib di kembalikan (pendapat ini merupakan adat yg pada umum nya terjadi dlm walimatul ursy red istilah madura disebut tok otok/pubuwan)
refrensi:
وفى إعانة الطالبين ج ٣ باب القرض
(ﻗﻮﻟﻪ: ﺗﻤﻠﻴﻚ ﺷﺊ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻳﺮﺩ ﻣﺜﻠﻪ) ﻭﻣﺎ ﺟﺮﺕ ﺑﻪ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﻣﻦ ﺩﻓﻊ
اﻟﻨﻘﻮﻁ ﻓﻲ اﻷﻓﺮاﺡ ﻟﺼﺎﺣﺐ اﻟﻔﺮﺡ ﻓﻲ ﻳﺪﻩ ﺃﻭ ﻳﺪ ﻣﺄﺫﻭﻧﻪ، ﻫﻞ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﺒﺔ ﺃﻭ ﻗﺮﺿﺎ ؟
ﺃﻃﻠﻖ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﺟﻤﻊ،
ﻭﺟﺮﻯ ﻋﻠﻰ اﻷﻭﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻗﺎﻝ: ﻭﻻ ﺃﺛﺮ ﻟﻠﻌﺮﻑ ﻓﻴﻪ - ﻻﺿﻄﺮاﺑﻪ - ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺧﺬﻩ ﻣﺜﻼ، ﻭﻳﻨﻮﻱ اﻟﻘﺮﺽ. ﻭﻳﺼﺪﻕ ﻓﻲ ﻧﻴﺔ ﺫﻟﻚ: ﻫﻮ ﻭﻭاﺭﺛﻪ، ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻳﺤﻤﻞ ﺇﻃﻼﻕ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﺑﺎﻟﺜﺎﻧﻲ.
ﻭﺟﻤﻊ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ: ﺑﺤﻤﻞ اﻷﻭﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻌﺘﺪ اﻟﺮﺟﻮﻉ، ﻭﻳﺨﺘﻠﻒ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ اﻷﺷﺨﺎﺹ ﻭاﻟﻤﻘﺪاﺭ ﻭاﻟﺒﻼﺩ.
ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ: ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫا اﻋﺘﻴﺪ ﻭﺣﻴﺚ ﻋﻠﻢ اﺧﺘﻼﻑ ﺗﻌﻴﻦ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ. انتهى ﺑﺠﻴﺮﻣﻲ
______________________________________________________________________________________________________
SECARA RINCI SEBAGAI BERIKUT
TOK OTOK itu nama acaranya
Sedangkan Agenda acaranya, Pubewen, lam salam, dan hadiah.
Pubuwen, dalam istilah madura adalah murni orang yang di undang saat datang meminjamkan atau menghutangkan hartanya, baik berupa uang, gula dsb. Setelah di serahkan lalu shohibul walimah melalui perwakilannya, mencatat pubuwen yang diterima tersebut.
Sedangkan LAM SALAM, itu berupa sungkeman yang biasanya di bungkus amplop, dan tidak akan di ganti.
to'oto' yg brjalan di beberapa daerah ada yg semacam arisan, misalnya di daerah bangkalan dn sampang, to'otoK seperti itu memang untuk di hutangkan, krn dlm pengamatan sy, jk suatu saat uang itu di butuhkan, maka si pemberi itu jg mengadakan to'oto' di rumahnya meskipun di rumahnya saat itu tdk ada acara pesta manten, dn pada saat memberikan sudah jelas niat menghutangkan, begitu pula dari pihak tuan rumah sudah tau dan sudah di rembuk dgn pihak ahli warist,
SEBAGAI CONTOH
tok otok. ketika kita mempunyai hajat untuk bikin pesta pwenikahan misal nya tp kurang modal. di hari sebelum nya kt mengadakan acara tok otok untuk mendapat sumbangan dr anggota nya cek gu. dn nanti ketika si penyumbang ada acara dia jg ngadakan acara jg biar sumbangan td di kembalikan. kadang sumbangan nya smpai 20 hingga 30jt.
(TRADISI YG SPERTI INI ADALH MUTLAK MENJADI HUTANG PIUTANG).
namun ada jg di bbrapa daerah seseorang mau mngawinkan anaknya, lalu dia mengundang tetangga, pada saat undangan datang banyak dari mereka yg mmberi amplop berisi uang, padahal tuan rmh hanya megundang agar ikum menyumbang do'a restu, tapi anehnya di beberapa amplop mash di beri nama, padahal tua rmh tdk ada maksud minta utang, dn tdk ada rembuk dgn ahli warist bhw mau utang,
HAL INI DAPAT KITA LIHAT IBAROH DI BAWAH INI
وَاَلَّذِي تَحَرَّرَ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّهُ لَا رُجُوعَ فِي النُّقُوطِ الْمُعْتَادِ فِي الْأَفْرَاحِ أَيْ لَا يَرْجِعُ بِهِ مَالِكُهُ إذَا وَضَعَهُ فِي يَدِ صَاحِبِ الْفَرَحِ أَوْ فِي يَدِ مَأْذُونٍ إلَّا بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ أَنْ يَأْتِيَ بِلَفْظٍ كَخُذْهُ وَأَنْ يَنْوِيَ الرُّجُوعَ وَيَصْدُقَ هُوَ وَوَارِثُهُ فِيهَا وَأَنْ يُعْتَادَ الرُّجُوعُ فِيهِ وَإِذَا وَضَعَهُ فِي يَدِ الْمُزَيِّنِ وَنَحْوِهِ أَوْ فِي الطَّاسَةِ الْمَعْرُوفَةِ لَا يَرْجِعُ إلَّا بِشَرْطَيْنِ نِيَّةِ الرُّجُوعِ وَشَرْطِ الرُّجُوعِ ا هـ .
Dari ketentuan ini dapat diambil kesimpulan bahwa tidak wajib mengembalikan harta-harta yang menjadi tradisi dalam aneka pesta dalam arti pemilik harta tidak mendapatkan pengembalian hartan yang telah ia berikan pada pemilik pesta kecuali dengan tiga syarat : 1. Saat menyerahkan hartanya menggunakan ungkapan seperti “ambillah,,!!”.
2. Saat menyerahkan hartanya ia berniat dikembalikan dan disepakai oleh pemilik pesta dan ahli warisnya.
3. Terdapat kebiasaan dimasyarakat hal pengembalian harta tersebut.Dan saat harta tersebut diberikan secara langsung ke tangan pemilik pesta atau pada cangkir yang telah diketahui (tempat uang penyumbang acara/bece’an/buwuhan) maka yang disyaratkan hanya dua yakni niat dan mensyaratkan untuk dikembalikan.
[ Haasyiyah al-Jamal XII/116 ].
___________________________________________________________
قال شيخنا والأوجه في النقوط المعتاد في الأفراح أنه هبة لا قرض وإن اعتيد رد مثله( قوله قال شيخنا والأوجه في النقوط إلخ ) عبارة التحفة والذي يتجه في النقوط المعتاد في الأفراح أنه هبة ولا أثر للعرف فيه لاضطرابه ما لم يقل خذه مثلا وينوي القرض ويصدق في نية ذلك هو أو وارثه
Berkata Syaikhuna “Pendapat Yang lebih tampak harta-harta yang ditradisikan dalam pesta-pesta adalah hibah bukan piutang meskipun ditradiskan dimasyarakat untuk dikembalikan...”Redaksi dalam at-Tuhfah “Pendapat Yang lebih tampak harta-harta yang ditradisikan dalam pesta-pesta adalah hibah dan tidak berpengaruh kebiasaan yang berlaku dimasyarakat selama tidak terdapati pernyataan semacam ‘ambillah...!!’ , ia niati menghutangkankan serta disepakati oleh pemilik pesta atau ahli warisnya.
[ I’aanah at-Thoolibiin III/51 ].
______________________________________________________________
قَوْلُهُ : ( وَأَنْ لَا يَحْضُرَهُ ) أَيْ وَمِنْ الشُّرُوطِ أَنْ لَا يَكُونَ طَلَبُ حُضُورِهِ لِخَوْفٍ مِنْهُ عَلَى نَفْسٍ ، أَوْ مَالٍ أَوْ عِرْضٍ أَوْ لِطَمَعٍ فِي جَاهِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ حُضُورِ غَيْرِهِ ، مِمَّنْ فِيهِ ذَلِكَ لِأَجْلِهِ بَلْ يَدْعُوهُ لِلتَّقَرُّبِ أَوْ الصَّلَاحِ أَوْ الْعِلْمِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
Diantara Syarat wajibnya menghadiri undangan pesta pengantin adalah bila undangan tersebut tidak diberikan oleh pemilik pesta atas dasar rasa takut akan jiwa, harta atau harga dirinya atau karena rasa tamak akan pangkat, harta atau kedatangan selainnya yang diundang namun undangan tersebut diberikan karena dasar kekerabatan, kebaikan, keilmuan atau semacam lainnya.
[ Hasyiyah al-Qolyuubi XII/157 ].
Wallaahu A'lamu Bis showaab

HUKUM ZIKIR MENGGUNAKAN TASBIH

KEPUTUSAN TEAM DHF
HUKUM ZIKIR MENGGUNAKAN TASBIH
-------------------------------------
Assalamualaikum
Pertanyaan :
Apa hukumnya zikir dengan mengunakan tasbih?
Jawaban :
Hukum berdzikir dengan menggunakan tasbih adalah Sunnah.
Sedangakan hukum membuatnya tafsil :
-Sunnah, selama tasbih yang dipegangnya itu digunakan untuk berdzikir.
Dan Makruh, jika hanya dibuat sebagai alat yang diputar2 sedangkan hati dan lisannya sibuk dengan membicarakan urusan dunia.
Alat Tasbih sudah dikenal sejak zaman sahabat, Abdullah bin Ahmad meriwayatkan sebuah hadits, beliau menyatakan bahwa Abu Hurairoh mempunyai benang yang berisi seribu biji tasbih, beliau tidak akan tidur kecuali membaca tasbih dengan alat tersebut. Kemudian terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan imam ad-Dailamiy, yang berbunyi, " Sebaik2nya alat berdzikir adalah Tasbih".
Hanya saja Imam munawi pernah menukil dari sebagian ulama yang semasa dengan imam Bulqini, menurut mereka, jika tidak takut terjadi kesalahan menghitung, maka membaca tasbih dengan jari-jemari lebih utama, karena secara berlandasan pada makna hadits secara tersurat. Tetapi jika menggunakan jari-jemari dimhawatirkan akan salah hitung, maka lebih afdhol memakai tasbih.
Sungguh banyak sekali para Wali Allah yang membuat dan memakainya, bahkan Syekh Junaid al-Baghdadi, pernah terlihat menggunakan tasbih, lalu beliaupun ditanyakan akan hal tersebut, " Apakah orang sekelas anda memakai tasbih"? Kemudian beliaupun menjawab, " Tasbih ini sebagai jalan yang dengannya Aku bisa sampai kepada Allah, oleh karenanya, aku tidak akan pernah melepaskannya".
فيض القدير شرح الجامع الصغير
5587 - (ﻋﻠﻴﻜﻦ) ﺃﻳﺘﻬﺎ اﻟﻨﺴﻮﺓ (ﺑﺎﻟﺘﺴﺒﻴﺢ) ﺃﻱ ﺑﻘﻮﻝ ﺳﺒﺤﺎﻥ اﻟﻠﻪ (ﻭاﻟﺘﻬﻠﻴﻞ) ﺃﻱ اﻟﺘﻮﺣﻴﺪ (ﻭاﻟﺘﻘﺪﻳﺲ) ﺃﻱ ﻗﻮﻝ ﺳﺒﻮﺡ ﻗﺪﻭﺱ ﺭﺏ اﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭاﻟﺮﻭﺡ ﻗﺎﻟﻮا: ﻭاﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭاﻟﺘﻘﺪﻳﺲ ﺃﻥ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻟﻷﺳﻤﺎء ﻭاﻟﺘﻘﺪﻳﺲ ﻟﻵﻻء ﻭﻛﻼﻫﻤﺎ ﻳﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﻈﻤﺔ (ﻭاﻋﻘﺪﻥ ﺑﺎﻷﻧﺎﻣﻞ) ﺃﻱ اﻋﺪﺩﻥ ﻋﺪﺩ ﻣﺮاﺕ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﺑﻬﺎ ﻭﻫﺬا ﻇﺎﻫﺮ ﻓﻲ ﻋﻘﺪ ﻛﻞ ﺃﺻﺒﻊ ﻋﻠﻰ ﺣﺪﺗﻪ ﻻ ﻣﺎ ﻳﻌﺘﺎﺩﻩ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻌﺪ ﺑﻌﻘﺪ اﻷﺻﺎﺑﻊ (ﻓﺈﻧﻬﻦ ﻣﺴﺆﻭﻻﺕ) ﻋﻦ ﻋﻤﻞ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ (ﻣﺴﺘﻨﻄﻘﺎﺕ) ﻟﻠﺸﻬﺎﺩﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺄﻣﺎ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﺘﻨﻄﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺨﻴﺮﻩ ﻭﺗﺴﻜﺖ ﻋﻦ ﺷﺮﻩ ﺳﺘﺮا ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﻭاﻟﻜﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻌﻜﺲ ﻓﺈﻥ ﺧﻴﺮﻩ ﻟﻐﻴﺮ اﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﻫﺒﺎء (ﻭﻻ ﺗﻐﻔﻠﻦ) ﺑﻀﻢ اﻟﻔﺎء ﺑﻀﺒﻂ اﻟﻤﺆﻟﻒ (ﻓﺘﻨﺴﻴﻦ) ﺑﻀﻢ اﻟﻤﺜﻨﺎﺓ اﻟﻔﻮﻗﻴﺔ ﻭﺳﻜﻮﻥ اﻟﻨﻮﻥ ﻭﻓﺘﺢ اﻟﺴﻴﻦ ﺑﺨﻄﻪ (اﻟﺮﺣﻤﺔ) ﺃﻱ ﻻ ﺗﺘﺮﻛﻦ اﻟﺬﻛﺮ ﻓﺘﻨﺴﻴﻦ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻫﺬا ﺃﺻﻞ ﻓﻲ ﻧﺪﺏ السبحة اﻟﻤﻌﺮﻭﻓﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻌﺮﻭﻓﺎ ﺑﻴﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻘﺪ ﺃﺧﺮﺝ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺧﻴﻂ ﻓﻴﻪ ﺃﻟﻔﺎ ﻋﻘﺪﺓ ﻓﻼ ﻳﻨﺎﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻪ ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺭﻭاﻩ اﻟﺪﻳﻠﻤﻲ ﻧﻌﻢ اﻟﻤﺬﻛﺮ اﻝﺳﺒﺤﺔ ﻟﻜﻦ ﻧﻘﻞ اﻟﻤﺆﻟﻒ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﻣﻌﺎﺻﺮﻱ اﻟﺠﻼﻝ اﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ ﻋﻘﺪ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﺑﺎﻷﻧﺎﻣﻞ ﺃﻓﻀﻞ ﻟﻈﺎﻫﺮ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻜﻦ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﻣﻦ اﻟﻐﻠﻆ ﻭﺇﻻ ﻓﺎﻝﺳﺒﺤﺔ ﺃﻭﻟﻰ ﻭﻗﺪ اﺗﺨﺬ اﻝﺳﺒﺤﺔ ﺃﻭﻟﻴﺎء ﻛﺜﻴﺮﻭﻥ ﻭﺭﺅﻱ ﺑﻴﺪ اﻟﺠﻨﻴﺪ ﺳﺒﺤﺔ ﻓﻘﻴﻞ ﻟﻪ: ﻣﺜﻠﻚ ﻳﻤﺴﻚ ﺑﻴﺪﻩ ﺳﺒﺤﺔ ﻓﻘﺎﻝ: ﻃﺮﻳﻖ ﻭﺻﻠﺖ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻲ ﻻ ﺃﻓﺎﺭﻗﻪ ﻭﻓﻲ ﺭﻭاﻳﺔ ﻋﻨﻪ ﺷﻲء اﺳﺘﻌﻤﻠﻨﺎﻩ ﻓﻲ اﻟﺒﺪاﻳﺎﺕ ﻻ ﻧﺘﺮﻛﻪ ﻓﻲ اﻟﻨﻬﺎﻳﺎﺕ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﺃﺫﻛﺮ اﻟﻠﻪ ﺑﻘﻠﺒﻲ ﻭﻳﺪﻱ ﻭﻟﺴﺎﻧﻲ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻘﻞ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻒ ﻭﻻ اﻟﺨﻠﻒ ﻛﺮاﻫﺘﻬﺎ ﻧﻌﻢ ﻣﺤﻞ ﻧﺪﺏ اﺗﺨﺎﺫﻫﺎ ﻓﻴﻤﻦ ﻳﻌﺪﻫﺎ ﻟﻠﺬﻛﺮ ﺑﺎﻟﺠﻤﻌﻴﺔ ﻭاﻟﺤﻀﻮﺭ ﻭﻣﺸﺎﺭﻛﺔ اﻟﻘﻠﺐ ﻟﻠﺴﺎﻥ ﻓﻲ اﻟﺬﻛﺮ ﻭاﻟﻤﺒﺎﻟﻐﺔ ﻓﻲ ﺇﺧﻔﺎء ﺫﻟﻚ ﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﺃﻟﻔﻪ اﻟﻐﻔﻠﺔ اﻟﺒﻄﻠﺔ ﻣﻦ ﺇﻣﺴﺎﻙ ﺳﺒﺤﺔ ﻳﻐﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﺣﺒﺎﺗﻬﺎ اﻟﺰﻳﻨﺔ ﻭﻏﻠﻮ اﻟﺜﻤﻦ ﻭﻳﻤﺴﻜﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﻀﻮﺭ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﻻ ﻓﻜﺮ ﻭﻳﺘﺤﺪﺙ ﻭﻳﺴﻤﻊ اﻷﺧﺒﺎﺭ ﻭﻳﺤﻜﻴﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﻳﺤﺮﻙ ﺣﺒﺎﺗﻬﺎ ﺑﻴﺪﻩ ﻣﻊ اﺷﺘﻐﺎﻝ ﻗﻠﺒﻪ ﻭﻟﺴﺎﻧﻪ ﺑﺎﻷﻣﻮﺭ اﻟﺪﻧﻴﻮﻳﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻣﻮﻡ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﺢ اﻟﻘﺒﺎﺋﺢ
(ﺗ ﻛ ﻋﻦ ﻳﺴﻴﺮﺓ) ﺑﻤﺜﻨﺎﺓ ﺗﺤﺘﻴﺔ ﻣﻀﻤﻮﻣﺔ ﻭﺳﻴﻦ ﻭﺭاء ﻣﻬﻤﻠﺘﻴﻦ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﺜﻨﺎﺓ ﺗﺤﺘﻴﺔ ﻭﻫﻲ ﺑﻨﺖ ﻳﺎﺳﺮ ﺃﻭ ﺃﻡ ﻳﺎﺳﺮ ﺻﺤﺎﺑﻴﺔ ﻣﻦ اﻷﻧﺼﺎﺭﻳﺎﺕ ﻭﻗﻴﻞ ﻣﻦ اﻟﻤﻬﺎﺟﺮاﺕ ﻭﻇﺎﻫﺮ اﻗﺘﺼﺎﺭ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺃﻧﻪ ﺗﻔﺮﺩ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﺘﺔ ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﻘﺪ ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﻀﻌﻔﻪ
Mufti al-Azhar, Syekh Athiyah Shaqr menajawab dengan dalil sangat panjang, namun saya ringkas sebagai berikut:
ﻭﺇﻟﻰ ﺟﺎﻧﺐ ﺇﻗﺮاﺭ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻬﺬا اﻟﻌﻤﻞ ﻭﻋﺪﻡ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ، اﺗﺨﺬ ﻋﺪﺩ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭاﻟﺴﻠﻒ اﻟﺼﺎﻟﺢ اﻟﻨﻮﻯ ﻭاﻟﺤﺼﻰ ﻭﻋﻘﺪ اﻟﺨﻴﻂ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻟﻀﺒﻂ اﻟﻌﺪﺩ ﻓﻰ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻬﻢ
Disamping Nabi menyetujui terhadap Sahabat yang membaca tasbih dengan batu kecil [HR Abu Dawud] serta Nabi tidak mengingkarinya, ternyata ada banyak Sahabat dan ulama Salaf yang menjadikan batu, kerikil dan pintalan tali sebagai sarana untuk menghitung bacaan tasbih, dan mereka tidak mengingkarinya.
ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺃﺣﻤﺪ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ اﻟﺪﺭﺩاء ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻧﻮﻯ ﻣﻦ ﻧﻮﻯ اﻟﻌﺠﻮﺓ ﻓﻰ ﻛﻴﺲ، ﻓﺈﺫا ﺻﻠﻰ اﻟﻐﺪاﺓ - اﻟﺼﺒﺢ - ﺃﺧﺮﺟﻬﻦ ﻭاﺣﺪﺓ ﻭاﺣﺪﺓ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻬﻦ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﻔﺪﻥ.
Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam az-Zuhd bahwa Sahabat Abu Darda' memiliki biji Ajwa' dalam sebuah wadah. Jika beliau selesai salat Subuh maka ia mengeluarkannya satu persatu dengan membaca Tasbih hingga habis
ﻭﺃﻗﻮﻝ: ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: "ﻭاﻋﻘﺪﻥ ﺑﺎﻷﻧﺎﻣﻞ ﻓﺎﻧﻬﻦ ﻣﺴﺌﻮﻻﺕ ﻣﺴﺘﻨﻄﻘﺎﺕ " ﻓﺈﻥ ﺣﺒﺎﺕ اﻟﻤﺴﺒﺤﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻛﻬﺎ ﻓﻰ ﻳﺪ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﻻ اﻷﻧﺎﻣﻞ، ﻭﻫﻰ ﺳﺘﺴﺄﻝ ﻭﺗﺴﺘﻨﻄﻖ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ ﻟﺘﺸﻬﺪ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺒﺢ ﺑﻬﺎ
Saya (Syekh Athiyah) katakan bahwa jika Nabi bersabda: "Hitunglah dzikir dengan jari-jari. Sebab ia akan ditanya dan diminta kesaksian" [HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi]. Maka, biji-biji tasbih tidaklah digerakkan kecuali dengan tangan. Maka ia akan ditanya dan dapat bicara disisi Allah agar menjadi saksi bahwa ia bertasbih.
Jika memakai tasbih apa tidak menyerupai agama Hindu? Syekh Athiyah menjelaskan:
ﻓﺎﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﺸﻴﻮاﺋﻴﺔ ﺳﺒﺤﺘﻬﺎ ﺃﺭﺑﻊ ﻭﺛﻤﺎﻧﻮﻥ ﺣﺒﺔ، ﻭاﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﻮﺷﻨﻮﻳﺔ ﺳﺒﺤﺘﻬﺎ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﺛﻤﺎﻥ ﺣﺒﺎﺕ
Kekompok Shiwa tasbihnya sebanyak 84 biji. Aliran Wishnu tasbihnya adalah 108 biji. (Diringkas dari kitab Fatawa al-Azhar, 9/11)
Sementara tasbih yang digunakan umat Islam adalah 99 atau 33. Dengan demikian tidak ada tasyabbuh dengan non Muslim.
Wallahu a'lam

MENUKAH TANPA RESTU MEMPELAI WANITA

KESIMPULAN TEAM DHF
MENIKAH TANPA RESTU MEMPELAI WANITA
------------------------------------
Assalammu'alaikum.
Apa hukum nya pernikahan seseorang sementara sang wanita tidak ridho menikah dengannya ?
Jawaban
1.Pendapat pertama : orang tua boleh menikahkan paksa anak gadisnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Malik dan Imam Syafii serta riwayat dari Imam Ahmad. Alasan pendapat ini adalah hadist di atas bahwa kalau janda lebih berhak atas dirinya, maka artinya orang tua lebih berhak atas anak gadisnya. Kemudian juga hadist yang mengatakan “seorang gadis datang ke Rasulullah s.a.w. mengadu kepada Rasulullah bahwa ayahnya menikahkannya dengan seseorang yang ia tidak menyukainya, lalu Rasulullah s.a.w. memberinya pilihan (boleh melanjutkan dan boleh menolak)” (Hr. Abud Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad). Rasulullah memberinya pilihan, itu menunjukkan bahwa nikahnya sah. Ada juga riwayat hadist tersebut dengan redaksi “gadist walinya lah yang menikahkannya” (HR. Daraqutni).
2.Pendapat kedua : gadis dan janda yang baligh aqil sama sekali tidak boleh dipaksa menikah dan nikah paksa hukumnya tidak sah. Pendapat ini berlandas pada hadist riwayat Bukhari Muslim “Seorang gadis Tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya, begitu juga seorang janda tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya. Seorang sahabat bertanya “bagaimana mengetahui persetujuannya (umumnya mereka malu)?” Rasulullah s.a.w. menjawab “Izinnya adalah ketika ia diam dan tidak menolak”. Shan’ani penulis kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maraam bahwa hadist ini juga menunjukkan kaharaman nikah paksa.
Orang tua diperbolehkan menikahkan anak gadisnya (bukan yang janda / pernah menikah) dengan paksa sesuai haknya sebagai wali mujbir, namun ada beberapa syarat yang harus terpenuhi. Syarat seorang ayah boleh menikahkan anak gadisnya secara paksa di antaranya :
1. Antara calon suami dan anak gadisnya tidak adanya permusuhan.
2. Tidak ditemukan permusuhan yang nyata antara wali dan anak gadis.
3. Calon suaminya tersebut harus selevel / kafa'ah dengan anak gadis.
4. Calon suaminya mampu atau sanggup membayar maskawin mitsil / standar.
5. Menikahkan dengan maskawin mitsil / standar.
6. Maskawinnya harus mata uang negara.
7. Pembayaran maskawin harus kontan.
CATATAN :
Menurut Madzhab Syafi'iyyah untuk ketentuan empat yang pertama, jika salah satunya ada yang tidak terpenuhi maka nikahnya tidak sah bila anak gadisnya sebelumnya tidak rela. Sedangkan ketentuan yang tiga terakhir jika tidak terpenuhi maka nikahnya tetap sah hanya saja hukumnya harom / berdosa.
- Nihayatul Muhtaj VI / 229 Daar El-Fikr Beirut :
وللأب تزويج البكر ( صغيرة وكبيرة ) ( بغير إذنها ) لخبر الدارقطني { الثيب أحق بنفسها من وليها والبكر يزوجها أبوها } وهو مجمع عليه في الصغيرة ، ويشترط لصحة ذلك كفاءة الزوج ويساره بحال صداقها عليه كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى ، فلو زوجها من معسر به لم يصح لأنه بخسها حقها وليس مفرعا على أن اليسار معتبر في الكفاءة خلافا لبعض المتأخرين ، وعدم عداوة بينها وبين الزوج كما بحثه العراقي ، وعدم عداوة ظاهرة بينها وبين الولي وإلا فلا يزوجها إلا بإذنها ، بخلاف غير الظاهرة لأن الولي يحتاط لموليته لخوف العار ولغيره ، وعليه يحمل إطلاق الماوردي والروياني الجواز ، واعتبر الظهور هنا دون ما مر في الزوج لظهور الفرق بين الولي المجبر والزوج ، لأن انتفاء العداوة بينها وبين وليها يقتضي أنه لا يزوجها [ ص: 229 ] إلا لمن يحصل لها منه حظ ومصلحة وشفقة عليها ، أما مجرد كراهتها له من غير ضرر فلا تؤثر ، لكن يكره له تزويجها منه كما نص عليه في الأم لا يقال : يلزم من اشتراط عدالته انتفاء عداوته لتنافيهما .
لأنا نمنع ذلك لما سيعلم في مبحثها أنها قد لا تكون مفسقة
ـ ( قوله : بينها وبين الزوج ) أي لا ظاهرة ولا خفية ( قوله أما مجرد كراهتها ) أي الزوجة ( قوله : أنها قد لا تكون ) أي العداوة ( قوله : وألحق الخفاف ) أي في الشروط المذكورة ( قوله : لا يشترط فيها ظهورها ) أي بل يكون مجرد العداوة مانعا ( قوله لوضوح الفرق بينهما ) وهو أن شفقة الولي تدعوه لرعاية المصلحة ولو مع العداوة الباطنة ، بخلاف الوكيل فإنه لا شفقة له فربما حملته العداوة على عدم رعاية المصلحة ( قوله : ولجواز ) أي ويشترط لجواز إلخ ( قوله : أن محل ذلك ) أي عدم جواز المباشرة إلخ ( قوله : وإلا جاز بالمؤجل ) ومنه ما يقع الآن من جعل بعض الصداق حالا وبعضه مؤجلا بأجل معلوم فيصح
ـ ( قوله : واعتبر الظهور هنا دون ما مر في الزوج إلخ ) عبارة شرح الروض عقب ما مر عن العراقي : وإنما لم يعتبروا ظهور العداوة هنا كما اعتبر ثم لظهور الفرق بين الزوج والولي المجبر ، بل قد يقال لا حاجة إلى ما قاله : يعني العراقي ; لأن انتفاء العداوة إلى آخر ما في الشرح
- Al-Fiqh 'Ala Madzahibil Ar-Ba'ah :
الفقه على المذاهب الأربعة :
الشافعية - قالوا : يختص الولي المجبر بتزويج الصغيرة والمجنون صغيرا أو كبيرا والبكر البالغة العاقلة بدون استئذان ورضا بشروط سبعة :
الشرط الأول : أن لا يكون بينه وبينها عداوة ظاهرة أما إذا كانت العداوة غير ظاهرة فإنها لا تسقط حقهالشرط الثاني : أن لا يكون بينها وبين الزوج عداوة أبدا ظاهرة معروفة لأهل الحي ولا باطنة فلو زوجها لمن يكرهها أو يريد بها السوء فإنه لا يصحالشرط الثالث : أن يكون الزوج كفأالشرط الرابع : أن يكون موسرا قادرا على الصداقوهذه الشروط الأربعة لا بد منها في صحة العقد فإن وقع مع فقد شرط منها كان باطلا إن لم تأذن به الزوجة وترضى بهالشرط الخامس : أن يزوجها بمهر مثلهاالشرط السادس : أن يكون المهر من نقد البلدالشرط السابع : أن يكون حالا
وهذه الشروط الثلاثة شروط لجواز مباشرة الولي للعقد قلا يجوز له أن يباشر العقد أصلا إلا إذا تحققت هذه الشروط فإذا فعل كان آثما وصح العقد على أن اشتراط كون الصداق حالا وكونه من نقد البلد مقيد بما إذا لم تكن العادة جارية بتأجيل الصداق أو بالتزويج بغير نقد البلد كالتزوج بعروض التجارة فإذا كانت العادة جارية به فإنه يجوز . ومتى تحققت هذه الشروط كان للأب أو الجد إجبار البكر صغيرة كانت أو كبيرة عاقلة أو مجنونة ولكن يسن استئذانها تطيبا لخاطرها إذا كانت بالغة
تنبيه : المراد بالعداوة العداوة الدنيوية الظاهرة لأن الباطنة لا يطلع عليها إلا علام الغيوب .قوله : ( الظاهرة ) ويكتفي بما يدل عليها كالمخاصمة ، اكتفاء بالمظنة لما فيه من الاحتياط . وفرق بين العداوة والبغضاء بأن العداوة هي التي تفضي إلى التعدي بالأفعال والبغضاء هي العداوة الكامنة في القلب . اهـ . شوبري
- Tuhfatul Muhtaj VII / 245 :
وعدم عداوة بينها وبينه وعدم عداوة ظاهرة أي بحيث لا تخفى على أهل محلتها بينها وبين الأب وزعم أن انتفاء هذه شرط للجواز لا لصحة غير صحيح ( قوله : وعدم عداوة ظاهرة إلخ ) الظاهر أن المدار على ثبوت العداوة وانتفائها من جانب الولي لا من جانبها حتى لو كان يحبها ، وهي تعاديه كان له الإجبار وفي عكسه ليس له فتأمل اهـ سيد عمر
Tambahan
Kifayatul akhyar 1 hal 360
وَالنِّسَاء على ضَرْبَيْنِ ثيبات وأبكار فالبكر يجوز للْأَب وَالْجد إجبارها على النِّكَاح وَالثَّيِّب لَا يجوز تَزْوِيجهَا إِلَّا بعد بُلُوغهَا وإذنها)
قد تقدم لَك تَرْتِيب الْأَوْلِيَاء من النّسَب وَغَيره وَلَا شكّ أَن أقوى أَسبَاب الْولَايَة الْأُبُوَّة ثمَّ الجدودة لكَمَال شفقتهما فَلهَذَا كَانَ للْأَب وَالْجد تَزْوِيج الْبكر من كُفْء بِغَيْر إِذْنهَا صَغِيرَة كَانَت أَو كَبِيرَة بِمهْر الْمثل لقَوْله عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام الثّيّب أَحَق بِنَفسِهَا من وَليهَا وَالْبكْر تستأمر وإذنها صماتها وَفِي رِوَايَة وإذنها سكُوتهَا والإجبار مَنُوط بالبكارة لَا بالصغر عندنَا خلافًا لأبي حنيفَة ثمَّ هَذَا إِذا لم يكن بَين الْأَب وَالْجد عَدَاوَة ظَاهِرَة فَإِن كَانَ فَفِي جَوَاز إجبارها وَجْهَان قَالَ ابْن كج
وَابْن الْمَرْزُبَان لَيْسَ لَهُ إجبارها وعَلى ذَلِك جرى الرَّافِعِيّ وَالنَّوَوِيّ قَالَ الحناطي وَيحْتَمل الْجَوَاز
قلت جزم الْمَاوَرْدِيّ وَالرُّويَانِيّ بِبَقَائِهِ على ولَايَته وأوردا على أَنفسهمَا بِأَن الْأَب إِذا كَانَ عدوا ووضعها تَحت غير كُفْء وَأجَاب بِأَن خوف الْعَار يرشد إِلَى دفع هَذَا التَّوَهُّم وَالله أعلم وَيسْتَحب أَن تستأذن الْبَالِغَة للْخَبَر وَلَو أقرّ الْأَب أَو الْجد بِالنِّكَاحِ حَيْثُ لَهُ الْإِجْبَار قبل على الْأَصَح لِأَنَّهُ يقدر على الْإِنْشَاء وَمن قدر على الْإِنْشَاء قدر على الاقرار وَفِي وَجه لَا يقبل حَتَّى تشاهده الْبَالِغَة وَلَو استأذنها فِي دون مهر الْمثل فَسَكَتَتْ لم يكف أَو فِي أَن يُزَوّجهَا بِغَيْر كُفْء فَسَكَتَتْ كفى فِي أصح الْوَجْهَيْنِ وَإِن زوج غير الْأَب وَالْجد فَلَا بُد من إِذن الْبكر بعد الْبلُوغ وَيَكْفِي السُّكُوت على الْأَصَح لعُمُوم الْخَبَر ثمَّ حَيْثُ يَكْفِي السُّكُوت فَسَوَاء ضحِكت أَو بَكت إِلَّا أَن تبْكي بصياح أَو ضرب خد فَلَا يَكْفِي وَلَا يكون رضَا وَالله أعلم وَأما الثّيّب أَي الْعَاقِلَة فَلَا يجوز تَزْوِيجهَا إِلَّا بِإِذْنِهَا بعد الْبلُوغ وإذنها النُّطْق لقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم الثّيّب تستنطق وَلَا استنطاق إِلَّا بعد الْبلُوغ بِالْإِجْمَاع
Fathul muin 473
ويجوز لمجبر وهو الأب والجد في البكر توكيل معين صح تزوجه في تزويج موليته بغير إذنها وإن لم يعين المجبر الزوج في توكيله وعلى وكيل إن لم يعين الولي الزوج رعاية حظ واحتياط في أمرها فإن زوجها بغير كفء أو بكفء وقد خطبها أكفأ منه لم يصح التزويج لمخالفته الاحتياط الواجب عليه.

MENGELUARKAN SPERMA DI LUAR KEMALUAN ISTRI

KESIMPULAN TEAM DHF
MENGELUAR KAN SPERMA DI LUAR KEMALUAN ISTRI
------------------------------------
Assalamu alaikum.
Wr. Wb.
Mau tanya bagaimana hukumnya
Suami istri yg sedang berjimak
Tetapi air mani sang suami tidak di keluarkan didalam akan tetapi di keluarkan ?
Jawaban :
المجموع شرح المهذب
ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:
Hukum dasar memuntahkan sperma suami diluar Vagina istri,
Adalah makruh.
(ﻓﺼﻞ) ﻭﻳﻜﺮﻩ اﻟﻌﺰﻝ. ﻟﻤﺎ ﺭﻭﺕ ﺟﺬاﻣﺔ ﺑﻨﺖ ﻭﻫﺐ ﻗﺎﻟﺖ (ﺣﻀﺮﺕ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺴَﺄَﻟُﻮﻩُ ﻋﻦ اﻟﻌﺰﻝ. ﻓﻘﺎﻝ: ﺫﻟﻚ اﻟﻮﺃﺩ اﻟﺨﻔﻰ (ﻭﺇﺫا اﻟﻤﻮءﻭﺩﺓ ﺳﺌﻠﺖ).
Namum hukum itu berkembang menjadi boleh, jika ternyata sang suami mendapatkan ijin dari istri atas tindakannya itu.
Sebab, "menumpahkan sperma kedalam Vagina istri" adalah hak bersama. Jadi, Jika keduanya sama-sama wellcom, maka no problem.
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﺮﺓ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺈﺫﻧﻬﺎ ﺟﺎﺯ ﻻﻥاﻟﺤﻖ ﻟﻬﻤﺎ،
Tetapi, jika tindakan sang suami tersebut tidak mendapatkan persetujuan istri, maka ada dua konsekwensi hukum atas perbuatannya itu.
1. Tidak haram (Makruh), sebab hak istri dalam kegiatan " Persetubuhan" hanya sebatas dia berhak bersenang2 saja. Sedangkan urusan "Memuntahkan sperma kedalam vaginanya" bukanlah murni haknya.
2. Haram, sebab dengan "memuntahkan sperma keluar vagina" dapat memutus keturunan dalam kondisi tidak terjadinya bahaya yang mengancamnya.
ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺄﺫﻥ ﻓﻔﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ.
(ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ) ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻻﻥ ﺣﻘﻬﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﺩﻭﻥ اﻻﻧﺰاﻝ (ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ) ﻳﺤﺮﻡ ﻻﻧﻪ ﻳﻘﻄﻊ اﻟﻨﺴﻞ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺿﺮﺭ ﻳﻠﺤﻘﻪ
Dalam leterarur fiqih 'Azl diartikan sebagai tindakan suami mencabut penis dalam bersenggama ketika mendekati ejakulasi dan mengeluarkan sperma diluar rahim agar tidak terjadi pembuahan, secara hukum setidaknya ada empat pandangan berbeda mensikapi masalah Azl ini :
1. Boleh Secara Mutlak
Pendapat ini dilansir oleh kalangan Syafi'iyyah dengan berdasarkan hadits Shahih yang diriwayatkan dari Jabir Ra
وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – قَالَ : – كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ , وَلَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ اَلْقُرْآنُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (١) .
وَلِمُسْلِمٍ : – فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَنْهَنَا – (٢) .
1. "Kami melakukan Azl dimasa Rasululloh SAW sementara Alquran turun, jika saja hal itu larangan niscaya alQuran akan melarang kami melakukannya".
(Mutafaq 'Alaih/Sunan Ibnu Maajah. 1/ 620)
2. “Kami melakukan `azl pada masa Nabi SAW. Kabar tersebut sampai kepada beliau, tetapi beliau tidak melarangnya.
(HR Muslim)
Akan tetapi menurut An-Nawawy (Ulama' Syafiiyyah) dalam Syarh Muslim menegaskan apabila Azl dilakukan demi menghindari kehamilan hukumnya makruh secara mutlak baik ada kerelaan pihak istri atau tidak karena tindakan Azl dianggap memutus keturunan.
2. Makruh apabila ada HAJAT
Statement ini dipegang oleh kalangan Hanabilah dengan dasar beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Umair dan Ibnu Umair yang membenci Azl karena dapat mengurangi jumlah keturunan yang dianjurkan syara' Sabda Nabi saw "Menikahlah kalian dan memperbanyak keturunan"
3. Boleh apabila ada kerelaan Istri
Pendapat ini Statemen dari Imam ahmad berdasarkan sebuah Hadits dari Umair yang diriwayatkan Ibnu Majah
هَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعْزَلَ عَنْ الْحُرَّةِ إِلَّا بِإِذْنِهَا.
Dari ‘Umar ibn al-Khattab berkata: "Nabi melarang perbuatan `azl terhadap wanita merdeka kecuali seizinnya.
(HR Ibnu Maajah 1/620)
Perlunya kerelaan dari pihak istri ini dikarenakan istri memiliki Hak atas anak sehingga dengan tindakan Azl akan menghilangkan haknya namun apabila istri memberikan memberikan izin hukumnya tidak makruh.
4. Haram
Pendapat ini dilansir oleh kalangan Dhohiriyyah dengan tendensi hadits yang diriwayatkan dari Judzamah Ra
أن الصحابة سألوا رسول الله عن العزل فقال : ذلك الوأد الخفي
Sesungguhnya para shahabat bertanya tentang Azl, Nabi menjawab hal itu adalah pembunuhan anak dengan samar.
(HR. Muslim)
المجموع شرح المهذب
ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:
(ﻓﺼﻞ) ﻭﻳﻜﺮﻩ اﻟﻌﺰﻝ. ﻟﻤﺎ ﺭﻭﺕ ﺟﺬاﻣﺔ ﺑﻨﺖ ﻭﻫﺐ ﻗﺎﻟﺖ (ﺣﻀﺮﺕ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺴَﺄَﻟُﻮﻩُ ﻋﻦ اﻟﻌﺰﻝ. ﻓﻘﺎﻝ: ﺫﻟﻚ اﻟﻮﺃﺩ اﻟﺨﻔﻰ (ﻭﺇﺫا اﻟﻤﻮءﻭﺩﺓ ﺳﺌﻠﺖ) ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻭﻃﺊ ﺃﻣﺘﻪ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ، ﻻﻥ اﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﺑﻬﺎ ﺣﻖ ﻟﻪ ﻻ ﺣﻖ ﻟﻬﺎ ﻓﻴﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻭﻃﺊ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻤﻠﻮﻛﺔ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻡ ﻻﻧﻪ ﻳﻠﺤﻘﻪ اﻟﻌﺎﺭ ﺑﺎﺳﺘﺮﻗﺎﻕ ﻭﻟﺪﻩ ﻣﻨﻬﺎ.
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺣﺮﺓ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺈﺫﻧﻬﺎ ﺟﺎﺯ ﻻﻥاﻟﺤﻖ ﻟﻬﻤﺎ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺄﺫﻥ ﻓﻔﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ.
(ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ) ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻻﻥ ﺣﻘﻬﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﺩﻭﻥ اﻻﻧﺰاﻝ (ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ) ﻳﺤﺮﻡ ﻻﻧﻪ ﻳﻘﻄﻊ اﻟﻨﺴﻞ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺿﺮﺭ ﻳﻠﺤﻘﻪ
Fathul muin 1 hal 575 mktabah syamilah
ويكره بنحو يدها كتمكينها من العبث بذكره حتى ينزل لأنه في معنى العزل.
التذكرة فى الفقه الامام الشافعى جز 1 ص 97
ولا يجوز وطؤها في الحيض وبعده ما لم تغتسل، ولا في الدبر،
والعزل جائز، ويجبرها على ما يقف الاستمتاع أو كماله عليه
478 kifayatul akhyar juz 1
(فَائِدَة) لَو استمنى الرجل بيد امْرَأَته أَو أمته جَازَ لِأَنَّهَا مَحل استمتاعه وَفِي فَتَاوَى القَاضِي حُسَيْن لَو غمزت الْمَرْأَة ذكر زَوجهَا أَو سَيِّدهَا بِيَدِهَا كره وَإِن كَانَ بِإِذْنِهِ إِذا أمنى لِأَنَّهُ يشبه الْعَزْل والعزل مَكْرُوه وَنسخت إِبَاحَته وَالله أعلم
Jawahirul uqud 2 hal 41
فصل والعزل عَن الْحرَّة
وَلَو بِغَيْر إِذْنهَا جَائِز على الْمُرَجح من مَذْهَب الشَّافِعِي لَكِن نهى عَنهُ
فَالْأولى تَركه
وَعند الثَّلَاثَة لَا يجوز إِلَّا بِإِذْنِهَا
وَالزَّوْجَة الْأمة تَحت الْحر
قَالَ أَبُو حنيفَة وَمَالك وَأحمد لَا يجوز الْعَزْل عَنْهَا إِلَّا بِإِذن سَيِّدهَا
وَجوزهُ الشَّافِعِي بِغَيْر إِذْنه
Nihayatuz zain juz 2 hal 349
وتساحق النِّسَاء حرَام ويعزرن بذلك لِأَنَّهُ فعل محرم قَالَه القَاضِي أَبُو الطّيب وإثم ذَلِك كإثم الزِّنَا لقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إِذا أَتَت الْمَرْأَة الْمَرْأَة فهما زانيان وَلَو استمنى الرجل بيد امْرَأَته أَو أمته جَازَ لِأَنَّهَا مَحل استمتاعه وَفِي فَتَاوَى القَاضِي لَو غمزت الْمَرْأَة ذكر زَوجهَا أَو سَيِّدهَا بِيَدِهَا كره وَإِن كَانَ بِإِذْنِهِ إِذا أمنى لِأَنَّهُ يشبه الْعَزْل والعزل مَكْرُوه وَالله أعلم

HUKUM TIDAK MEMBACA BASMALAH DI AWAL SURAH DALAM WAKTU SHOLAT

KESIMPULAN TEAM DHF
HUKUM TIDAK MEMBACA BASMALA DI AWAL SURAH DALAM WAKTU SHOLAT
-----------------------------------
Pertanyaan
Assalamu alikum ya ustadz.. bagaimana hukumnya di awal surat sesudah fatihah tidak membaca basmalah dan apa dalilnya ? terimakasih
Jawaban
_Mambaca basmalah surah alfatihah adalh wajib
Krn basmalah dlm madzhab syafii masuk pada sebagian dr ayat surah alfatihah.
_sehingga apabila dlm sholat saat membaca surah al fatihah tdk mmbaca basmalah mka tidak sah shsolat nya.
Basmalah di luar sholat
Di baca pada saat permulaan ayat.
Atau saat permulaan mmbaca ayat al qur'an.
Saat permulaan juz al qur'an boleh mmbaca basmalah lagi atau pun tdk mmbaca basmalah lagi.
Dalam surah al-bara'ah tidak di tulis basmalah dan tdk di sunnahkan mmbaca basmalah pada awal surah nya
Sbb surah al bara'ah bukan surah yg berisi ke amanan justru berisi ancaman2
Krn ketika dlm surah2 al qur,an yg berisi janji.laknat.murka maka berti tdk di intisab Rahmah dgn basmalah.
Sehingga di anggap cukup dgn mmbca taawwudz saja.
Namun dlm pertengahan ayat al baro'ah di perbolehkan mmbaca basmalh.
Serta juga di sunnahkan mmbca basmalah saat mengulng2 surah.
Wajib membaca SURAH ALFATIHAH DISETIAP RAKAAT SHOLAT (MADZHAB SYAFii)
Imam abu hanifah tdk mewajibkan mmbca surah alfatihah kecuali 2 rakaat pertama saja.
Menurt imam malik apabila membaca lebh banya dr dua rakaat sholat maka sudh cukup.
Imam hasan al basry mabaca surah al fatihah cukup dlm 1 rakaat saja.
Apakah wajib bagi makmum mmbaca surah alfathihah saat imam menyaringkan bacaan al fatihah nya..?
Ada dua pendapat
1.ttp wajib bagi makmum.
Ini merupakan pendapat yang paling shohih
2. Menurt imam malik dan imam ahmad dan imam daud. Imam abu hanifah. Imam al tsauriy tdk wajib bagi makmum mmbaca al fatiahah
Kemudian jk mengacu pada pendapat ke 2 ini
Bagaimakah apabila imam membaca pelan/lirih surah alfatihah nya.dlm sholat jahriyah.?
Maka ada 2 pendapat.
1.fatihah makmum nya ttp gugur
2. Tdk gugur ttp wajib bc fataihah.
Meskipun makmum tersebut jauh dr imam sekiranya tdk mmdengarkan bacaan imam
Sebagaimana dijelaskan olh
Imam al qodliy husaiin.
Semntara yg shohih adalh
Sesungguh nya yg di anggap ketika ketika hal dlm adlh menempatkan hal tersbut pd tempatnya maka tdk bisa berubah hukum fardlu nya dgn sbb imam yg melakukan nya dgn nyaring trutama dlm sholat sirriyaha (yg tdk di sunnahkan mnyaringkan bacaan)
HUKUM MEMBACA BASMALAH DALAM SUARAH ALFATHIHA DALAM SHOLAT
LINTAS MADZHAB
MENURUT MADZHAB SYAFII wajib/fardlu.
menurut IMAMA MALIK ,IMAM AHMAD.
Di ceritakan oleh imam hasan bin sholih dan imam ashom bahwa mmbaca basmalah dlm sholat adalah sunnah.
Menurut IMAM YUSUF DAN IMAM MUHAMMAD
dalam sholat hanya wajib mmbaca tiga ayat saja selebih nya sunnah,
Atau membaca 1 ayat tp ayat2 yg panjang sprti ayat ADDIN.
Basmalah sebagian ayat dari
Suarah alfatihah dan setipa suarah2 yg lain nya.
Oleh sbb itu imam AHAMAD menjelaskan menyampaikan perkataan imam Atho' dan imam ZUHRIY ,IMAM ABDULLAH BIN MUBAROK
Kemudian imam IBNU MUBAROK mengatakan bahwa barang siapa yg mmeninggalkan mmbaca BASMALAH berti iantelah meninggalkn 113 ayat dr al_qur'an.
SYAIKH ABU HAMID dari kalngan syafiiyah dlm pendpat lain nya bahwa BASMALAH selain dlm surah alfatihah (suarah2 yg lain nya) tdk termasuk bagian dr Alqur'an (di tulis hanya sebagai fashil/pemisah surah saja).
Imam ABU ALI BIN ABI HUTAIROH
mngatakan bahwa basmalah adalh termasuk ayat alquran scr pasti disetiap dimana basmalah tersebut disebutkan.
Umum nya ulama madzhab syafii menetapkan basmalah di awal setiap surah.
Olh sebb itu menetapkan hukum wajibnya mmbaca basmalah dlama sholat dan menjadi syarat sah nya sholat.
Imam Abu Hanifah
Imama Malkk, Imam Daud mengatakan bahwa basmalah tdk termasuk dr alfatihah bahkan bukan ayat dari surah2 yg lain nya selain yg ada di surah an_naml
Yg artinya bhw basmalah adlah ayat dr surah an_naml.
Imam Abu Hasan al karkhiy (bukan ashab syafii) ada 1 riwayat bhw dlm madzhab imam Abu hanifah dan imam malik dll menyamarkan bacaan basmalah dalam sholat
Kemudian imam Abu Hassn al karkhiy berkata bahwa basmalah adalh sebagian ayat dari surah an _naml kmudian di pindahkan di awal surah utk memisah surah2 al qur'an
Seperti itulah apa yg di hikayatkan imam Abu bakar al karkhiy.
sy (mushonnizf) mendengar perkataan Imam Abu Bakar ar_rozy
Bhw basmalah adalah ayat al qur'an yg sepurna secara terpisah setiap tempat yg sudah ditetapkan
Dan basmalah bukan lah surah alfatihah atau yg lain nya dan,
basmalah adalh sebagian ayat dari surah an_naml.
Imam ssyafii membaca basmalah dgn keras/nyaring sblm alfathiha dan sblm surah2
Sbgaimana di riwayatkan olh imam atho' imam thous .imam sya'id bin jabiir dan imam mujahid beliau semua mmbaca basmalah dgn keras/nyaring dlm sholat berdasarkan riwayat syaiyidina uma bin khoththob.
Imam mundzirberkata bhw imam imam ishaq bin rohwayyah lebih condong terhadap membaca basmalah nyaring.
Imam ahmad, imam al_tsauriy dan imam Ahmad membaca basmalah pelan/lirih.
Imam malik men sunnahkan tdk membaca basmalah dalam sholat bahkan susnnah langsung mmnca alhamdulillahi robbil aa laamiin...
Imam ibnu abi lail berkata mmbaca basmalah lirih atau nayaring semua nya baik.
Imam nakho'i berkata mmbaca basmalah dgn keras/nyaring adalh BID'AH.
Dan
Wajib muwalah/terus mnerus dlm mmbaca alfatihah tdk boleh ada fasil pemisah Apa bila ada niat memutus surah alfatihah atau diam maka terputuslah bacaan alfatihah nya. (Tdk sah Wajaib mengulangz alfatihah nya dr awal lg)
Di sebutkan dlm kitab al_Hawi bhw apabila diam yg lama maka terputus surah alfatihah nya apa bila diam nya sebentar maka khilaf
Menurt qaul yg lebh shohih bwh diam saat mmbaca surah alfatihah meski sebntar adalh memutus bacaan surah alFathihah tersebutz
Mnurt qaul ke dua tdk lah di anggap terputus.
Pendapat yg lebig shohih adlh yg pertama.
Apabila imam sudh uacap aamiin dan ma'mum nya blm selesai mmbaca surah alfatihah
K menurt imam abu Ali dlm kitab AL IFSHOH makmum disunnahakan mmbaca aamiin juga dan fatihah nya tdk di anggap putus.
Syaikh ABU HAMID RA mengatakan fatihah nya trputus dan wajib mengulang kembali
Pendapat yg lebih benar adalh tdk putus fatihah nya sebagaimana pendapat yg di pilih olh imam al qodli aby thoyyib RA.
كفاية الاخيار_105/ 104 جز 1
فَكبر ثمَّ اقْرَأ بِأم الْكتاب) وَهَذَا ظَاهر فِي دلَالَة الْوُجُوب قَالَ فِي أصل الرَّوْضَة وبسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم آيَة كَامِلَة من أول الْفَاتِحَة بِلَا خلاف وَحجَّة ذَلِك أَن عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام
(عد الْفَاتِحَة سبع آيَات وعد الْبَسْمَلَة آيَة مِنْهَا) وَعَزاهُ الإِمَام وَالْغَزالِيّ إِلَى البُخَارِيّ وَلَيْسَ فِي صَحِيحه نعم ذكره فِي تَارِيخه وروى أَبُو هُرَيْرَة رَضِي الله عَنهُ قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
(إِذا قَرَأْتُمْ الْحَمد فاقرءوا بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم إِنَّهَا أم الْقُرْآن وَأم الْكتاب والسبع المثاني وبسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم آيَة مِنْهَا أَو قَالَ هِيَ إِحْدَى آياتها) وَعَن أم سَلمَة رَضِي الله عَنْهَا أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
(عد الْبَسْمَلَة آيَة من الْفَاتِحَة) وَقَالَ أَبُو نصر الْمُؤَدب اتّفق قراء الْكُوفَة وفقهاء الْمَدِينَة على أَنَّهَا آيَة مِنْهَا فَإِن قلت فَفِي صَحِيح مُسلم عَن عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
(كَانَ يستفتح الصَّلَاة بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَة بِالْحَمْد لله رب الْعَالمين) فَالْجَوَاب أَن المُرَاد قِرَاءَة السُّورَة الملقبة بِالْحَمْد لله رب الْعَالمين فَإِن قيل هَذَا خلاف الظَّاهِر فَالْجَوَاب تعْيين ذَلِك جمعا بَين الْأَدِلَّة
(فَائِدَة) هَل ثُبُوت الْبَسْمَلَة قُرْآنًا بِالْقطعِ أم بِالظَّنِّ قَالَ فِي شرح الْمُهَذّب الْأَصَح أَن ثُبُوتهَا بِالظَّنِّ حَتَّى يَكْفِي فِيهَا أَخْبَار الْآحَاد لَا بِالْقطعِ وَلِهَذَا لَا يكفر نافيها باجماع الْمُسلمين قَالَ ابْن الرّفْعَة حكى العمراني أَن صَاحب الْفُرُوع قَالَ بتكفير جاحدها وتفسيق تاركها وَالله أعلم قلت قد حُكيَ الْمَاوَرْدِيّ والمحاملي وَإِمَام الْحَرَمَيْنِ وَجْهَيْن فِي الْبَسْمَلَة هَل هِيَ فِي الْفَاتِحَة قُرْآن على سَبِيل الْقطع كَسَائِر الْقُرْآن أم على سَبِيل الحكم وَمعنى الحكم أَن الصَّلَاة لَا تصح إِلَّا بهَا فِي أول الْفَاتِحَة قَالَ الْمَاوَرْدِيّ قَالَ جُمْهُور أَصْحَابنَا هِيَ آيَة حكما لَا قطعا فعلى قَول الْجُمْهُور يقبل فِي إِثْبَاتهَا خبر الْوَاحِد كَسَائِر الْأَحْكَام وعَلى الآخر لَا يقبل كَسَائِر الْقُرْآن وَإِنَّمَا ثبتَتْ بِالنَّقْلِ الْمُتَوَاتر عَن الصَّحَابَة فِي إِثْبَاتهَا فِي الْمُصحف وَالله أعلم
الفقه المنهاجى 131 جز 1
٤ـ قراءة الفاتحة:
وهي ركن في كل ركعة من الصلاة، أيا كان نوعها.
دليل ذلك:
ما رواه البخاري (٧٢٣)، ومسلم (٣٩٤): أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: "لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب".
والبسملة آية منها، فلا تصح الفاتحة التي لم يبدأها المصلي ببسم الله الرحمن الرحيم، لما روى ابن خزيمة بإسناد صحيح، عن أم سلمة رضي الله عنها: أن النبي - صلى الله عليه وسلم - عد بسم الله الرحمن الرحيم آية.
القول السديد غى العلم التجويد 1 ص 40
المبحث الخامس البسملة
عناصر المبحث:
١ - معنى البسملة.
٢ - صيغتها.
٣ - حكمها فى أوائل السور.
٤ - حكمها فى أجزاء السور.
٥ - قول الشاطبى رحمه الله.
شرح العناصر
١ - البسملة: مصدر (بسمل): أى إذا قال: بسم الله، والبسملة كلمة موجزة أريد بها الاختصار مثل: (حوقل): أى قال: لا حول ولا قوة إلا بالله، (وحيعل):
أى قال: حى على الصلاة.
٢ - صيغتها: هى التى وردت فى سورة النمل فى قوله تعالى: إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ [النمل: ٣٠]. وهى بعض آية ولا خلاف بين العلماء فى ذلك، كما أنهم متفقون على إثباتها فى أول الفاتحة.
٣ - حكمها فى أوائل السور: القراء مجمعون على الإتيان بها فى أوائل السور (١) سوى سورة براءة (٢).
٤ - حكمها فى أجزاء السور: القارئ مخير بين الإتيان بالبسملة أو تركها (٣). لا فرق بين سورة براءة وغيرها.
(١) وذلك لكتابتها فى المصحف لما ورد فى الأحاديث الصحيحة: أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم كان لا يعلم انتهاء السورة حتى تنزل عليه: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ*. أخرجه الحاكم فى المستدرك ١/ ٢٣١ فى كتاب الصلاة.
(٢) الحكمة فى ذلك سأل ابن عباس عليا رضي الله عنهما: لم لم تكتب البسملة أول «براءة»، فقال: لأن بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ* أمان وبراءة ليس فيها أمان، فلا تناسب بين الأمان والسيف (من كتاب الوافى على شرح الشاطبية للشيخ عبد الفتاح القاضى رحمه الله ص ٤٨).
(٣) مع أفضلية الإتيان بها إلا إذا كان الابتداء بالوعيد أو اللعن أو الغضب مما لا يناسب الرحمة التى فى البسملة، فيكتفى بالاستعاذة ابتداء. اهـ.
٥ - قول الشاطبى رحمه الله (١):
ولا بدّ منها فى ابتدائك سورة ... سواها وفى الأجزاء خيّر من تلا
تنبيه: عند التكرير للسورة يتعين الإتيان بالبسملة فى أولها؛ لتبيان أول السورة من آخرها.
Al iqna' 133
وبسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم آيَة مِنْهَا) أَي من الْفَاتِحَة لما رُوِيَ أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عد الْفَاتِحَة سبع آيَات وعد بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم آيَة مِنْهَا
رَوَاهُ البُخَارِيّ فِي تَارِيخه
وروى الدَّارَقُطْنِيّ عَن أبي هُرَيْرَة رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ أَنه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ إِذا قَرَأْتُمْ الْحَمد لله فاقرؤوا بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم إِنَّهَا أم الْقُرْآن وَأم الْكتاب والسبع المثاني وبسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم إِحْدَى آياتها
وروى ابْن خُزَيْمَة بِإِسْنَاد صَحِيح عَن أم سَلمَة أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عد بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم آيَة وَالْحَمْد لله رب الْعَالمين إِلَى آخرهَا سِتّ آيَات
وَهِي آيَة من كل سُورَة إِلَّا بَرَاءَة لإِجْمَاع الصَّحَابَة على إِثْبَاتهَا فِي الْمُصحف بِخَطِّهِ أَوَائِل السُّور سوى بَرَاءَة
دون الأعشار وتراجم السُّور والتعوذ فَلَو لم تكن قُرْآنًا لما أَجَازُوا ذَلِك لِأَنَّهُ يحمل على اعْتِقَاد مَا لَيْسَ بقرآن قُرْآنًا وَلَو كَانَت للفصل كَمَا قيل لأثبتت فِي أول بَرَاءَة وَلم تثبت فِي أول الْفَاتِحَة
فَإِن قيل الْقُرْآن إِنَّمَا يثبت بالتواتر
أُجِيب بِأَن مَحَله فِيمَا يثبت قُرْآنًا قطعا أما مَا يثبت قُرْآنًا حكما فَيَكْفِي فِيهِ الظَّن كَمَا يَكْفِي فِي كل ظَنِّي وَأَيْضًا إِثْبَاتهَا فِي الْمُصحف بِخَطِّهِ من غير نَكِير فِي معنى التَّوَاتُر
فَإِن قيل لَو كَانَت قُرْآنًا لكفر جاحدها
أُجِيب بِأَنَّهَا لَو لم تكن قُرْآنًا لكفر مثبتها وَأَيْضًا التَّكْفِير لَا يكون بالظنيات وَهِي آيَة من أول الْفَاتِحَة قطعا وَكَذَا فِيمَا عدا بَرَاءَة من بَاقِي السُّور على الْأَصَح وَالسّنة أَن يصلها بِالْحَمْد لله وَأَن يجْهر بهَا حَيْثُ يشرع الْجَهْر بِالْقِرَاءَةِ
فَائِدَة مَا أثبت فِي الْمُصحف الْآن من أَسمَاء السُّور والأعشار شَيْء ابتدعه الْحجَّاج فِي زَمَنه
Minhajul qowim 90
والبسملة" آية منها عملا بما صح أنه صلى الله عليه وسلم عدها آية منها وأنه قال: "بسم الله الرحمن الرحيم إحدى آياتها وآية من كل سورة غير براءة" , كما دل عليه خبر مسلم وغيره فهي قرآن ظنًا لا قطعًا لعدم التواتر
والبسملة) آية كاملة منها عملاً، ويكفي في ثبوتها الظن، سيما وقد قرب من اليقين؛ لإجماع الصحابة على ثبوتها في المصحف بخطه، مع مبالغتهم في تجريده عما ليس منه حتى نقطه وشكله، وأما إثبات نحو أسماء السور والأعشار فيه .. فأحدثها
الحجاج فيه، على أنه ميز ذلك بجعله بغير خط المصحف، بل هي من المتواتر عند بعض قراء السبع، وصح عدّها آية منها. وخبر: "إذا قرأتم .. فاقرؤوا بسم الله الرحمن الرحيم"، ويجهر بها حيث يجهر بالفاتحة، كما رواه أحمد وعشرون صحابياً بطرق ثابتة.
والأصح: أنها آية من كل سورة إلا (براءة)؛ لأنها نزلت بالسيف، فتحرم أولها، وتكره أثناءها، وقال (م ر): (تكره أولها، وتسن أثناءها، وتندب أثناء غيرها اتفاقاً).
شرح المقدمة الحضرمية جز 1 ص 203
فصل ثمَّ يقْرَأ فَاتِحَة الْكتاب
وَذَلِكَ فرض فِي الصَّلَاة وَبِه قَالَ مَالك وَأحمد ويحكى عَن الْحسن بن صَالح والأصم أَن الْقِرَاءَة سنة فِي الصَّلَاة
وَقَالَ أَبُو حنيفَة لَا تتَعَيَّن قِرَاءَة فَاتِحَة الْكتاب فِي الصَّلَاة وتجزئه قِرَاءَة آيَة
وَقَالَ ابو يُوسُف وَمُحَمّد يجب قِرَاءَة ثَلَاث آيَات قصار أَو أَيَّة طَوِيلَة كآية الدّين
ويبتدىء الْقِرَاءَة بِبسْم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم وَهِي آيَة من الْفَاتِحَة وَمن كل سُورَة ذكرت فِي فاتحتها وَبِه قَالَ أَحْمد وَهُوَ قَول عَطاء وَالزهْرِيّ وَعبد الله بن الْمُبَارك وَكَانَ ابْن الْمُبَارك يَقُول من ترك بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فقد ترك مائَة وَثَلَاث عشرَة آيَة من الْقُرْآن
وَذكر الشَّيْخ ابو حَامِد رَحمَه الله أَن من اصحابنا من قَالَ للشَّافِعِيّ رَحمَه الله قَول آخر فِي غير الْفَاتِحَة أَنَّهَا لَيست من الْقُرْآن
وَقَالَ ابو عَليّ بن أبي هُرَيْرَة هِيَ آيَة من الْقُرْآن فِي كل مَوضِع ذكرت فِيهِ قطعا
وَعَامة أَصْحَابنَا قَالُوا نثبتها فِي أول كل سُورَة حكما فِي وجوب قرَاءَتهَا وَتعلق صِحَة الصَّلَاة بهَا
وَقَالَ أَبُو حنيفَة وَمَالك وَدَاوُد لَيست من فَاتِحَة الْكتاب وَلَا من سَائِر السُّور غير النَّمْل وَهِي بعض آيَة فِي النَّمْل
وَقَالَ ابو الْحسن الْكَرْخِي لَيْسَ عَن اصحابنا رِوَايَة فِي ذَلِك ومذهبهم إِخْفَاؤُهَا وَذَلِكَ يدل على أَنَّهَا لَيست من فَاتِحَة الْكتاب وَكَانَ أَيْضا يَقُول إِنَّهَا من سُورَة النَّمْل ثمَّ نقلت إِلَى أَوَائِل السُّور للفصل كَذَا حكى أَبُو بكر الرَّازِيّ
وَقَالَ أَبُو بكر الرَّازِيّ وسمعناه يَقُول بعد ذَلِك إِنَّهَا آيَة تَامَّة مُفْردَة فِي كل مَوضِع أَثْبَتَت فِيهِ وَلَيْسَت من السُّورَة وَهِي بعض آيَة فِي سُورَة النَّمْل
قَالَ الشَّافِعِي رَحمَه الله ويجهر بِبسْم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم قبل أم الْقُرْآن وَقبل السُّورَة وَرُوِيَ ذَلِك عَن عَطاء وطاووس وَسَعِيد بن جُبَير وَمُجاهد أَنهم كَانُوا يجهرون بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم ويروى عَن عمر بن الْخطاب وَابْن عمر رَضِي الله عَنْهُمَا
قَالَ ابْن الْمُنْذر كَانَ إِسْحَاق بن رَاهَوَيْه يمِيل إِلَى الْجَهْر بِبسْم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم
وَقَالَ أَبُو حنيفَة وَالثَّوْري وَأحمد يسر بهَا
وَقَالَ مَالك الْمُسْتَحبّ أَن لَا يقْرَأ بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم بل يفْتَتح الْقِرَاءَة بِالْحَمْد لله رب الْعَالمين
وَقَالَ ابْن أبي ليلى إِن جهرت فَحسن وَإِن أخفيت فَحسن
وَكَانَ النَّخعِيّ يَقُول الْجَهْر بهَا بِدعَة
وَتجب الْمُوَالَاة فِي الْقِرَاءَة فَإِن نوى قطع الْقِرَاءَة وَسكت انْقَطَعت
وَذكر فِي الْحَاوِي أَنه إِذا سكت طَويلا انْقَطَعت وَإِن كَانَ قَلِيلا فَفِيهِ وَجْهَان
أصَحهمَا أَنَّهَا تَنْقَطِع وَالْأول أصح
فَإِن قَالَ الإِمَام آمين والماموم لم يفرغ من الْفَاتِحَة فقد ذكر أَبُو عَليّ فِي الإفصاح أَنه يَقُول آمين وَلَا تَنْقَطِع قِرَاءَته
وَكَانَ الشَّيْخ ابو حَامِد رَحمَه الله يَقُول يسْتَأْنف الْقِرَاءَة وَالْأول أصح وَهُوَ اخْتِيَار القَاضِي أبي الطّيب رَحمَه الله
وَتجب قِرَاءَة الْفَاتِحَة فِي كل رَكْعَة
وَقَالَ أَبُو حنيفَة لَا تجب الْقِرَاءَة فِي أَكثر من رَكْعَتَيْنِ
وَقَالَ مَالك إِذا قَرَأَ فِي أَكثر رَكْعَات الصَّلَاة أَجزَأَهُ وروى أَيْضا عَنهُ نَحْو قَوْلنَا
وَقَالَ الْحسن الْبَصْرِيّ إِن قَرَأَ فِي رَكْعَة وَاحِدَة أَجزَأَهُ
وَهل تجب الْقِرَاءَة على الْمَأْمُوم فِي الصَّلَاة الَّتِي يجْهر فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فِيهِ قَولَانِ أصَحهمَا أَنَّهَا تجب
وَالثَّانِي أَنَّهَا لَا تجب وَبِه قَالَ مَالك وَأحمد وَدَاوُد
وَقَالَ أَبُو حنيفَة وَالثَّوْري لَا يقْرَأ الْمَأْمُوم بِحَال
فَإِذا قُلْنَا بِالثَّانِي فجهر الإِمَام بِالْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاة الَّتِي يسر فِيهَا فَهَل يسْقط فرض الْقِرَاءَة عَنهُ فِيهِ وَجْهَان
أَحدهمَا يسْقط وَبِالْعَكْسِ من هَذَا وَأسر بِالْقِرَاءَةِ فِي صَلَاة الْجَهْر فِيهِ وَجْهَان وعَلى هَذَا لَو كَانَ بَعيدا عَن الإِمَام بِحَيْثُ لَا يسمع هَل يقْرَأ على وَجْهَيْن ذكر ذَلِك كُله القَاضِي حُسَيْن
وَالصَّحِيح أَن تعْتَبر حَال الصَّلَاة فِي وَضعهَا وَلَا يتَغَيَّر فَرْضه بإساءة الإِمَام بالجهر فِي مَوضِع الْإِسْرَار خَاصَّة
فَإِن ترك الْقِرَاءَة نَاسِيا لم تصح صلَاته فِي قَوْله الْجَدِيد
وَقَالَ فِي الْقَدِيم تصح صلَاته
وَيجوز أَن يقْرَأ من الْمُصحف فِي الصَّلَاة نَاظرا وَبِه قَالَ مَالك وَأَبُو يُوسُف وَمُحَمّد
وَقَالَ أَبُو حنيفَة تبطل صلَاته إِذا قَرَأَ من الْمُصحف إِلَّا أَن يقْرَأ آيَة قَصِيرَة
Kitab hilyatul ulama' juz 2 yal 84_88.

Kamis, 24 Agustus 2017

HUKUM MEMBAWA/MEMBACA ASMA ALLAH DI WC

KESIMPULAN TEAM DHF
HUKUM MEMBAWA/MEMBACA ASMA ALLAH DI WC
---------------------------------
PERTANYAAN
Assalamu'alaikum...
Mau Nanya..??? Boleh kah lafadz Allah Di bawa ke kamar mandi.. biasa kan di jadi kan buah kalung oleh kaum hawa mohon jwbn ny..
Mksh..
JAWABAN PARA MUJAWWIB DHF
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Hukumnya makruh membawanya, dan sunnah dilepas
روضة الطالبين وعمدة المفتين ج 1 - الصفحة 66 النووي
واستصحاب ما عليه ذكر الله تعالى على الخلاء مكروه لا حرام
Membawa sesuatu yang terdapat asma Allah dikamar kecil hukumnya makruh, tidak haram. [ Raudha at-Thaalibiin I/66 ].
مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ج 1 – الصفحة 40 محمد الخطيب الشربيني
( ولا يحمل ) في الخلاء ( ذكر الله تعالى ) أي مكتوب ذكر من قرآن أو غيره حتى حمل ما كتب من ذلك في درهم أو نحوه تعظيما له واقتداء به صلى الله عليه وسلم فإنه كان إذا دخل الخلاء نزع خاتمه وكان نقشه ثلاثة أسطر محمد سطر و رسول سطر و الله سطر رواه ابن حبان في صحيحه عن أنس …وحمل ما عليه ذكر الله تعالى على الخلاء مكروه لا حرام ومثل ذلك اسم رسوله وكل اسم معظم كما في الكفاية تبعا للإمام قال المصنف في التنقيح ولعل المراد الأسماء المختصة بالله ونبيه مثلا دون ما لا يختص ك عزيز و كريم و محمد و أحمد إذا لم يكن ما يشعر بأن المراد اه
Dan janganlah membawa sesuatu yang terdapat asma Allah dikamar kecil (artinya sesuatu tertulis asma Allah baik berupa alQuran atau lainnya meskipun ditulisnya pada logam uang dirham atau sejenisnya untuk mengagungkan asma Allah dan mengikuti baginda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, “Adalah Nabi Muhammad saat memasuki kamar kecil selalu mencopot cincinnya yang didalamnya terukir tiga tulisan ‘Muhammad, Rosuul dan Allah”. (HR. Ibn Hibban).
Membawa yang demikian hukumnya makruh tidak haram, begitu juga membawa sesuatu yang tertulisi asma utusan Allah dan setiap asma-asma yang diagungkan seperti keterangan dalam kitab al-Kifaayah.
Pengarang berkata “Yang dimaksud adalah asma-asma yang memang keberadaannya khusus dan tertentu milik Allah dan nabiNya berbeda dengan yang tidak khusus seperti ‘Aziiz, Kariim, Muhammad dan ahmad’ bila memang tujuannya tidak mengarah pada Allah dan nabiNya. [ Mughni al-Muhtaaj I/40 ].
SUNAH DILEPAS
- 1 - يستحب أن ينحي عنه ما عليه ذكر الله ولو في حجاب ما لم يكن موضوعا في مادة تمنع نفوذ الرائحة إليه لحديث أنس بن مالك رضي الله عنه قال : " كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا دخل الخلاء نزع خاتمه " ( الترمذي ج 4 / كتاب اللباس باب 16 / 1746 ) وفي الصحيحين أن نقش خاتمه صلى الله عليه و سلم كان : محمد رسول الله " ( انظر البخاري ج 5 / كتاب اللباس باب 52 / 5539 )
[ Fiqh al-Ibaadah as0Syaafi’I I/70 ].
Wallaahu A'lamu Bis Showaab.
Ibaroh senada
.annajmul wahhaj fii syarhil minhaj juz 1 hal 287
Lafadz ولايحمل.. الخ
Larangan tersbut hny bersifat sunnah utk tdk mmbawa asma2 Allah dan asma2 agung lain nya sprti asma RASULALLAH DAN PARA ANBIYA' Sbgi wujud ta'dzim mengagungkan.
Dsamping itu itba' kepada Rasulallah ketika memasuki kmar mandi melpas cincin nya terlebih dahulu.
ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺤ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﺫ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ, ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﺪ ‍ﺟ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﻩ‍,
‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍: (‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺤ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﺫ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ), ‍ﺃ‍ﻱ‍: ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﺫ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﻈ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻦ‍ ‍ﻣ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﺎ‍ﺫ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺍ‍ﺕ‍, ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺒ‍‍ﻲ‍ ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺳ‍‍ﻠ‍‍ﻢ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺇ‍ﺫ‍ﺍ ‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻠ‍‍ﺎﺀ .. ‍ﻧ‍‍ﺰ‍ﻉ‍ ‍ﺧ‍‍ﺎ‍ﺗ‍‍ﻤ‍‍ﻪ‍, ‍ﺻ‍‍ﺤ‍‍ﺤ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﺎ‍ﻛ‍‍ﻢ‍ [١/ ١٨٧] ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﺬ‍ﻱ‍ [١٧٤٦] ‍ﻭ‍ﺍ‍ﺑ‍‍ﻦ‍ ‍ﺣ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ [١٤١٣], ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﻌ‍‍ﻔ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﺑ‍‍ﻮ ‍ﺩ‍ﺍ‍ﻭ‍ﻭ‍ﺩ [٢٠] ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻨ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺋ‍‍ﻲ‍ [٨/ ١٧٨].
‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻮ‍ﺍ: ‍ﺇ‍ﻧ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻧ‍‍ﺰ‍ﻋ‍‍ﻪ‍; ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﺤ‍‍ﻤ‍‍ﺪ ‍ﺭ‍ﺳ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍, ‍ﻛ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ (‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﺤ‍‍ﻴ‍‍ﺢ‍).
‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﺑ‍‍ﻦ‍ ‍ﺣ‍‍ﺒ‍‍ﺎ‍ﻥ‍: ‍ﻭ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﺖ‍ ‍ﺛ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﺛ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﺳ‍‍ﻄ‍‍ﺮ ‍ﻣ‍‍ﺤ‍‍ﻤ‍‍ﺪ ‍ﺳ‍‍ﻄ‍‍ﺮ, ‍ﻭ‍ﺭ‍ﺳ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺳ‍‍ﻄ‍‍ﺮ, ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺳ‍‍ﻄ‍‍ﺮ, ‍ﻭ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﺖ‍ ‍ﺗ‍‍ﻘ‍‍ﺮ‍ﺃ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺃ‍ﺳ‍‍ﻔ‍‍ﻠ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﻜ‍‍ﻮ‍ﻥ‍ ‍ﺍ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻮ‍ﻕ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺠ‍‍ﻤ‍‍ﻴ‍‍ﻊ‍.
‍ﻭ‍ﺃ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻖ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻐ‍‍ﺰ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺭ‍ﺳ‍‍ﻮ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﺻ‍‍ﻠ‍‍ﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺳ‍‍ﻠ‍‍ﻢ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺫ‍ﻟ‍‍ﻚ‍.
‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻝ‍ ‍ﺍ‍ﺑ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﺡ‍: ‍ﻟ‍‍ﻢ‍ ‍ﻳ‍‍ﻮ‍ﺟ‍‍ﺪ ‍ﻫ‍‍ﺬ‍ﺍ ‍ﻟ‍‍ﻐ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍, ‍ﻭ‍ﻗ‍‍ﺪ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻓ‍‍ﻘ‍‍ﻪ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻓ‍‍ﻌ‍‍ﻲ‍, ‍ﻓ‍‍ﻲ‍‍ﺣ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﺃ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺟ‍‍ﺪ‍ﻩ‍ ‍ﻟ‍‍ﻐ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍.
‍ﻭ‍ﻛ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺈ‍ﻣ‍‍ﺎ‍ﻡ‍ ‍ﻳ‍‍ﺸ‍‍ﻌ‍‍ﺮ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍; ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﺃ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﻖ‍ ‍ﺑ‍‍ﻪ‍ ‍ﻛ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﻣ‍‍ﻌ‍‍ﻈ‍‍ﻢ‍, ‍ﻓ‍‍ﻲ‍‍ﺩ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍‍ﻩ‍ ‍ﺃ‍ﺳ‍‍ﻤ‍‍ﺎﺀ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺄ‍ﻧ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﺎﺀ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺮ‍ﺳ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻬ‍‍ﻢ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺼ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﺓ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﻠ‍‍ﺎ‍ﻡ‍.
Begitu juga makruh hukum nya mmbawa asma Allah dan Asma rasulallah ke kamar mandi
Sbgaimna ketragan dlm kitab fathul wahhab bisyarhil minhajuttullab. Juz 1 hal 12
ﺳ‍‍ﻦ‍ ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﺎ‍ﺿ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﺎ‍ﺟ‍‍ﺔ ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻡ‍ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﻩ‍ ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻗ‍‍ﻀ‍‍ﺎ‍ﺋ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻤ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﺼ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻓ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻨ‍‍ﺤ‍‍ﻲ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﻌ‍‍ﻈ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻌ‍‍ﺘ‍‍ﻤ‍‍ﺪ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﻩ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﻘ‍‍ﺒ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﺒ‍‍ﻠ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺪ‍ﺑ‍‍ﺮ‍ﻫ‍‍ﺎ ‍ﺑ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺗ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺤ‍‍ﺮ‍ﻣ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﺑ‍‍ﺪ‍ﻭ‍ﻧ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﻏ‍‍ﻴ‍‍ﺮ ‍ﻣ‍‍ﻌ‍‍ﺪ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺒ‍‍ﻌ‍‍ﺪ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﺘ‍‍ﺮ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﻜ‍‍ﺖ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﻀ‍‍ﻲ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﻣ‍‍ﺎﺀ ‍ﺭ‍ﺍ‍ﻛ‍‍ﺪ.
___________________syarahnya____
‍
‍ﻓ‍‍ﺼ‍‍ﻞ‍: ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺁ‍ﺩ‍ﺍ‍ﺏ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻠ‍‍ﺎﺀ ‍ﻭ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﺳ‍‍ﺘ‍‍ﻨ‍‍ﺠ‍‍ﺎﺀ
" ‍ﺳ‍‍ﻦ‍ ‍ﻟ‍‍ﻘ‍‍ﺎ‍ﺿ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺤ‍‍ﺎ‍ﺟ‍‍ﺔ " ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺝ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻗ‍‍ﺒ‍‍ﻞ‍ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﺩ‍ﺑ‍‍ﺮ ‍ﺑ‍‍ﺮ‍ﺃ‍ﻱ‍ ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﺮ‍ﻳ‍‍ﺪ ‍ﻗ‍‍ﻀ‍‍ﺎ‍ﺋ‍‍ﻬ‍‍ﺎ " ‍ﺃ‍ﻥ‍ ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻡ‍ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﻩ‍ ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻜ‍‍ﺎ‍ﻥ‍ ‍ﻗ‍‍ﻀ‍‍ﺎ‍ﺋ‍‍ﻬ‍‍ﺎ ‍ﻭ‍ﻳ‍‍ﻤ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ‍ﻧ‍‍ﺼ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻓ‍‍ﻪ‍ " ‍ﻋ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ ‍ﻟ‍‍ﻤ‍‍ﻨ‍‍ﺎ‍ﺳ‍‍ﺒ‍‍ﺔ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺭ ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻤ‍‍ﺴ‍‍ﺘ‍‍ﻘ‍‍ﺬ‍ﺭ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﻴ‍‍ﻦ‍ ‍ﻟ‍‍ﻐ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺘ‍‍ﺼ‍‍ﺮ‍ﻳ‍‍ﺢ‍ ‍ﺑ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﺴ‍‍ﻨ‍‍ﻴ‍‍ﺔ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺯ‍ﻳ‍‍ﺎ‍ﺩ‍ﺗ‍‍ﻲ‍ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻱ‍ ‍ﺑ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﺫ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﺃ‍ﻋ‍‍ﻢ‍ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﺑ‍‍ﻘ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻳ‍‍ﻘ‍‍ﺪ‍ﻡ‍ ‍ﺩ‍ﺍ‍ﺧ‍‍ﻞ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﻠ‍‍ﺎﺀ ‍ﻳ‍‍ﺴ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﻩ‍ ‍ﻭ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺨ‍‍ﺎ‍ﺭ‍ﺝ‍ ‍ﻳ‍‍ﻤ‍‍ﻴ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍
Point ibaroh nya👇👇👇
" ‍ﻭ " ‍ﺃ‍ﻥ‍ " ‍ﻳ‍‍ﻨ‍‍ﺤ‍‍ﻲ‍ " ‍ﻋ‍‍ﻨ‍‍ﻪ‍ " ‍ﻣ‍‍ﺎ ‍ﻋ‍‍ﻠ‍‍ﻴ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﻌ‍‍ﻈ‍‍ﻢ‍ " ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻗ‍‍ﺮ‍ﺁ‍ﻥ‍ ‍ﺃ‍ﻭ ‍ﻏ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻩ‍ ‍ﻛ‍‍ﺎ‍ﺳ‍‍ﻢ‍ ‍ﻧ‍‍ﺒ‍‍ﻲ‍ ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﻈ‍‍ﻴ‍‍ﻤ‍‍ﺎ ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﺣ‍‍ﻤ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ ‍ﻣ‍‍ﻜ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﻩ‍ ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﺣ‍‍ﺮ‍ﺍ‍ﻡ‍ ‍ﻗ‍‍ﺎ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻓ‍‍ﻲ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﺮ‍ﻭ‍ﺿ‍‍ﺔ ‍ﻭ‍ﺗ‍‍ﻌ‍‍ﺒ‍‍ﻴ‍‍ﺮ‍ﻱ‍ ‍ﺑ‍‍ﺬ‍ﻟ‍‍ﻚ‍ ‍ﺃ‍ﻋ‍‍ﻢ‍ ‍ﻭ‍ﺃ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﻰ ‍ﻣ‍‍ﻦ‍ ‍ﻗ‍‍ﻮ‍ﻟ‍‍ﻪ‍ ‍ﻭ‍ﻟ‍‍ﺎ ‍ﻳ‍‍ﺤ‍‍ﻤ‍‍ﻞ‍ ‍ﺫ‍ﻛ‍‍ﺮ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ﻪ‍ "

Senin, 21 Agustus 2017

HUKUM MUSIK DAN SHOLAWAT YANG DI IRINGI MUSIK

HUKUM MUSIK DAN SHOLAWAT YANG DI IRINGI MUSIK
assalamu alaikum
saya suka mendengar musik, terutama musik religi dan solawatan..
akan tetapi saya pernah mendengar salah satu ustad, mengatakan bahwa musik haram,,,
nah bagaimna penjelasan yg sebenarnya ?
apakah musik memang haram ?
monggo tadzz
JAWAB:

Alat-Alat Muzik Yang Ditegah/Diharamkan
Dalam beberapa buah hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ada menyebutkan jenis-jenis alat muzik yang diharamkan. Adapun alat-alat muzik yang ditegah oleh syara‘ itu ialah:
1. Al-Ma‘azif iaitu sejenis alat muzik yang bersenar (bertali) banyak.
2. Al-Mazamir iaitu alat muzik yang ditiup seperti seruling.
3. Al-Awtar atau Al-‘ud iaitu alat muzik yang bertali sejenis kecapi.
4. Al-Thabl atau Al-Kubah iaitu gendang kecil yang ramping di tengah.
5. Al-Kamanjah iaitu Biola.
6. Al-Rabab iaitu alat bunyian (seperti biola) yang bertali dua atau tiga.
7. Al-Shanj iaitu canang, berupa dua piring kekuningan yang diadu.
8. Al-Junk atau Al-Thunbur iaitu alat muzik yang dipetik yang mempunyai leher panjang dan mempunyai tali daripada tembaga (berasal dari Parsi).
Pengharaman alat-alat muzik yang dinyatakan di atas berdasarkan hadis-hadis berikut;
1. Diriwayatkan daripada Abu Umamah
Radhiallahu ‘anhu telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
Maksudnya: "Bahawa Allah Azza wa Jalla telah membangkitkan saya menjadi Nabi dengan membawa hidayat dan rahmat kepada orang-orang mukminin dan Allah telah memerintahkan saya menghapuskan alat ma‘azif (alat bunyi-bunyian) dan alat-alat mazamir (seperti seruling) dan alat-alat awtar (bunyi-bunyian bertali), salib (cross)dan perkara-perkara jahiliah... * (Hadis riwayat Abu Daud dan At-Thayalisy).
2. Ahmad bin Mani‘ Al-Harits Ibnu Abu Usamah pula meriwayatkan dengan lafaz: Maksudnya: "Bahawa Allah ‘Azza wa Jalla telah membangkitkan saya (menjadi Nabi) dengan membawa rahmat dan hidayat kepada sekalian alam dan Allah telah memerintahkan saya menghapuskan mazamir, ma‘azif, arak dan berhala-berhala yang disembah pada zaman jahiliah (dan sekarang) dan Tuhan saya telah bersumpah dengankebesaranNya dan kekuasaanNya...*
3. Hadis ini disokong oleh hadis riwayat Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang telah berkata: Maksudnya: "Kubah itu haram, dannu itu haram, ma‘azif (alat muzik bertali) itu haram dan alat muzik jenis bertiup itu haram" (Hadis riwayat Ahmad)
4. Di riwayatkan oleh Al-Bazzar daripada riwayat Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maksudnya: "Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkan bangkai, judi dan kubah yakni thanbur (bukan thunbur perang)".
5. Dalam hadis yang lain Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maksudnya: "Ditukarkan keadaan satu golongan daripada umatku kepada keadaan yang lebih buruk dengan sebab mereka meminum arak dan bermain kubah (sejenis gendang) dan ma‘azif".
6. Daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma bahawa Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Maksudnya: "Aku diperintahkan untuk membinasakan alat gendang dan alat hiburan yang ditiup" (Hadis riwayat Ad-Dailami)
Demikian beberapa hadis yang menjadi dalil tentang haramnya alat-alat hiburan (muzik). Para ulama mazhab Al-Syafi‘e juga telah menghukumkan bahawa alat-alat muzik itu adalah haram, sebagaimana yang disebutkan oleh hadis di atas.
Dalam kitab Al-Muhadzdzab karangan Imam Abu Ishak Al-Syirazi menjelaskan bahawa
haram menggunakan alat-alat (muzik) yang dibunyikan (dipanting atau digendang) tanpa
ada lagu seperti ‘ud , thaunbur, ma‘azifah ,
thabl (gendang) dan mizmar. Adapun dalil haramnya bermain muzik itu sekalipun tidak diiringi dengan lagu berdasarkan firman Allah:
Tafsirnya:"Dan ada di antara manusia; orang yang memilih serta membelanjakan hartanya kepada cerita-cerita dan perkara-perkara hiburan yang melalaikan; yang berakibat menyesatkan (dirinya dan orang ramai) daripada agama Allah". (Surah Luqman: 6)
Menurut Ibnu ‘Abbas maksud tafsir "perkara hiburan yang melalaikan " itu adalah alat-alat hiburan . (Al-Muhadzdzab: 2/457)
Begitu juga dalam kitab Hasyiah Qalyubi wa ‘Umairah, Imam An-Nawawi menyebutkan bahawa makruh menyanyi dengan tidak disertai alat (muzik) dan mendengarnya, dan adalah haram menggunakan alat (muzik) yang menjadi syiar peminum-peminum (arak) seperti thunbur , ‘ud , shanj dan mizmar Iraqi dan (haram) mendengarnya. (Hasyiah Qalyubi wa Umairah: 4/321)
Imam Ibnu Hajar pula menyebutkan dalam kitabnya Al-Zawajir bahawa Abu Al-Abbas Al-Qurtubi telah berkata: "Adapun alat-alat muzik yang ditiup ( al-mazamir ), alat-alat muzik yang bertali ( al-awtar ), alat-alat muzik yang digendang ( kubah ), maka tiada perselisihan ulama pada mengharamkan mendengarnya dan aku tidak mendengar seorang pun daripada ulama yang muktabar sama ada daripada ulama salaf dan juga khalaf yang berpendapat mengharuskannya. Dengan hal yang demikian tidak syak lagi pada mengharamkannya dan tentang fasik dan berdosanya orang yang melakukannya, kerana ia adalah syiar (tanda dan lambang) bagi penggemar-penggemar arak dan penyokong-penyokong perbuatan fasik".
Sesungguhnya ulama-ulama dalam mazhab Syafi‘e bukanlah satu-satunya mazhab yang mengharamkan hampir kesemua alat-alat muzik, bahkan kita dapati juga ulama-ulama mazhab lain seperti ulama mazhab Hanafi dan Hanbali berpendapat
Alat musik itu diharamkan karena di dalamnya bisa menghalangi dzikir pada ALLOH,lalai pada sholat,dan bisa memisah taqwa dan cenderung pada hawa nafsu dan terlena atas kemaksiatan

Refrensi:

إتحاف السادة المتقين الجزء السادس صحيفة 501 ما نصه :
ومنها ألة اللهو المحرمة كاالطبنور والرباب والمزمار وجميع المزامير والشباة من جملتها، وإنما حرمت هذه الأشياء لما فيها من الصد عن ذكر الله وعن الصلاة ومفارقة التقوى والميل إلى الهوى والانغماس في المعاصي.
إسعاد الرفيق صحيفة 103 ما نصه :
ومنها الاستماع إلى التزمير بنحو المزمار بكسر الميم وإلى الضرب بنحو الطبنور بضم الطاء كصنج بفتح أوله وهو صفر يجعل عليه أوتار يضرب بها أو قطعتان من صفر تضرب إحداهما بالأخر وكذا في شيء من سائر باقي الأصوات المحرمة المضطربة غيرها من الأوتار لأن اللذة الحاصلة منها تدعو إلى فساد كشرب خمر ولأنها شعار أهل الفسق كما مر. إهـ.
إحياء علوم الدين الجزء الثالث صحيفة 269 ما نصه :
ولا يستثنى من هذه إلا الملاهي والأوتار والمزامير التي ورد الشرع بالمنع منها لا لذاتها. إهـ.وقد ذكر المصنف أن القياس الحل لولا ورود الأخبار وكونها صارت شعار أهل الشرب. إهـ.
[ Ihya’ Ulumuddin juz II halaman 287 ].

العارض الخامس في الآلة بأن تكون من شعار أهل الشرب أو المخنثين وهي المزامر والأوتار وطبل الكوبة فهذه ثلاثة أنواع ممنوعة وما عدا ذلك يبقى على أصل الإباحة
والمسموع المباح: مثل الصوت الحاصل بالتغني والألحان، بخلاف الصوت الحاصل من آلات اللهو والطرب المحرمة - كالوتر - فهو حرام يجب كف النفس من سماعه.
اعانة الطالبين ج٢ ص٢٨

Suara yg boleh didengar salah satunya adalah nyanyian (nyanyian yg tidak ada unsur keharaman n tdk melalaikan).
Beda halnya jika suara yg keluar dari alat musik sperti gitar dan sejenisnya. Maka haram mendengarkannya, bhkan wajib menahan diri dari mndengarnya.

sholawat yg di sertai musik ulama berbeda pendapat
Tentunya yg biasa kita dengar jika shalawat itu ya dgn hadrah/dufuf. Jika yg ditanyakan itu musik dari hadrah ya tidak masalah.

أعلنوا هذا النكاح، واجعلوه في المساجد، واضربوا عليه بالدفوف، وليولم أحدكم ولو بشاة، رواه الطبراني
اعانة الطالبين ج٣ ص٣١

apa bila sholawat tersebut di iringi dgn alat alat musik yg di haramkan maka ulama ikhtilaf/berbeda pendapat dlm mnyikapi nya;
Menurut Qoul Ashoh tidak dapat pahala
Menurut Muqobilul Ashoh dapat pahala

الجمل على المنهج الجزء الخامس ص: 380
( قوله أما مع الآلة فهو محرمان ) وهذا ما مشى عليه الشارح والذى مشى عليه م ر فى شرحه أن الغناء مكروه وعلى ما هو عليه والآلة محرمة وعبارته ومتى اقترن بالغناء آلة محرمة فالقياس كما قاله الزركشى تحريم الآلة فقط وبقاء الغناء على الكراهة إهـ.
2. غاية الوصول ص: 31
(و) الأصح ( أنه ) اى فاعلها على القول بصحتها ( لا يثاب ) عليها عقوبة له عليها من جهة الغصب وقيل يثاب عليها من جهة الصلاة وإن عوقب من جهة الغصب فقد يعاقب بغير حرمان الثوب أو بحرمان بعضه.
المفتيعطية صقر .مايو 1997
المبادئالقرآن والسنة
السؤالما حكم الدين فيما نراه فى بعض حلقات الذكر من الضرب بالدفوف والمزامير وغيرها؟
الجوابنقل القرطبى عن أبى بكر الطرطوشى رحمهما اللّه تعالى أنه سئل عن قوم يجتمعون فى مكان يقرءون شيئا من القرآن ، ثم ينشد لهم منشد شيئا من الشعر فيرقصون ويطربون ويضربون بالدف والشبابة ، هل الحضور معهم حلال أم لا؟ فأجاب : مذهب الصوفية أن هذا بطالة وجهالة وضلالة إلى آخر كلامه ، قلت : وقد رأيت أنه أجاب بلفظ غير هذا، وهو أنه قال :مذهب الصوفية بطالة وجهالة وضلالة ، وما الإِسلام إلا كتاب اللّه وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وأما الرقص والتواجد فأول من أحدثه أصحاب السامرى لما اتخذ لهم عجلا جسدا له خوار قاموا يرقصون حوله ويتواجدون ، فهو دين الكفار وعبَّاد العجل ، وإنما كان مجلس النبى صلى الله عليه وسلم مع أصحابه كأنما على رءوسهم الطير من الوقار. فينبغى للسلطان ونوابه أن يمنعوهم من الحضور فى المساجد وغيرها، ولا يحل لأحد يؤمن باللّه واليوم الآخر أن يحضر معهم ولا يعينهم على باطلهم .هذا مذهب مالك والشافعى وأبى حنيفة وأحمد وغيرهم من أئمة المسلمين . "حياة الحيوان الكبرى للدميرى- العجل "فتاوى الأزهر ج 10 ص 310

Al Qurthubi telah menuqil dari Abu Bakar al Thurthusyi rha, beliau pernah ditanya mengenai kaum yang berkumpul dalam suatu tempat yang disitu mereka membaca sebagian ayat Qur’an kemudian mereka melantunkan syair lalu mereka menari dan memukul terbang. Apakah menghadiri perkumpulan mereka itu dihalalkan atau tidak? Beliau menjawab, “Menurut mazhab shufi bahwa perbuatan itu adalah suatu kebodohan dan kesesatan…….dst.” namun, aku berkata, “Aku telah melihat kalau beliau pernah menjawab permasalahan itu dengan perkataan selain itu. Yaitu beliau pernah berkata, “Menurut mazhab shufi bahwa perbuatan itu adalah suatu kebodohan dan kesesatan.
Tidaklah dalam Islam melainkan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw. Adapun menari dan berkasih-kasihan, maka orang yang memulainya adalah teman-teman Samiri disaat dia telah berhasil membuat patung anak sapi bisa bersuara. Mereka berdiri, menari disekeliling anak sapi itu dan berkasih-kasihan, dan itu adalah perbuatan agama orang-orang kafir dan para penyembah anak sapi. Sedangkan majlis Nabi saw bersama para sahabat adalah seakan-akan diatas kepala mereka terdapat burung, karena ketenangan dan keantengan mereka. Sebaiknya, bagi para penguasa dan para wakilnya untuk melarang mereka dari mendatangi masjid-masjid dan lainnya, dan tidaklah halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menghadirinya dan tidak juga membantu kebatilan mereka.Demikian itu adalah mazhab Malik, syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad dan dan para imam lainnya. “Hayatul Hayawanan al Kubra lil Damiri – al ‘Ajal (anak sapi jantan) Fatawiy Al-Azhar juz 10 hal. 310.”
والله اعلم بالصواب



MEMAKAI CELAK SAAT PUASA

KESIMPULAN TEAM DHF HUKUM MEMAKAI CELAK MATA SAAT BERPUASA ----------------------------- 📝 PERTANYAAN: assalamu'alaikum ...